13 June 2013


SAYA kerap bercermin mengamati gurat-gurat kehidupan yang tampak di waut wajah saya. Lalu membatin dan bertanya pada diri sendiri? Mengapa Tuhan membeda-bedakan rupa manusia? Mengapa ada yang rupawan, sedang dan jelek? Apakah memang Sang Pencipta punya siklus pembeda sehingga makhluknya bisa saling mengenal? Tetapi saya juga bertanya pada diri sendiri, bagaimana jadinya jika semua manusia itu berwajah sama? Bagaimana mereka saling mengenal? Emm..mungkin itu jawabannya sekaligus letak ke Maha-Kuasaan-Nya.

Tuhan memang piawai dalam mengatur segalanya. Meski ada pembeda rupa pada manusia ciptaan-Nya, tetapi Ia tak lupa memberi kadar cinta yang sama pada mereka. Mungkin karena itu manusia bisa saling memiliki, bisa saling memuji dan saling mencintai. Mungkin karena itu pula, banyak manusia yang dipersepsikan berwajah  jelek, tetapi di sisi lain ia bisa mendapatkan pasangan yang rupawan, atau sebaliknya. Tetapi manusia kerap memutar fakta, seorang rupawan harus mendapatkan rupawan, dan yang berwajah jelek juga mendapatkan yang jelek. Benarkah? Saya belum kuasa menjawabnya. Lagi-lagi saya membatin, Tuhan benar-benar Maha Kuasa atas segala yang dikehendaki-Nya.

Dari asumsi itu, saya juga mencoba memaknai kata ‘cinta’. Apakah cinta itu hanya perasaan saling menyukai antar seseorang dengan seorang lainnya? Lalu kemudian menjadikan mereka menjadi sepasang suami istri? Lalu bagaimana jika seseorang telah memiliki pasangan masing-masing dan saling menyukai, apakah ini juga dapat dikategorikan sebagai cinta? Lalu bagaimana seorang lelaki yang berpoligami, apakah lelaki itu pantas mendapat gelar sebagai seorang pencinta? Sulit menjawabnya, sebab cinta ternyata memiliki makna yang amat luas, dan menjadi keajaiban kehidupan setiap makhluk.

Agak sulit memberi defenisi tentang cinta, sepertinya ia memang anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya,  sebab ia tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata dan bahasa apapun. Sepertinya cinta hanya bisa dibaca dengan bahasa cinta dan juga dengan perasaan. Ia sesuatu yang universal, tak mengenal gender, usia, suku ataupun ras. Tak perduli cinta dengan sesama manusia, dengan tumbuhan, binatang, roh halus, ataupun dengan Sang Pencipta. Mungkin karena itu banyak yang menyebut jika ‘cinta itu buta’ tak bermata dan seolah meraba hasrat, meraba isi hati yang dicinta.

Satu-satu indikator jika cinta sebagai keajaiban kehidupan, yakni ia rela berkorban apa saja demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Pengorbanannya itu tulus, tidak mengharap balasan. Seperti rasa seorang ibu kepada anak-anaknya, dan seperti rasa saya hari pada istri dan anak-anak saya. Sulit mendefenisikannya.

Apakah saya jatuh cinta lagi??

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX