06 March 2012

Ketika novel ‘negeri lima menara’ karya Ahmad Fuadi ini beredar di pasaran, saya tak sempat membacanya tuntas. Saya hanya memandang sampul-sampulnya, dan membaca sedikit reviewnya. Pikiran saya, paling-paling tidak jauh beda dengan ‘Laskar Pelangi’, yang biasanya berkisah seputar motivasi dalam menggapai cita-cita. Sesuatu yang menjadi kebiasaan ‘pebisnis’ hiburan di negeri kita. Ketika satu booming, maka yang lain mengikuti., sebuah gaya yang kerap dipraktekkan oleh penggiat media massa negeri ini.. Saya menyebutnya ‘jurnalisme pacuan kuda’.

Dalam memahami sesuatu, saya bukan kategori pembaca yang baik, tetapi lebih suka dalam bentuk audio visual. Itulah kemudian saya menyempatkan menonton film ‘Negeri Lima Menara’ garapan sutradara Affandi Abdul Rahman ini, di Studio XXI TIM, Cikini. Hitungan saya sederhana, pasti ada pesan yang lebih yang ingin disampaikan sang sutradara alumni ‘Columbia College of Holliwood’ ini. Saya percaya, seorang lulusan Amerika pasti punya pesan yang lebih menggigit dengan gaya yang lebih bebas. Dan saya menemukannya.

Sepanjang durasi film, saya kerap tertawa lepas, dan kerap pula membatin memaknai setiap jengkal frame film ini. Saya lebih suka pada rekonstruksi pemikiran Bung Affandi, dengan mengambil lokus film di Pesantren Gontor yang syarat dengan ‘perlawanan’ terhadap persepsi bahwa pesantren hanyalah pusat kajian ‘agama’ belaka. Tetapi lebih penting dari itu, saya amat menyukai cara sang sutradara yang meletakkan sosok-sosok pelajar dengan karakter yang berbeda dengan kondisi sosialnya saat ini. Seperti Alif  dari Padang (Sumbar), Baso dari Gowa (Sulsel) Dulmajid dari Madura, Atang dari Bandung (Jabar), Said dari Surabaya, serta Raja dari Ambon.
Affandi Abdul Rahman

Satu hal yang saya pandang dari penempatan aktor-aktor muda ini adalah keinginan sang sutradara untuk mengokohkan semangat nasionalisme anak bangsa yang tergerus belakangan ini. Tampak sekali, anak-anak dengan latar belakang budaya yang berbeda, disatukan dalam satu frame kehidupan, yakni mimpi dan cita-cita yang tinggi dalam satu pesan religi, ‘man jadda wajada’. Sesuatu yang selama ini dimaknai amat sederhana. Tapi sang sutradara menjadikan pesan ini sebagai simbol penyatuan, penyeragaman kehidupan yang berbeda, serta penyatu simbolik persaudaraan. Luar biasa! Jika direlevansikan dengan kondisi kekinian, dimana ‘anak bangsa’ belakangan ini lebih bersifat etnocentris dan melupakan life history perjalanan panjang bangsa ini.

Tidak bermaksud mengabaikan nilai-nilai kultur etnik lainnya dalam film ini, saya sebagai orang asli Sulawesi Selatan tentu subjektifitas saya mengarah pada sosok Baso, seorang pelajar asal Gowa Sulawesi-Selatan, yang berbadan kecil, terkesan lugu, menghindari permusuhan, tidak emosional,  diperankan sebagai anak yang cerdas, mampu mangangkat semangat kawan-kawannya, tetap fokus pada hafalan Al-quran, tetapi kemudian harus ‘merelakan’ dirinya pulang kampung sebelum ‘nyantri-nya’ tuntas, karena harus merawat neneknya yang sakit-sakitan.

Bagi saya, disinilah letak rekonstruksi pemikiran itu. Baso seolah diperankan untuk melawan realitas kalangan mahasiswa dan pelajar Sulawesi-Selatan yang belakangan ini yang dikenal gampang ‘terbakar’ ketika melakukan aksi unjuk rasa. Baso seolah melawan persepsi khalayak Indonesia tentang Sulsel yang keras termasuk memberangus persepsi local ‘eja tompi na doang’. (terserah mau apa. diartikan bebas oleh penulis)

Mengapa saya sebut rekonstruksi? Sebab sosok Baso yang ditampilkan sang sutradara sepertinya ditujukan untuk mengembalikan nilai-nilai kultural orang Bugis-Makassar, yang kini tergerus oleh budaya kebebasan dan kemudian membentuk persepsi pewatak keras.  

Rendah hati namun pemberani, agamis, pantang menyerah, pemimpi, motivator bagi yang lain sebenarnya sosok ‘asli’ orang Bugis-Makassar. Bukankah kita mengenal sosok Syekh Yusuf Al-Makassari, yang dikenal dengan gelaran ‘Tuanta Salamaka’. Seorang sufi Makassar asal tanah Gowa, yang menggapai ‘satu menara dunia’ dengan ke-sufi-annya? Yang bersyiar tanpa mengenal batas-batas negara?.

Para pemain film Negeri 5 Menara, Gazza Zubizzaretha sebagai Alif, Ernest Samudera sebagai Said, Rizki Ramdani sebagai Atang, Aris Adnanda Putra sebagai Dulmajid (kiri ke kanan), di newsroom Kompas.com, Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Rabu (29/2/2012). Film adaptasi dari novel laris dengan judul yang sama karya Ahmad Fuadi, mulai diputar di bioskop 1 Maret 2012.

Melalui tulisan ini, tentu apresiasi dan takzim hormat saya pada Bung Ahmad Fuadi sebagai penulis novel dan Bung Affendi Abdul Rahman sebagai sutradara ‘Negeri Lima Menara’. Tentu saya juga berharap, jika Gubernur Sulsel, kanda Sahrul Yasin Limpo sebagai orang asli Gowa, dan segenap pemerintah daerah dan elemen masyarakat kabupaten Gowa, setidaknya mampu menangkap nilai dibalik alur film ini. Bagaimanapun Gowa adalah negeri dengan sejuta sejarah, namun terasa ditenggelamkan oleh kekuasaan kerlap-kerlip metropolitan Kota Makassar.

Novel dan film ini tentu jalan bagi Kabupaten Gowa untuk menguatkan dirinya dalam posisinya sebagai salah satu kota sejarah besar yang ada di Indonesia. Semoga! (**)

2 comments:

  1. saya juga sepandangan dengan bapak tentang tenggelamnya Gowa dalam gemerlap kota Makassar....

    entah mengapa Gowa kini tak Mampu Berkokok Lantang Lagi.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. trims komentarnya saudaraku...kita perlu untuk menaikkan semangat itu lagi...

      Delete

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX