07 December 2011

Kali ini saya tertarik mencermati siapa ‘disekeliling’ Pak Prabowo Subianto, tentu dengan harapan agar lebih berwarna dan bisa menapaki alam pikir Pak Prabowo di masa depan, ketika negeri ini telah di pimpin oleh beliau. Sebab tak sedikit fakta menujukkan jika ‘sukses-gagalnya’  seseorang banyak dipengaruhi oleh orang terdekatnya. Satu orang yang menurut saya paling berpengaruh adalah adik kandung beliau sendiri, Bapak Hashim Djoyohadikusumo, seorang pengusaha ternama di Tanah Air, yang di dunia politik di kenal sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, mendampingi Sang Kakak..

Saya sendiri agak heran, mengapa Pak Hashim juga ikut larut dengan dunia politik Tanah Air? Setahu saya politik hanya semata berkiprah pada ‘kekuasaan’, sementara Pak Hashim telah memiliki segalanya. Beliau adalah salah satu person ‘terkaya’ di Indonesia, dengan sejumlah perusahaan yang berkibar di mana-mana. Asumsi saya, kalaupun Pak Hashim punya kepedulian di dunia politik, maka cukup menggelontorkan dana untuk pemenangan Pak Prabowo saat Pemilu Presiden 2014 nantinya. Selesai bukan?

Ternyata masalahnya bukan di situ. Saya pernah sekali menyaksikan langsung Pak Hashim berorasi, dan saya menangkap sebait kalimat sebagai jawabannya, bahwa Pak Hashim adalah sosok konglomerat yang ‘Indonesianis’. Selanjutnya, saya sendiri menjawab pertanyaan saya dengan sedikit memuji, bahwa “sangat beruntung Pak Sumitro Djojohadikusumo punya dua putra yang teruji nasionalismenya, yakni Pak Prabowo dan Pak Hashim, wajarlah kemudian jika keduanya berjuang untuk mengembalikan ‘jati diri’ Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat di berbagai sektor.

Asumsi ini pun semakin menguat setelah saya berdiskusi dengan rekan Andy Ahmad Yusuf, Sekjen Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gerakan Rakyat Dukung (Gardu) Prabowo Subianto beberapa waktu lalu. Diskusi ini kemudian membedah pikiran-pikiran Pak Hashim. Amat sederhana tangkapan kesan kami berdua. Pak Hashim adalah sosok pengusaha yang ingin meletakkan ideologi Pancasila sebagai ideologi bernegara ‘semurni-murninya’. Pak Hashim ingin meletakkan kembali Pancasila sebagai ‘jati diri’ bangsa Indonesia yang kini terasa semakin meredup. Pak Hashim ingin menjadikan Pancasila sebagai salah satu ‘mazhab’ ideologi dunia, di tengah ‘tarik menarik’ dua ideologi besar dunia, Liberalisme dan Sosialisme.

Tentu ini amat mengherankan bagi kami berdua. Mengapa seorang konglomerat sekelas Pak Hashim lebih tertarik pada Pancasila? Bukankah seorang pengusaha lebih cenderung menyukai ‘gaya liberalisme’ yang kemudian menghasilkan ekonomi kapitalisme? Dan bukankah ini memang menjadi gaya para konglomerat Indonesia?

Ternyata bagi Pak Hahim, liberalis itu tidak berlaku padanya. Pak Hashim suka dengan gaya ekonomi kerakyatan yang merupakan buah dari ekonomi Pancasila. Saya menyebutnya sebagai ‘Kajian Pengindonesiaan’. Sebuah gaya yang menginginkan agar ekonomi di Indonesia tidak terlalu timpang antara pengusaha dan public kebanyakan. Awalnya saya pikir beliau berhaluan sosialis, ternyata tidak juga. Sebab Pak Hashim paham, bahwa Pancasila adalah merupakan hipotesa dari dua ideologi besar dunia, liberalis dan sosialis. Pancasila bagi Pak Hashim adalah ‘sebuah kemerdekaan berideologi yang mampu menggabungkan penghormatan pada hak-hak kemerdekaan seseorang, menautkan rasa kolektivisme, dan percaya akan adanya capur tangan ‘wahyu’ pada kehidupan seseorang (teocenris). Saya menilainya Pak Hashim adalah sosok yang mentautkan nilai-nilai kerakyatan dan keadilan sosial. Hal ini juga membenarkkan teori-teori ‘ke-pancasila-an’ yang saya pelajari di kampus tempat saya menimba ilmu.

Kepancasilaan Pak Hashim mengingatkan saya pada pendapat Prof Anwar Arifin, pembimbing  saya yang membedah sila ke-empat Pancasila yang di dalamnya terkandung konsep kedaulatan rakyat yaitu kedaulatan berada di tangan rakyat, yang diimplementasikan dengan system perwakilan untuk mengambil keputusan dengan cara bermusyawarah untuk mencapai mufakat. Hal ini mencakup nilai-nilai dasar tentang dialog yakni komunikasi yang bersifat horizontal, setara dan manusiawi berdasarkan kekuatan penalaran dengan argumentasi yang rasional dan saling menghormati. Hal ini bermakna bahwa yang terbaik bagi bangsa Indonesia adalah kesepakatann bersama yang mengandung juga sikap toleransi..

Kedaulatan rakyat bagi Pak Hashim juga di pahami sebagai demokrasi politik sekaligus demokrasi ekonomi, karena harus mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentu yang dimaksudkan di sini adalah, keadilan bidang ekonomi agar setiap orang tidak mengejar dengan bebas keinginan pribadinya dengan menuruti hawa nafsunya. Inilah yang banyak terjadi di Indonesia, karena tak ingin disebut sebagai liberalisme, maka ia kemudian di apologikan  sebagai ‘neoliberalisme’. Keadilan dalam bidang ekonomi merupakan pembagian kekayaan atau rezeki agar orang memperoleh bagian yang wajar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sebagai manifestasi dari kemanusiaan yang adil dan beradab yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa.
------------------------------

Hasil diskusi saya dengan Andy Yusuf Ahmad, mungkin berbeda dengan pikiran-pikiran Pancasila yang dimiliki Pak Hashim, tetapi setidaknya kami bisa menangkap, bahwa Pak Hashim berbeda dengan konglomerat lainnya di Indonesia. Pak Hashim adalah sosok yang mengimpikan adanya ‘kedekatan jarak’ antar orang perorang di negeri ini, baik yang berstatus sebagai orang kaya ataupun yang digolongkan sebagai orang miskin. Mungkin ini pula mengapa kekuatan Pak Hashim dicurahkan penuh buat Pak Prabowo, sang kakak yang tengah berjuang menjadi Presiden RI. Tentu karena visinya sama. Visi Indonesia yang Pancasilais, yang ekonominya terbangun atas azas kekeluargaan, lepas dari kekuatan pasar. Yang disebutnya sebagai ekonomi Pancasila.

Saya bilang sama Bang Andy, suatu saat kelak kami ingin berdiskusi dengan Pak Hashim soal ini, sebab kami punya cita-cita untuk membukukan pikiran-pikiran Pak Hashim dengan Pancasilanya. Saya sendiri telah memasang tagline judulnya. ‘Pak Hashim dan Negara Pancasila’. Tentu bukan bermaksud sebagai pengkultusan, tetapi mencoba mengingatkan kembali bagimana ‘warisan foundhing father’ bangsa ini tetap terpelihara, dan terpakai oleh para konglomerat di negeri ini. Dan momentumnya ada pada diri seorang Hashim Djojohadikusumo. Semoga!!

Mohon Maaf, tulisannya agak serius. Jayalah Negeriku!!

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX