» » » Sehari Dalam Imaginasi Pak Prabowo

Sehari Dalam Imaginasi Pak Prabowo

Penulis By on 20 November 2011 |


Bentangan pikiran Prabowo Subianto kini benar-benar merasuk dalam jiwa dan pikiran jutaan rakyat Indonesia saat ini. Saya sendiri bingung mengapa sosok ini begitu di elu-elukan rakyat kecil. Mengapa begitu banyak hasil survey menjagokannya untuk tampil sebagai Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan di suksesi kepemimpinan nasional 2014 mendatang. Banyak yang berandai-andai dengan kalimat-kalimat; “Andai saja Pemilihan Presiden itu tidak melewati pintu partai, maka dapat dipastikan Prabowo Subianto-lah, presiden itu, karena rakyat Indonesia begitu membutuhkannya saat ini”.


Saya sediri berpendapat subjektif, jika sebenarnya negara ini mengalami sebuah anomali kepemimpinan nasional. Yakni ketika bangsa ini menginginkan demokrasi yang utuh dan reformis, namun di saat bersamaan belum ada tokoh yang lahir dari era reformasi itu untuk tampil sebagai sosok pemimpin idaman rakyat. Sekian banyak partai di negeri ini pun cenderung di nilai pragmatis, belum senyawa dengan nafas ‘kebebasan’ itu. Partai hanya dinilai mampu melahirkan elit-elit yang realitasnya digambarkan oleh media massa, memiliki banyak ‘pundi-pundi’ serta mampu menghidupi ‘orang-orang’ yang hidup dalam partai itu.

Karenanya rakyat ingin pemilihan sosok Presiden dilakukan langsung tanpa intervensi partai politik. Sayangnya, belum ada regulasi di negara manapun di dunia ini, Presiden tidak diakomodir oleh Partai Politik, bahkan Amerika Serikat sekalipun. Saya sendiri beimajinasi, bagaimana rasanya, pemilihan Presiden tanpa melalui partai politik? Memang rumit sebab akan membutuhkan biaya yang tentu tak sedikit.

Mengapa ada pikiran-pikiran seperti itu? Saya jawab sekali lagi; “karena partai politik dipersepsikan sebagai lembaga yang cenderung koruptif, pragmatif, sehingga rakyat ketika bicara partai politik, maka mereka menjawab, “Malas Ah!”. Tetapi apa mau dikata? Regulasi kepemimpinan kita di negara ini seperti itu adanya. Saya belum memahami banyak bagaimana aturan main di KPU, sehingga tak tahu cari melahirkan Presiden dari calon independent.

Pikiran-pikiran seperti ini, adalah bentuk ketidaksabaran rakyat Indonesia menanti kehadiran Prabowo Subianto. Mengapa begitu dinanti?, karena masalah yang membelit bangsa ini terjawab dengan atribut-atribut sosial sosok Prabowo Subianto. Ia seorang Jenderal dari tentara terbaik di negeri ini, putera Begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo, seorang haji yang nasionalis, pernah dibesarkan dalam lingkup istana negara, memiliki kemapanan ekonomi, pandai dan cerdik mengambil keputusan, tidak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga yang hedonis, dekat dengan rakyat, serta selalu tampil terbuka di depan public, meski media ‘masih malu-malu’ mempublisnya. Kalaupun di mediasi, maka media massa lebih cenderung mempublis hal-hal yang berbau ‘pariwara’, karenanya benar, jika media selalu ‘di cap’ sebagai lembaga yang realitasnya ‘second hand’. Bukan sebenarnya. Maklumlah sebab media punya satu ideology yang disebut ‘agenda setting’.

Konstalasi persepsi media seperti itulah kemudian, muncul jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog untuk menyampaikan apa yang sebenarnya ‘tidak penting’ tetapi ‘penting’ di mata rakyat kebanyakan. Rakyat butuh sapaan langsung, kedekatan langsung, bahkan curhat langsung. Fenomena inilah yang membuat mengapa banyak ‘facebook beraliran prabowoisme’? sebuah fenomena yang pernah hadir di Amerika Serikat ketika Barrack Obama pertama kali menyatakan keinginannya untuk maju pada Pilpres USA. Satu perbedaan mendasar antara Obama dan Prabowo dalam kajian ‘dukungan media jejaring sosial’ yakni Obama tampil karena ‘we need change’ yang pada dasarnya beraroma etnisitas, dimana tampilnya Obama bagi penulis adalah bentuk ‘kejutan politik’ Bangsa Amerika pada dunia internasional, bahwa mereka mampu melahirkan pemimpin dari golongan manapun, bahkan warga kulit hitam sekalipun, yang penting cerdas dan visioner.

Sementara Prabowo Subianto begitu dielu-elukan rakyat Indonesia, karena kontrakdiktif visi kepemimpinan nasional saat ini. Di satu sisi di jual anti korupsi, tetapi dalam jejaring terdekat aroma korupsi itu makin menggurita. Semuanya akibat dari ketidaktegasan, ketidakstabilan, serta nilai-nilai hedonisme yang melekat pada elit-elit yang dekat dengan kekuasaan. Maka untuk menjawab semua itu, maka rakyat bicara “Prabowo-lah yang layak menjadi Presiden itu, Prabowolah yang akan menaikkan harkat dan martabat bangsa ini, Prabowolah yang akan memberi kedaulatan ekonomi rakyat Indonesia itu”. Seperti orang lain, saya juga ingin berpendapat bahwa Sondang Hutagalung, seorang pemuda heroik yang rela membakar diri merupakan bentuk serpihan kontradiktif visi kepemimpinan itu. Belum lagi kasus Mesuji-Lampung yang amat pedih itu. Rakyat menjadi korban.

Melalui tulisan ‘tidak penting’ ini, pada dasarnya saya hanya ingin menggoreskan imaginasi rakyat Indonesia, mengapa ia begitu mengimpikan sosok Prabowo Subianto. Andai saja semua komponen di negara ini termasuk Partai Politik, mau berfikir sama, bervisi sama, dan bersama-sama mencalonkan Prabowo Subianto sebagai Presiden RI, maka tentu tak banyak orang hidup dalam derita politik. Sebab Prabowo tidak sekedar milik Partai tertentu, tetapi ia milik puluhan juta rakyat Indonesia.

Apakah Anda sepakat untuk memilih Prabowo Subianto?
Jika Ya, wujudkan mimpi kita dan pelajari cara untuk memilihnya.
Selamat Berimajinasi, Salam Indonesia Raya!
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya
comments