02 January 2012

Quetes : Hamzah Palalloi

Mungkin kita semua meyakini jika semua manusia pernah di uji dengan hal yang bernama ‘kesetiaan’. Kesetiaan pada pasangan hidup, kesetiaan pada keluarga, pada kelompok, organisasi bahkan kesetiaan terhadap bangsa dan negara. Karenanya, sebuah kesetiaan kerap di awali dengan kata penyumpahan, ikrar bahkan ada yang lebih ekstrim, jempol darah.

Tetapi apapun bentuk dari sebuah kesetiaan, tak akan pernah bermakna apa-apa, jika tidak dibarengi dengan sebuah kematangan dalam mencerna prilaku apa yang kita perbuat. Kesetiaan bagi seseorang akan lebih dimaknai oleh orang lain, jika kita patuh dengan satunya kata dan perbuatan. Dan, itu adalah hal tersulit yang akan di alami oleh setiap orang.

Kesetiaan, akan selalu diperhadapkan dengan hal yang bernama kepentingan. Semakin tercukupi kepentingan itu, umumnya orang itu makin setia. Sebaliknya, jika kepentingan itu merenggang, maka kadar kesetiaan juga ikut menurun. Ini bukan fenomena. Ini sifat ‘kemanusiaan’ seseorang. Maka hal bijak yang perlu dilakukan adalah ‘semakin mendekatkan kepentingan seseorang dengan nilai-nilai kesetiaan itu’.

Lalu siapa yang bisa mendekatkan kepentingan itu? Jika Anda seorang pemimpin, atau merasa sebagai pemimpin, maka Anda-lah yang memiliki tugas berat itu. Sebab kadar kesetiaan, hanya terletak pada ‘siapa yang dipimpin’ bukan pada pemimpinnya. Kesetiaan itu hanya terletak pada level ‘siapa yang diatur’ bukan ‘pengaturnya’.

Pemimpin atau pengatur pada hakikatnya adalah pihak yang menciptakan situasi itu. Pemimpin yang tak mampu menciptakan situasi ‘kesetiaan’ maka yakinlah suatu saat ia akan hidup sendiri, dan tak ada lagi yang namanya kesetiaan. Yang ada hanyalah, cerita-cerita dan impian akan cerita masa lalu. Karena tidak mengherankan jika kita menemukan banyak orang yang amat suka mengangungkan masa lalunya, yang pada dasarnya adalah masa dimana ia pernah hidup dalam manisnya dunia kesetiaan.

Tahukah kita, jika kesetiaan itu pada dasarnya memiliki jangka waktu? Ia bersifat periodic, temporer dan tidak permanent. Terkecuali, jika sifat ‘manusianya’ telah menghilang dan menjelma menjadi malaikat. Kesetiaan akan menjelma menjadi permusuhan, jika tak ada lagi yang pertautan hati. Kesetiaan akan menjelma menjadi pergolakan, jika tak ada lagi kesamaan pandangan. Karenanya, hal terbaik untuk mempertahankan kesetiaan itu, adalah hidup sejajar dalam berfikir, bertindak, dan berprilaku.

Sekali lagi. Kesetiaan akan langgeng jika ada kedekatan antara kepentingan dengan nilai-nilai kesetiaan itu sendiri. Memang sungguh sulit untuk mewujudkannya. Tetapi memberikan ‘pendekatan’ adalah langkah yang terbaik. Dalam hal apa saja.!

Selamat merenung…mentari esok masih bersinar.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX