11 May 2013

Keluarga Langnga-ku : dari kiri kekanan: Dari kiri kekanan; Desy (anak almarhum, Kak Zainuddin), Daeng Ngago (suami Kak Rusni), mantu ponakanku, Rosmaladewi (manten Perempuan anak Kak H Rusni (Dg. Haji Caya), Kak H. Rusni (, yang telah mendidikku di masa kecil) dan Kak Hj. Hasnah, Isti almarhum Kak Zaenuddin. Aku rindu kalian)
BAGI banyak orang, kampung kelahiran kerap menjadi cerita romantis tentang masa kecil, masa yang penuh keriangan, gelak dan canda. Namun apa jadinya jika seseorang tak mengenal kampung kelahirannya? Apa yang diingat? Apa yang harus diceritakan pada anak-anak tentang kampung itu? Entah mengapa, memasuki usia 40 tahun ini dan  hidup dibelantara Jakarta, tiba-tiba saya merasa ingin mengenal kampung kelahiran itu. Ada rasa bersalah tatkala mengingatnya, sebab boleh jadi saya dimintai ‘pertanggungjawaban’ tentang tanah kelahiran itu, tentang negeri dimana saya menghirup pertama kali udara dunia. Saya takut, jika warga di sana justru mencap saya sebagai orang yang ‘numpang lahir’ dan tak punya identitas. Pentingkah? Saya menjawabnya, “ya!”

Saya terlahir disebuah desa kecil bernama ‘Langnga’ di tahun 1973. Saya tak tahu lagi kecamatan apa desa itu, apakah kini telah menjadi kelurahan atau kecamatan tersendiri?, yang saya tahu, kawasan ini terletak di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Sebab inilah yang tertulis di ijazah pendidikan saya. Tak ada cerita panjang tentang masa kelahiran itu dan kilas masa lalu tentang Desa Langnga. Kerap saya bingung mengapa saya harus terlahir di Langnga? Sementara orang-orang menganggap keluarga saya berasal dari Kabupaten Pangkep, wilayah dengan basis dua suku besar, Bugis dan Makassar, yang jarak antara Pangkep dan Pinrang kurang lebih 100 km.

Cerita dari beberapa keluarga, menyebutkan jika saya lahir di rumah panggung milik tante, kakak kandung bapak saya dan seorang Ibu Haji, sebab konon orang tua saya belum memiliki rumah sendiri di Langnga, dan kerjanya serabutan. Ada pula yang menyebut jika sebelumnya ayah saya keluar dari institusi militer, kemudian beralih profesi sebagai ‘pedagang pembantu’ tante saya. Rasanya miris jika mengingatnya, sebab jika seperti itu kondisinya, berarti ayah saya saat itu benar-benar hidup dalam kemiskinan.

Saya tak tahu berapa lama kami hidup tanah kelahiranku itu, sebab selang kemudian orang tua saya menjadi warga ‘nomaden’ yang hidupnya berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Dari Pinrang, Parepare, Pangkep dan kini hijrah antar provinsi ke Kabupaten Kolaka di Sulawesi Tenggara. Saya mencoba merangkum ingatan satu persatu tentang situasi yang pernah saya alami di Langnga.

Mungkin saat itu saya berumur 5 tahun, yang saya ingat hanyalah cerita, jika saudara kandung kakek dan nenek saya adalah salah satu tokoh yang terpandang di Langga, juga seorang bergelar Haji, tetapi saya lupa namanya. Ia berprofesi sebagai pedagang ‘besi-besian’, punya rumah besar dan anak cucu yang banyak. Ingatan pada saudara kakek itu hanyalah ingatan negatif, sebab saya menganggapnya ‘kikir’ (mungkin pada diri saya), sebab cucu-cucu dari garis keturunanannya kerap bergembira sebab kakek haji suka bagi-bagi duit. Mungkin karena saya hanya ‘cucu ponakan’ sehingga belum layak menerima bagi-bagi uang sang kakek haji..(hemm).

Kakek kandung saya sendiri tinggal berjauhan di salah satu desa di kabupaten pangkep. Kini namanya kelurahan Sapanang, kecamatan Bungoro, dan profesinya dalam kahazanah orang Bugis disebut sebagai ‘panrita bola’. Saya tak tahu makna ‘panrita bola’ itu, tetapi secara simple, saya mengartikannya sebagai ‘ahli rumah’. Sebab cerita ayah saya, kerap sang kakek, ditunjuk masyarakat setempat untuk ‘melihat-lihat’ kondisi rumah yang baru dibangun.
-------

MASIH seputar cerita ‘Langnga’ yang masih kabur di ingatan saya, hanyalah kehidupan kecil di rumah Tante haji. Beliau setiap hari berdagang ‘pecah belah’ di pasar langnga. Kadang saya ikut tante haji, menemaninya jualan di pasar. Sebab di pasar saya merasakan ada ‘kenikmatan’. Setiap hari saya dibelikan tante panganan ‘sokko’, makanan yang terbuat dari beras ketan putih yang dibumbuhi parutan kelapa, plus racikan sambal dan ikan kering. Sebab pulang dari pasar, saya harus bersama-sama kakak sepupu laki-laki namanya kak Zainuddin (kini almarhum), membawa barang dagangan tante haji dengan menggunakan bendi (dokar) tanpa kuda. Kami berdualah yang menjadi ‘kudanya’ hingga sampai di rumah. Suami tante haji sendiri telah lama meninggal dunia. Di rumah ada kakak sepupu perempuan saya menunggu, namanya kak Rusni, kini saya memanggilnya Daeng Haji Caya, dan sama-sama tinggal di Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Lalu dimana orang tua saya saat itu? Saya lupa! Mungkin saya dititip di rumah tante, karena belum sekolah. Apalagi ayah dan ibu sering berpindah-pindah tempat. Mungkin juga saya masih sendiri, dan belum lahir tiga orang adik-adik saya. Sehingga gampang dititip sama tante haji.

Cerita-cerita yang membekas diingatan saya di Langnga adalah ‘layanan’ kak Rusni, beliaulah yang mengajarkan saya berpuasa. Suatu saat di bulan ramadhan, Kak Rusni berjanji memberi saya hadiah jika saya berpuasa, namun entah kenapa ketika kak Rusni membuat penganan berbuka, saya suka ‘curi-curi kue’ dan tetap mengaku berpuasa di depannya.. (hehehe). Satu hal yang tak pernah lekang dalam ingatan saya di Langnga, adalah hukuman yang saya terima bersama beberapa saudara-saudara sepupu saya dari seorang paman bernama Haji Jala’. Ia menghukum kami dengan mengingat di pohon kemudian ‘menyemuti’ di angkrang. (semut besar yang banyak dipohon-pohon). Hukuman ini mungkin setimpal dengan ‘dosa’ yang kami lakukan. Yakni mencuri uang Rp.5.000, dari laci meja kasir sang kakek haji. Bilangan yang sangat besar waktu itu.

Saya tak ingat uang itu diapakan oleh Wahid, saudara sepupu, cucu dari kakek haji. Yang pasti, kami sempat nonton di bioskop dan makan besar di warung-warung. Entah bagaimana ceritanya, ‘modus pencurian’ kami itu ketahuan. Yang pasti kami dapat hukuman berat. Hingga membuat tante dan kakak-kakak sepupu lainnya keberatan dengan hukuman Haji Jala’.

Tak banyak cerita lagi tentang Langnga di kepala ini. Oh ya! Hampir lupa, ingatan tentang Langnga yang membekas adalah cerita-cerita horor desa itu, kalao di sana sering ada ‘Poppo’, hantu jadi-jadian yang konon kepala berpisah dengan badannya, tetapi kepala itu menjuntai usus-usus isi perut. Ngeri jika membayangkannya. Tetapi konon hantu yang keberadaannya dapat dideteksi dengan suaranya di malam hari dengan bunyi ‘pok, pok, pok’, katanya tidak mengganggu manusia. Hanya sering makan buah-buahan saja sejenis pepaya dan mangga matang. Tetapi namanya hantu, tetap saja membuat bulu ini merinding.
-------

RASANYA benar-benar ingin mengetahui tentang situasi ‘Langnga’ di masa kini, seperti apa bentuknya, keramaiannya. Sepertinya saya ingin ‘terbang’ kesana saat ini juga. Apalagi konon desa ini, dikenal sebagai ‘desa haji’, sebagi tuah dimana pernah ada kejadian, jika desa ini pernah turun hujan salju. Wow! Sesuatu yang langka tentunya, sebab Sulawesi dan Indonesia umumnya tak mengenal musim ini, terkecuali salju yang ada di puncak Jayawiya Papua sana. Benar-benar ingin tahu jejak-jejak kelahiran saya itu. Atau mungkin ada pembaca yang bisa membantu saya menceritakan kondisi ‘Langnga’ di masa kini? apa arti nama desa itu? Saya amat berharap.

-------
Jakarta Malam, 11 Mei 2013Baca juga tulisan berikut ini:

 


Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX