22 November 2011


Ketika saya berdiskusi dengan Prof. Dr.  Anwar Arifin, seorang guru besar bidang Komunikasi Politik seputar Jenderal Prabowo Subianto, saya amat terkejut dengan pernyataan beliau yang bagi saya amat sederhana. “Ketika Anda meyakini bahwa Pak Prabowo adalah Presiden RI masa datang, Anda benar, karena sepertinya ini memang momentum Pak Prabowo,” kata Prof. Anwar yang dikenal sebagai pencetus teori pers Pancasila itu, juga dikenal sebagai mantan anggota DPR-RI dua periode, dan mantan anggota Dewan Pers era tahun 1997.


“Momentum apa Prof?” saya bertanya lagi. Beliau menjawab singkat, “Momentum ‘O’. tetapi beliau tidak menjelaskan secara spesifik apa arti huruf ‘O’ dari momentum yang beliau ungkap. Prof Anwar bahkan mengulangnya sekali lagi. “Pak Prabowo itu Momentum ‘O’ silahkan di tulis” katanya. Saya tidak meminta kejelasan lagi, saya takut di cap sebagai mahasiswa yang tak pandai memaknai sebuah bentuk interaksionis simbolik, yang begitu akrab di telinga mahasiswa ilmu komunikasi. Saya hanya teringat tentang konsep ‘Notonegoro’ yang popular sebagai konsep kenegaraan ala Mpu Jayabaya yang kesohor itu. Sebuah konsep yang seolah ‘diplesetkan’ sebagai urut-urutan nama belakang Presiden RI. ‘No’ yang berarti ‘Soekarno’, ‘To’ yang berarti ‘Soeharto’. Atau bahkan ada yang lebih ekstrim bila nama-nama Presiden itu harus berakhir ‘No’ atau ‘To’. Jika tidak, maka hasilnya ‘goro-goro’ (dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai huru-hara).

Jika memang seperti itu, apakah yang dimaksud momentum ‘O’ dari Prof. Anwar sebagai pengkiasan dari huruf ‘O’ sebagai huruf akhir dari nama Prabowo Subianto?. Lagi-lagi beliau tidak menjawabnya secara gamblang. Beliau hanya tersenyum. Saya terus menduga, mungkin pemahaman ‘momentum O’ yang dimaksudkan Prof. Anwar memang seperti itu, namun sebagai akademisi beliau tidak menjawabnya untuk menghindari perbedaan pemahaman, yang kadang dipersempit jika ‘O’ itu lebih dekat dengan etnis tertentu? Padahal nama ‘O’ juga banyak dimiliki etnik-etnik lainnya di Indonesia, dari Sabang sampai Marauke. Sebutlah ‘Baso’ sebagai nama khas dari Bugis-Makassar, atau nama popular bintang Timnas U-23, ‘Tibo alias Titus Bonai’ dari Papua.

Saya hanya mengingat dengan jelas satu kalimat yang kerap di sebut Prof Anwar. “Kalau politisi itu, boleh bohong, tidak boleh salah. Sementara akademisi, boleh salah tidak boleh bohong”. Kalimat-kalimat ini seolah mengantarkan alur berfikir saya tentang sosok Prabowo Subianto, bahwa Prof Anwar mungkin boleh salah dalam berpendapat, tetapi ia tak ingin membohongi kata hatinya, bahwa yang dimaksud dengan momentum ‘O’ itu adalah simbolisasi Notonegoro, yang jika di kait-kaitkan sangat mengena pada nama Prabowo Subianto.

Saya memang sengaja mengajak Prof. Anwar  berdiskusi soal sosok Prabowo Subianto sebagai bentuk izin saya sebagai mahasiswa beliau karena pemikiran-pemikiran beliau dalam beberapa kajian ilmiahnya baik melalui literatur maupun diskusi di kelas banyak saya ‘copy paste’ sebagai pendekatan dalam menulis sosok Pak Prabowo Subianto di blog ini. Saya amat bersyukur dengan Prof. Anwar ketika beliau memberi jawaban. “Anda tak usah minta izin, sebab itu tugas Anda selaku mahasiswa, silahkan gunakan logika secara akademik, tunjukkan kemampuan Anda. Dan yakinlah Anda tidak keliru dalam menentukan pilihan kajian itu, apalagi Pak Prabowo memang sosok pemimpin yang punya reputasi baik di negeri ini,” jelas Prof. Anwar.

Di sisi lain saya juga mencari pendekatan melalui teori momentum dengan sebuah pertanyaan, apakah tahun 2014 mendatang adalah momentum Pak Prabowo untuk tampil menjadi Presiden RI?  Sebab ketika di tahun 2009 silam mencalonkan sebagai Calon Wakil Presiden RI mendampingi Ibu Megawati Soekarno Putri, banyak pendapat public yang menyayangkan hal itu, karena mereka berharap Pak Prabowo sebagai calon Presiden, bukan sebagai Wapres. Sebab Prabowo-lah yang dianggap punya kans untuk mengalahkan reputasi Pak SBY sebagai incumbent waktu itu.

Selanjutnya, jika saja tahun 2014, Pak Prabowo tak sukses menjadi Presiden RI, maka selesai sudah ‘permainan’ Pak Prabowo untuk menjadi pemimpin negeri ini, sebab factor usia kerap menjadi pertimbangan khalayak dalam memilih pemimpinnya. Terkait dengan hal ini, saya ingat ‘teori kekekalan momentum’ dalam ilmu fisika yang mengatakan, istilah ‘momentum’ menujukkan besar tenaga untuk menghentikan benda yang bergerak.  Dalam sistem gerak lurus tanpa gesekan, sekali bergerak, benda akan tetap bergerak, kecuali bila ada hambatan dari luar.

Apakah ini Momentumnya? Bergeraklah!

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX