03 October 2011


oleh : Hamzah Palalloi

Ketika pertama kali disampaikan oleh atasan saya di kantor (Pak Sadarman), tentang kesiapan menulis buku yang berkisah kilas balik kepemimpinan Walikota Baubau, Bapak H. Mz. Amirul Tamim pada masa kepemimpinannya sejak tahun 2003 silam hingga tahun 2011, saya langsung menjawab sigap, “Siap Pak”. Saya pikir menulis tentang Pak Amirul, sungguh mudah apalagi telah mengenalnya selama beliau menjabat Walikota. Namun kenyataannya tidak segampang yang saya pikirkan, sebab Pak Amirul sosok yang penuh dinamika dan visinya begitu luas dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Masalah utama yang saya temukan adalah bangaimana mengkristalisasi, merangkum ide dan gagasan serta apa yang telah dilakoni kepemimpinan Pak Amirul selama menjabat sebagai walikota. Olehnya, saya menawar perintah itu dengan ajakan pada Pak Sadarman, untuk ’berduet’ sebagai penulis. Saya paham Pak Sadarman jauh lebih mengenal Pak Amirul ketimbang saya. Apalagi beliau pernah mendampingi Pak Amirul saat menjadi camat di Betoambari selaku Juru Penerangan (Jupen). Selain itu, Pak Sadarman punya pengalaman sebagai Jupen Teladan Nasional di tahun 1990-an. Ajakan saya bersambut, dan akhirnya kami berdua berupaya menyelesaikan penulisan buku ini. Mungkin sangat sederhana, tetapi itulah kemampuan kami dengan harapan hanya menjawab satu pernyataan, ”Siapapun walikotanya, tugas kami selaku aparat di bidang komunikasi, informasi dan pengolahan data adalah merekam apa yang berlangsung di daerah kami, termasuk pendokumentasian kegiatan kepala daerah”.

Pikiran seperti itu dilatar-belakangi karena banyaknya upaya penulisan buku sejenis biasanya mengarah pada pengkultusan seorang figur kepala daerah, yang ujug-ujug mengarah pada ranah politik atau untuk kepentingan tertentu belaka. Kami berdua sepakat untuk tidak mengarahkan pembaca ke arah itu, tetapi berharap suatu saat nanti bisa menjadi pelajaran berarti bagi generasi mendatang, sekaligus menjadi kenangan bahkan literasi bagi sosok-sosok kepala daerah di Kota Baubau atau daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Sekedar diketahui, materi tulisan buku ini juga tidak pernah dibaca detail oleh Pak Amirul sendiri. Beliau hanya mengetahui bila kami berdua membuat buku kilas balik kepemimpinan Pak Amirul sebagai Walikota. Itu saja. Begitu juga soal anggaran penerbitan, sangat terbatas karena menyesuaikan anggaran kantor kami yang memang terbatas keadaannya. Kami berdua hanya berkomitmen untuk menghasilkan sesuatu yang baik dan bisa dirasakan manfaatnya dalam setiap era kepemimpinan seorang kepala daerah dan lebih khusus kepada segenap warga Kota Baubau. Tidak lebih dari itu.

Olehnya, kami tidak bisa menafikkan jika isi dan materi buku ini ketika terbaca ke publik ditemukan kelemahan-kelamahan metodologi, alur, hingga konten yang masih simpang siur. Sebab buku ini bukanlah biografi yang paten dan terstruktur serta menggunakan teori-teori berparadigma kualitatif murni. Hanya untuk memudahkan pembaca memahami buku ini, kami pilah menjadi beberapa bagian, dengan harapan memudahkan pembaca menyerap materi yang disampaikan. Seandainya, masih ditemukan bahasa dan pembahasan yang masih jelimet, itulah kekurangan kami, dengan harapan ada respon balik yang bersifat saran konstruktif, untuk kedepan menjadi perhatian dan pelajaran pada penerbitan buku-buku selanjutnya.

Kekurangan-kekurangan itu bisa terjadi karena limit waktu penulisan buku ini tidak lebih dari dua bulan lamanya, dan kami juga tidak menafikkan jika beberapa bagian dari materi buku ini berasal dari serapan tulisan dari berbagai media massa yang pernah mempublikasikan sosok Pak Amirul. Etikanya, kami tetap menampilkan identitas media yang pernah mempublikasikannya, seperti Tempo, Harian Sinar Harapan dan beberapa media lokal di daerah.  Tentunya berharap tulisan-tulisan dimaksud untuk semakin menguatkan materi buku, sekaligus menjawab bila buku ini tidak mengarah pada pengkultusan seseorang, utamanya sosok Pak Amirul Tamim.

Spirit utama kami dalam menyelesaikan penulisan buku ini adalah memberi bacaan bermanfaat bagi generasi mendatang bahwa Kota Baubau pernah memiliki kepala daerah bernama Mz. Amirul Tamim, memimpin dua periode, ’ber-ideologi’ Semerbak, dan tercatat sebagai walikota defenitif pertama di Kota Baubau. Kalaupun ada konten politik iklude dalam buku ini semata membaca pikiran-pikiran Pak Amirul yang berdinamika itu. Satu hal penting yang kami ingin sampaikan pada pengantar ini, bahwa kami berupaya semaksimal mungkin menghindari materi yang sifatnya menjatuhkan subjek lain, lalu kemudian memenangkan figur tertentu, demikian pula sebaliknya. Kalaupun pembaca merasa kurang ’sreg’ dengan beberapa materi tulisan, kami sejak awal menyampaikan permohonan maaf, sebab itu tidak lebih dari kekurangan kami sebagai penulis. Ini pula menjadi pemakluman bila kami berdua masih pemula dalam menerbitkan buku-buku yang bertipe seperti ini.

Pada sebuah diskusi kecil kami berdua, Pak Sadarman pernah bertanya pada saya dengan ungkapan, ”Bisakah Pak Hamzah menampilkan ciri lain yang membedakan buku ini dengan buku sejenis yang pernah terbit?” saya menjawabanya sederhana dan juga terkesan acak-acakan bahwasanya seorang penulis tak perlu ragu dengan sebuah penerbitan buku sepanjang, sesuai fakta, beretika. Saya ingat komentar M. Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer dalam testimoni buku yang menulis tentang Akbar Tanjung, seorang politisi di negeri ini. Qodari bilang, ”Kritik Akbar Tanjung lebih baik dijawab saja dengan lebih cerdas lewat disertasi juga, dan tidak sepantasnya hanya dijadikan isu politik”. Kata-kata itu punya maksud analogi yakni kalaupun buku ini dikritik tentu dapat dijawab juga dengan cara yang serupa.

Lalu saya sampaikan pada Pak Sadarman bila saya selalu menaruh minat yang besar terhadap buku-buku yang ditulis setelah terjadi reformasi di negeri ini, tidak saja karena buku-buku itu memperkaya pemahaman kita tentang keadaan mutakhir di negeri ini, tetapi juga karena dalam setiap tulisan selalu dapat ditemukan perspektif yang di dalamnya juga mengajarkan ideologis dan pergumulan intelektual dari penulisnya dalam menemukan makna yang relevan berdasarkan subjektifnya. Olehnya kami berdua sepakat untuk mengangkat satu tema dari kilas balik kepemimpinan H.Mz. Amirul Tamim sebagai Walikota Baubau bertajuk ”Dari Timur Membangun Peradaban”.

Jika dikaji lebih jauh mungkin terkesan hiperbolistik, sebab sangat mengesankan adanya pe-wakilan dari satu sosok person bernama Mz. Amirul Tamim terhadap kata ’timur’ yang bisa dikonotasikan kawasan timur di Indonesia. Apalagi, cukup banyak person-person yang mungkin lebih baik dari subjek buku ini. Hanya secara sederhana, kami berdua mengangkat tema itu karena Pak Amirul sebagai subjek dalam perjalanan kepemimpinannya pernah mencatatkan diri sebagai Ketua Assosiasi Pemerintah Kota (APEKSI) Wilayah VI yang meliputi 15 kota di Kawasan Timur Indonesia, atau secara sederhana disebut ketua APEKSI Kawasan Timur Indonesia. Peradaban yang kami maksudkan, adalah bagaimana ide, gagasan dan tindakan pak Amirul dalam membangun Kota Baubau dimana Harian Kompas pernah melukiskan Kota Baubau dalam tulisan panjang sebagai ’putri cantik di jalur pelayaran dunia’ juga majalah Tempo dengan tulisannya tentang Baubau dengan tajuk ’Oasis di Pulau Buton’. Tulisan-tulisan ini menggambarkan kemajuan Kota Baubau setelah ’ditukangi’ Pak Amirul. Artinya, kita perlu mengapresiasi karya seseorang, tanpa perlu mencari-cari apa kelemahan orang itu, sebab, tak satupun manusia luput dari kekhilafan

Dari semua yang telah kami tulis dalam buku ini, tentu kami berdua hanya bisa bersyukur pada Sang Pencipta atas segala kemudahan yang dianugerahkan. Sebuah kesyukuran yang kami maknai tidak sekedar dalam ritual ibadah pada-Nya, tetapi juga terus berpikir positif tentang makna-makna kehidupan, kepada sesama, kepada rekan sejawat, kepada keluarga yang senantiasa memberi dorongan untuk menyelesaikan semua lakon dan tugas-tugas keseharian.

Akhirnya, semoga buku ini bisa menjadi oase di padang tandus, penyejuk bagi yang suka belajar, hikmah bagi semua orang, dan ingatan bagi kami sebagai penulis. Semoga semua pihak yang mendorong penyelesaian buku ini, mendapat limpahan Rakhmat-Nya, dan semoga bermanfaat!.

**

Penulis

Hamzah Palalloi

Cc : Buku ini telah dibeli oleh Badan Komunikasi Informasi (Kominfo) dan PD Kota Baubau. Bagi pembaca yang ingin mendokumentasikannya, silahkan berhubungan dengan Badan Kominfo dan PD Kota Baubau, setiap hari kerja.

2 comments:

  1. Selamat atas terbitnya buku tersebut. Pada rangkaian acara Dies Natalis FISIP Unhas, Kamis (16/2) kemarin, sy mengikuti bedah buku tersebut. Menarik presentasi pak Walikota dan para penanggap yg terdiri dari prof Sumbangan Baja, Prof Hamka Naping, dan prof Nurul Ilmi Idrus. Terus terang sy ingin menulis dan mereview buku tersebut dalam blog sy karena masih banyak pertanyaan terkait keberhasilan program di Baubau yg terjelaskan oleh walikota. Bagaimana cara mendapatkan bukunya? Pada acara bedah itu sy hanya berhasil mendapatkan buku "Di Kilometer 9", nah untuk buku "Membangun peradaban dari Timur" ini di mana bisa diperoleh? Terima kasih, sekali lagi selamat pada pak Hamzah Palallaoi yg pada acara itu mendapat banyak pujian dari ketiga guru besar unhas...

    ReplyDelete
  2. terima kasih pak ahmad. buku ini memang telah habis terjual. sy masih melihat ada di bandara makassar. toko buku tallasa. saat ini masih dalam cetakan kedua dari buku ini.

    ReplyDelete

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX