24 March 2012

Ketika kita merasa bergembira, apakah kita bisa mengukur sejauh mana ‘rasa’ yang bisa diperoleh? Mungkin Anda bisa menjawabnya, tetapi saya tak mampu, entah kenapa? Saya mendapatkannya hari ini. Hanya dengan secuil tantangan dari pembimbing untuk maju seminar proposal, kegembiraan itu teramatlah tinggi. Sulit mengukur ketinggiannya. Padahal perjalanan belum berhenti di situ. Masih ada tahapan berikutnya. Saya lalu membatin, mengapa kegembiraan hari ini jauh melampaui kesuksesan-kesuksesan sebelumnya, melampaui masa wisuda sarjana atau saat dinyatakan lulus sebagai pegawai negeri..

Kegembiraan yang teramat sangat biasanya selalu tersimbol dengan lompatan, tertawa lebar, berjoget ria, gengaman kepala tangan yang kuat, bahkan ada yang mengapresiasikannya dengan teriakan yang amat keras, dengan sujud syukur, atau bercerita pada sesama sebagai ekspresi berbagi kebahagiaan. Itu juga saya merasakannya, tetapi saya lebih memilih untuk pulang tidur, kata seorang karib  “tubuh juga butuh reward, karena dia sudah membantu jiwa kita sehingga bisa lebih tenang”.

Sayang, kegembiraan itu pula mengalahkan keinginan tidur itu, mata tak bisa terkatup, sebab batin masih bekerja dan berkomunikasi secara interpersonal dengan bagian-bagian yang ada dalam jiwa saya. Saya bertanya dalam hati, apakah kegembiraan itu adalah ekspresi kerja atau hasil komunikasi interpersonal diri saya? Mungkin ia, tetapi saya mendefenisikannya, bila kegembiraan adalah hal positif yang timbul dari sesuatu yang melatar-belakanginya. Semakin banyak tantangan yang dihadapi, semakin rumit masalah yang ditemui, maka semakin besarlah kekuatan positif pada masa datangnya, di sananalah lahir rasa baru yang bernama ‘kegembiraan’.

Kegembiraan memang sesuatu yang punya rentang waktu. Ia tak berjalan begitu lama, jika tak mampu memberi makna apa yang ada dibalik kegembiraan itu. Jika itu terjadi, maka masanya semakin menyempit dan akan berlalu begitu cepat. Bagi saya, cara ‘terlama’ untuk melanggengkan masa kegembiraan itu adalah, memberinya makna dengan ucapan pujian kepada Yang Menciptakannya. Karena saya muslim, maka saya berkata , Alhamdulillah, alhamdulillah..Alhamdulillah..sebab sebentar lagi ia berlalu…

Maaf ini tak penting!

2 comments:

  1. sekecil apapun tulisanta tetap membahagiakan yang membacanya...tak terkecuali saya :)

    salam hangat

    ReplyDelete

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX