22 March 2012


Awalnya, saya sendiri bertanya, mengapa Pak Prabowo Subianto harus ‘menjual’ Joko Widodo (Jokowi) Walikota Solo (Jateng) sebagai Cagub DKI Jakarta dan Bambang Cahaya Purnama (Ahok) mantan Bupati Belitung Timur (Babel) sebagai Cawagub-nya. Padahal keduanya bukanlah kader Partai Gerindra, sebab Jokowi adalah kader PDIP sementara Ahok adalah kader Partai Golkar. Keduanya pun bukan penduduk DKI Jakarta. Tentu hitungan kalkulasi sederhana, tak mudah pasangan ini menjadi pemenang Pilkada di belantara politik ibukota, apalagi incumbent begitu merajalela menyampaikan pesan-pesan politiknya dengan berbagai cara. Belum lagi kandidat lainnya dengan segudang nama besar.  

Saya tak ingin membahas jauh pasangan ini. Saya justru melihat adanya pesan interaksi simbolik yang disampaikan Pak Prabowo, bahwa siapapun anak bangsa ini, tanpa pandang bulu, selama punya prestasi, bersih selama memimpin, dan berkomitmen kuat pada negara dan peduli pada rakyat kecil, adalah ‘kriteria’ seorang Haji Prabowo Subianto dalam memilih dan memilah pemimpin. Cara pandang seperti ini, tentu tak mudah dipahami oleh pengagum pak Prabowo, sebab politik sangat dipengaruhi oleh beberapa factor, tetapi mau tak mau, jika memahami realitas politik Pak Prabowo, maka pengagum Pak Prabowo di Jakarta sejogjanya menjatuhkan pilihannya buat pasangan Jokowi-Ahok di Pilkada Jakarta, Juni mendatang.


Maaf saya tak mengkampanyekan pasangan Jokowi-Ahok, saya justru kepikiran pada satu pernyataan subjektif saya sendiri, jika apa yang dilakukan Pak Prabowo kepada figur Jokowi-Ahok, adalah cerminan dan upaya kerja Pak Prabowo ‘untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya’. Atau dengan kata lain, Pak Prabowo ingin menempatkan figur-figur terbaik di negeri ini saatnya tampil ke public nasional. Setidaknya politik Jakarta yang menjadi barometer iklim demokrasi di Tanah Air.

Sebab jika ditilik secara pragmatis, Partai Gerindra akan jauh lebih ‘untung’ secara financial jika menyerahkan 6 kursi Gerindra di DPRD DKI pada incumbent. Tentu hitung-hitungnya adalah uang, sebab bisa saja 1 kursi dihargai (misalnya ) Rp 1 Milyar. Artinya, sangat kayalah partai jika kursi partai dihargai seperti itu. Tetapi kenyataannya, pintu diserahkan pada pasangan Jokowi-Ahok. Saya tak tahu berapa nilainya. Tetapi sangat terlihat jika metode ini adalah cara dan pesan Pak Prabowo menyampaikan kepada khalayak Indonesia, jika saatnya, Indonesia kini harus dipimpin figure yang benar-benar amanah, tanpa melihat latar belakang figure itu. seperti Jokowi yang sukses dengan kesederhanaannya dan figure Ahok yang berlatar belakang etnis Thionghoa. Ini berarti pula, nasionalisme Pak Prabowo dalam memandang setiap etnis, begitu universal dan lepas dari sekat-sekat perbedaan.

Jokowi boleh saja hanya berlevel Walikota, tetapi terobosannya dalam memberikan keteladanan berbentuk ide kreatif, pandai mengangkat isu lokal menjadi isu nasional, cinta produk dalam negeri ala ESEMKA, telah menjadikan prilakuknya sendiri menjadi ‘juru bicara’ atas kemampuan yang dimilikinya. Saya teringat seorang Ahmadinejad, yang hanya Walikota Teheran, tetapi kemudian mampu menjadi Presiden Iran, juga karena kemampuan dan keteladanan pribadinya.

Begitu pula Ahok. Ia seorang Tionghoa, pernah menjadi bupati yang sukses di Belitung Timur, tidak harus dua periode memimpin seperti kebanyakan kepala daerah lainnya, tetapi setelah satu periode selesai ia memilih menjadi anggota DPR RI. Ia sukses melenggang ke Senayan, karena ia begitu dipercaya rakyatnya sebagai kepala daerah yang tak hanya sukses, tetapi bersih dalam memerintah. Etnis tak membatasinya untuk merenggang system politik di Tanah Air. Figure Ahok mengingatkan saya pada seorang Barrack Obama, yang di negerinya adalah minoritas karena berasal dari keluarga Negro Kenya, yang sukses menjadi senator di Illionis USA, lalu kemudian berkibar menjadi Presiden di negara  yang paling berkuasa di dunia ini. Amerika.

Cara Pak Prabowo dengan mengusung Jokowi-Ahok bersama PDIP, adalah bentuk ketidak egoisan berpolitik seorang Prabowo Subianto. Bahwa Ahok sebelumnya adalah kader Golkar, bukanlah penghalang Pak Prabowo untuk menata negeri ini. Orang boleh saja beranggapan, bahwa pilkada Jakarta adalah ‘pemanasan’ menuju Pemilu 2014, tetapi saya memandangnya lain. pasangan Jokowi-Ahok adalah simbol kepedulian Pak Prabowo pada rakyat kecil di Indonesia, dan Pak Prabowo menampilkan itu di Kota Jakarta, simbol pergumulan politik Tanah Air.

Maka Andai saja saya berpenduduk Jakarta, dan pengagum seorang Prabowo Subianto, maka saat ini saya berikrar, jika pilihan aakan saya berikan pada pasangan Jokowi-Ahok. Apapun hasilnya nanti. Lalu bagaimana dengan Anda??
(**)

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX