13 October 2012


Saya baru saja membaca sebuah buku monografi Pak Prabowo Subianto yang bertajuk ‘dari Cijantung Menuju Istana’ yang merupakan buku best seller saat Pemilu lalu. Isi buku ini materinya hampir sama dengan tulisan-tulisan saya yang terkonstruksi melalui blog ini. Intinya ‘menjual’ Pak Prabowo sebagai sosok yang paling layak sebagai pemimpin republik di masa datang. Meski juga harus mengakui jika ini semata pandangan subjektif saya. Entalah bagi pembaca lainnya.

 Mata saya kemudian tertuju pada status facebook Pak Prabowo yang menuliskan bagaimana seorang Prabowo Subianto memahami sebuah sejarah kepemimpinan Gajah Mada di masa lalu, yang dikenal dengan sebutan "panca titi darma". Yakni "handayani hanyakra purana". Seorang pemimpin harus selalu mendorong yang muda untuk memiliki cita-cita mulia, beribadah dengan amal-karya, melangkah ke masa depan tanpa ragu-ragu apalagi sikap putus-asa. Kedua, "madya hanyakra pangaribawa". Seorang pemimpin ketika berada di tengah-tengah rakyatnya hendaklah mampu menjadi pembina dan perekat mereka untuk bersatu padu bersama membangun bangsa dan negara. Ketiga "ngarsa hanyakra prabawa". Seorang pemimpin harus selalu tampil dimuka menjadi panutan yang tegas, dan teladan utama melalui satunya perbuatan dan tutur-kata.

Sikap keempat adalah "nir bala wikara". Seorang pemimpin harus mengedepankan musyawarah mufakat untuk penyelesaian masalah, jangan sampai rakyat menjadi korban, terluka, dan sengsara. Dan sikap kelima adalah "ngarsa dana upaya". Seorang pemimpin hendaklah mau berkorban harta, tenaga, dan juga jiwa untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara agar hidup rakyat tenang, damai, sejahtera, dan bahagia.

Saya begitu senang dengan status facebook beliau itu. tentu karena saya tengah berfikir, bahwa Pak Prabowo mencoba mereduksi sebuah sari sejarah yang kelak melatarbelakangi pikiran Pak Prabowo ketika menjadi pemimpin republik ini di masa datang. Mencoba menggeluti pikiran-pikiran Gajah Mada yang masih ‘abadi’ diterapkan di masa kini, dan mencoba menjamah sebuah sejarah, bahwa Indonesia punya banyak pemimpin dengan pikiran-pikiran briliyan dan tak lekang oleh ruang dan masa. Bahwa Pak Prabowo juga adalah pengingat sejarah, seperti pesan Bung Karno pada dunia, “Jangan sekali-kali melupakan Sejarah”.

Ini adalah sebuah interaksi simbolik yang menjadi janji pemikiran beliau ketika kelak benar-benar menjadi Presiden. Tetapi kemudian saya juga berfikir lain, bahwa cara ini pula menjadi panggung belakang (back stage) politik Pak Prabowo yang tak banyak di ketahui publik di nusantara ini. Dalam analogi politik Erving Guffman, selalu disebutkan bahwa seseorang politisi memiliki dua panggung utama, yakni back stage (panggung belakang) dan front stage (panggung depan), meski beberapa peneliti juga telah menemukan adanya middle stage (panggung tengah).

Karenanya, sebagai pengagum Pak Prabowo, saya ingin banyak mengetahui cerita-cerita ‘panggung belakang’ beliau. Bagaimana kehidupan beliau di masa kini? bagaimana cerita-cerita beliau yang amat menyayangi binatang? bagaimana humor-humor beliau dengan staf dan bagaimana Pak Prabowo dengan segala dinamika sosialnya ketika berinteraksi di masyarakat. Saya mengharap mendapatkan itu semua. Bahkan seorang blogger kawan saya yang kini tengah kuliah di Amerika, Yusran Darmawan, mengingatkan saya, bahwa amat menarik menuliskan sisi-sisi lain seorang Prabowo Subianto, sebab publik hanya banyak tahu, jika Pak Prabowo seorang militer, jenderal kopassus, yang selalu dihubung-hubungkan bahwa militer itu kaku. Sementara Pak Prabowo tentu memiliki kelembutan, memiliki rasa humor yang tinggi dan juga sense of belonging pada banyak orang.

Tetapi di tengah pemikiran mencari back stage Pak Prabowo, kini saya memicingkan mata, melihat geliat Pak Prabowo menatap dunia yang lebih luas, bahwa Indonesia adalah satu mata rantai politik dunia, apapun dinamika politik di negeri ini adalah konsumsi public dunia. Memang politik di Indonesia adalah politik internal orang Indonesia, tetapi efeknya pada warga dunia secara Universal. Memang Indonesia bukanlah adikuasa seperti Amerika, yang bisa mempengaruhi mekanisme berpolitik di banyak negara, tetapi Indonesia adalah salah satu Negara berkembang di dunia yang juga punya pengaruh besar bagi negara-negara lainnya. Karenanya wajar, jika Pak Prabowo dalam kapasitas pribadinya melawat ke beberapa negara, (mungkin) sekedar belajar apa ada di dunia luar, atau (mungkin) juga tengah membangun hubungan baik yang memang seharusnya dilakukan oleh calon-calon pemimpin di negeri ini.

Saya sedikit terkejut membaca sebuah media yang mengetengahkan jika public Amerika melalui media-media negeri Paman Sam itu ‘sudah menyukai’ Pak Prabowo sebagai calon Preriden di negeri bernama Indonesia ini. Banyak kawan-kawan yang bertanya, apa pentingnya dukungan Amerika atas suksesi kepemimpinan di negeri ini? Saya juga belum bisa menjawabnya secara detail dan teknis. Tetapi saya hanya belajar dari perjalanan kepemimpinan republic ini, bila hamper semua Presiden yang terpilih di Indonesia, selalu saja ‘by design’ dan campur tangan pihak Asing.  Itu juga belum bisa saya jelaskan secara detail, tetapi saya berkeyakinan pembaca memahami cara berfikir seperti ini.

Prabowo dalam politik dunia? Ya! Sekali lagi saya tak bisa menjelaskan detail bentuk dan modelnya. Tetapi saya hanya menarik satu kesimpulan, bahwa seorang calon pemimpin di negeri ini bukanlah calon instant yang dibentuk dan tumbuh seperti ‘katak dalam tempurung’. Tetapi menyiapkan konsep Indonesia yang sejahtera dan bermartabat di mata dunia. Saya hanya membuat cetak tebal, bahwa inilah yang menjadi salah satu kelebihan Pak Prabowo Subianto dibanding tokoh-tokoh lainnya di negeri ini. Apakah kita menyukai Pak Prabowo sebagai calon pemimpin kita? Saya pribadi menjawabnya ‘Ya!”. Lalu bagaimana dengan Anda?....
(**)

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX