17 June 2013

Pesanan ‘oleh-oleh’ seorang anak kepada orangtuanya tatkala ditinggal lama bepergian adalah sesuatu yang biasa. Namun satu hal yang kerap menjadi perenungan saya sebagai seorang Ayah selama mengarungi bahtera ilmu di Jakarta, yakni satu dari tiga putra-putriku selalu saja ada pesanan untuk dibelikan kitab suci Alquran ketika hendak pulang kampung. Kali ini datangnya dari bungsuku, Moch. Noval Assiddiq. “Etta jangan lupa belikan Al-Quran, yang warnanya biru dan tulisannya terang, seperti punya Kakak Refi.” kata Noval melalui ponsel ibunya dengan suara memelas.

Saya paham, anakku mungkin belum tahu apa-apa di usianya yang baru mau naik kelas 2 SD, tetapi tersadar jika Noval  memberi makna hidup pada Ayahnya, tak sekedar sebagai sebuah kerinduan, tetapi tersirat singgungan untuk tetap belajar kuat untuk mendalami ilmu-ilmu agama, tidak sekedar ilmu-ilmu duniawi.

Sebagai Ayah, tentu kebanggan jika mendengarkan permintaan ini sebab di era seperti modern ini kerap ilmu-ilmu agama bagi banyak orang hanya sekedar pelengkap. Karenanya saya berasumsi jika pesanan kitab Alquran sebagai ‘oleh-olehnya’ bagi saya sebuah makna besar, dan jalan mewujudkan impian saya sebagai orang tuanya, yakni berharap ketiga putra-putri saya itu bisa menjadi seorang hafidz. Penghafal kitab suci Alquran. Meski saya sadar, tak mudah mewujudkannya, sebab butuh perlakuan khusus untuk menciptakan seorang hafidz.

Terlepas sulit atau gampang, pesanan kitab suci Alquran ini juga sebagai ingatan bagi banyak orang tua, bahwa anak-anak seumuran Noval, memang selayaknya diperkenalkan ilmu agama sejak dini. Sebab dalam usia seperti inilah pondasi keimanan manusia mulai terbangun, meski sang anak belum mengerti apa-apa tentang makna pesanan itu. Tetapi saya amat meyakini jika anak seumuran Noval masih terbilang bersih dari lumuran dosa duniawi. Boleh jadi yang bicara adalah fisik anakku Noval, tetapi lebih dari itu, bisa jadi Malaikat-lah yang datang untuk mengingatkanku, agar sebisa mungkin setiap hari membaca kitab suci-Nya.

Nauzubillah Min Zalik...terima Kasih Anakku..terima Kasih Ya Allah. Engkau masih menyayangi Kami...Amin



Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX