02 January 2012

Pukul 04.00 WIB dinihari, 2 Januari 2012. entah mengapa mata ini belum terkatup juga. Padahal azan subuh telah menggema. Tapi saya bilang ini bukan isomnia. Ini hanya kebiasaan buruk manakala saya diredam banyak ide dan gagasan yang masih buntu. Saya juga tak paham, apa ide dan gagasan itu. Saya hanya bisa merasakan letupan-letupan kecilnya dan menyiksa manakala tak ada jalan keluarnya. Maka menulislah pilihan itu, meski tersadar jika tulisan ini juga tak bermakna apa-apa.

Saya hanya ingat Vespa bekas yang kubeli beberapa hari jelang penghujung tahun 2011, berwarna hitam dan cukup nyaman untuk kupakai. Meski bukan anggota komunitas pencinta scooter, tapi soal motor Italia ini, bolelah saya dikategorikan maniak, sebab kerap mempersepsikan vespa sebagai wanita cantik yang menggoda, sehingga harus dirawat, dipercantik dan lain dari yang lain. Karenanya, selama di Jakarta, saya punya satu cita-cita lain selain menyelesaikan kuliah, yakni ingin memiliki Vespa yang modif, putih bersih, dan terkesan mewah. Tentu secara bertahap, sebab  kadang jika anggarannya sudah ‘jor-joran’, maka sempat ada pikiran lain. “Kalau sudah banyak makan duit, mending beli mobil sekalian,” pikirku.

Vespa memang punya sejarah panjang dalam kehidupan pribadi saya. Ketika baru menikah di Kota Baubau tahun 2001 silam, inilah harta pertama bersama istri. Jenisnya Spartan, 150 CC. namun beberapa tahun kemudian saya menjualnya kepada seorang kawan karena kepincut jenis kendaraan lainnya. Menyesal jika mengingat kejadian itu. Ada rasa berdosa ketika mengingatnya, dan kini tak tahu lagi kemana rimbanya. Di saat itu pula saya berniat, suatu saat akan membeli jenis motor itu lagi, entah kapan dan di mana tempatnya.

Tidak bermaksud mengelakkan kekuasaan Sang Pencipta, namun saya amat meyakini ada korelasi antara Vespa Spartan itu dengan garis rezeki saya. Sebab setelah itu, saya bisa membeli sebidang tanah, membangun kediaman pribadi, memiliki putra-putri, dan bersama-sama dengan istri mendapatkan pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri, menyelesaikan kuliah.. Sesuatu yang amat di dambakan oleh seseorang yang berpikir sederhana ala saya.

Di Jakarta ini aku memilikinya kembali, kota yang sebelumnya hanya ilusi bagi saya untuk kuliah, bahkan untuk hidup beberapa tahun lamanya. Maklum jika menengok jauh ke masa silam, tentu Jakarta hanyalah nama yang ada dalam peta saja, tak ada dalam benakku. Tapi kini, saya memandangnya lebih jauh, bahwa kelak, jika Tuhan mengizinkan, saya masih punya cita-cita untuk melompat ke kota-kota yang ada di belahan dunia lain. Tapi soal Vespa ini, saya tak berniat menjualnya lagi. Ada keinginan untuk menjadikannya satu moment sejarah dalam hidup saya, khususnya di Kota Jakarta.
--------------------------

Meski perpisahan tahun telah lewat sehari, kembang api itu masih beberapa kali meletup-letup di angkasa Jakarta. Ini kali kedua saya merasakan aura Tahun Baru di ibukota, meski kedua-duanya saya tidak pernah larut dalam pesta hangar-bingar pesta tahun baru seperti kebanyakan orang. Di pelepasan tahun 2010-2011 lalu, saya lebih fokus di kamar kosan membantu penyelesaian buku seorang rekan. Saya sama sekali tidak menikmatinya, kecuali mendengar letupan-letupan dan percikan bunga api yang terlihat dari bilik kamar saya.

Di tahun 2011-2012, sebenarnya ada peluang untuk meramaikannya, kebetulan di undang seorang rekan yang berprofesi sebagai paranormal di kota Depok. Entah mengapa fisik saya melemah, dan lebih banyak berdiam diri dan seolah berpisah dari kelompok kawan-kawan yang hadir. Lagi-lagi tak bisa menikmati gegap gempita orang-orang melepas tahun. Apa ini secara kebetulan atau tidak, tetapi pada dasarnya, saya memang tidak terlalu menyukai keramaian yang berlatar-belakang ‘party’. Bahkan ketika berkumpul bersama anak-istri di kampung saja, saya tak terlalu suka dengan suara bising.

Namun sedikit membedakan dengan tahun sebelumnya, hanyalah doa awal tahun yang tak biasanya saya lakukan. Saya serta merta berdoa ketika arah jarum jam telah bergeser ke tahun 2012. Doa yang saya panjatkan dalam kondisi merenung sejenak seraya bermunajat kepada Allah SWT, semoga saya dan seluarga bisa hidup damai, tenang dan berkecukupan. Juga termasuk doa saya tentang kebaikan Indonesia di masa mendatang.

Entahlah. Mengapa tiba-tiba saya mendoakan bangsa ini. Apakah karena bangsa ini telah menjelma sebagai bangsa bar-bar, yang tak lagi menghormati adanya perbedaan, dan suka menang sendiri atas nama sebuah kebenaran? Apakah karena bangsa ini telah dipimpin oleh manusia-manusia yang tak lagi mendapat restu Sang Pencipta, sehingga ia tak lagi tampil sebagai khalifah, tetapi menjadi pecundang-pecundang negeri tanpa memperdulikan kemiskinan anak bangsa yang masih bertebaran dimana-mana.

Saya tak tahu, apakah doa saya tentang bangsa ini diterima oleh-Nya? Tetapi setidaknya doa awal tahun saya, tak lain sebuah pengaduan pada Sang Pencipta. Saya juga tak tahu, apakah pengaduan saya, juga dinilai sama oleh pengaduan para pemimpin-pemimpin negeri ini di mata-Nya? Saya hanya berharap, jika seandainya Tuhan mengirimkan ujiannya, maka cukuplah mereka yang berdosa pada bangsa ini. Jangan sama ratakan antara mereka dengan saudara-saudara kami yang tak berdosa itu..
------------------------------------

Ufuk di timur mulai tampak. Kesibukan pagi mulai terdegar dari rumah tetangga sebelah. Mata saya mulai kelelahan. Saya hanya ingat sosok-sosok yang saya amat cintai. Semoga saja mereka terbangun di pagi hari ini dengan senyum yang mengembang, dan membaca tulisan tak penting ini. Dan tentunya saya berharap, ia membiartkan saya baru terlelap di pagi ini. Maaf saya menonaktifkan handpone!!

Selamat Pagi..dunia kita kali ini berbeda untuk sementara waktu
…..


Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX