17 September 2012



Sebuah poster kecil terpampang didepan meja kerja saya di DPN Gardu Prabowo. Poster itu adalah potret pak Prabowo menggunakan kopiah khas Bali, dengan kedua telapak tangan  didekapkan depan dada beliau sendiri. Seolah menyembah orang banyak. Sebelahnya lagi, ada potret beliau melambaikan tangan pada banyak orang.  Saya mencermati secara seksama, apakah ini hanya sekedar bentuk pencitraan politik beliau dalam merajut impiannnya menuju kursi kepresidenan di tahun 2014 mendatang? Apakah ini yang disebut sebagai bagian dari teori politik ala ‘Erfing Guffman’ tentang back stage dan front stage itu? Mungkin ada benarnya. Tetapi sebagai orang yang suka menuliskan tentang apa saja dalam diri Pak Prabowo adalah sebuah analisa menarik tersendiri bagi saya. Setidaknya ingin menelisik lebih jauh tentang sosok pemimpin masa depan bangsa Indonesia ini.

Saya banyak mendapatkan informasi tentang hal ini dari beberapa orang dekat beliau, bila sebenarnya prilaku seperti ini adalah prilaku ‘tak sadar’ Pak Prabowo ketika bertemu orang banyak. “Mungkin ini didikan keluarga beliau sejak kecil, sehingga setiap bertemu orang banyak secara dekat, beliau langsung berjabat tangan atau  melakukan gerakan tangan seperti menyembah.Jika dari kejauhan, beliau selalu melambaikan tangan” kata Bang Asaldin Gea, mantan ajudan beliau  saat masih aktif di militer siang ini (17/9). Hanya itu informasi yang saya peroleh.

Saya ingin mengkajinya dalam prilaku psikologi komunikasi  berdasarkan analisa subjektif saya, dengan mengkaitkan kultur yang mempengaruhi kehidupan Pak Prabowo,  bahwa hal-hal ‘tak sadar’ selalu muncul dalam setiap momentum, menggambarkan pribadi orang itu. Bukan by design atau sekedar bentuk kesengajaan untuk mempengaruhi orang lain.

Prilaku mengapitkan telapak tangan di depan dada, dalam adalah bentuk ‘penyembahan kesedarajatan’ atas diri Pak Prabowo dengan manusia lainnya. Sikap inilah yang disebut dengan egaliter atau menghargai kesederajatan sebagai umat manusia. Jika apitan tangan itu lebih tinggi lagi, biasanya dilakukan pada junjungan raja yang biasanya dilakukan di zaman kerajaan-kerajaan dulu. Sementara lambaian tangan selalu dipersepsikan sebagai bentuk kedekatan dengan orang lainnya. 

Tentu dapat ditarik kesimpulan, jika prilaku ini menggambarkan ‘inner personal’ Pak Prabowo yang sebenarnya. Bahwa beliau sosok yang sangat menghargai kesederajatan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Secara sederhana saya menyebutnya sebagai bentuk dan sifat penyayang Pak Prabowo.

Saya tak ingin melintas dalam diri Pak Prabowo yang kini telah merambah dunia politik tanah air. Saya hanya ingin membangun persepsi, bahwa dibalik ketegasan beliau yang ditempa pendidikan dan pengalaman sebagai prajurit yang setia dengan sumpah marga-nya, beliau memiliki sifat amanah, menyantuni, tahu nilai-nilai kultural bangsa Indonesia, dan selalu menghargai kesederajatan seseorang, sebagai sesasama hamba Tuhan. Saya ingin sekali masuk dalam wilayah semesta kultural Jawa yang sarat nilai-nilai itu. 

Bahwa Pak Prabowo adalah sosok pribadi  yang mampu menterjemahkan alam pikiran budaya Indonesia, untuk terus ditumbuhkembangkan dalam membangun Republik Indonesia. Saya hanya berfikir, bahwa mungkin inilah salah satu jawaban, mengapa Pak Prabowo begitu aktif memperjuangkan sosok Joko Widodo-Basuki dalam Pilkada DKI, yang dinilai publik sebagai sosok yang santun. Semoga benar demikian. Sebab sikap penyayang Pak Prabowo yang dalam, amat layak menjadi panutan para pemimpin bangsa ini. Bahwa bangsa ini dibangun atas dasar kasih sayang, menghargai kesederajatan, dan terus menularkan virus-virus positif bagi semesta rakyat Indonesia. Semoga Allah SWT merakhamati. 

(**)

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX