25 July 2013

MENULIS sosok Samsu Umar Abdul Samiun, saya akrab memanggil beliau dengan sebutan Pak Umar Samiun merupakan kebanggaan tersendiri, sebab merupakan satu peluang untuk menerapkan bagian-bagian keilmuan yang saya peroleh selama ini dalam kapasitas saya sebagai penggiat ilmu komunikasi. Mungkin cara berpikir ini dinilai sederhana oleh banyak orang, tetapi menyelami cara berpikir banyak tokoh seperti sosok Pak Umar  adalah cara tersendiri untuk mereduksi sisi-sisi positif  tokoh dimaksud yang mungkin hari ini belum bernilai apa-apa, tetapi kelak suatu saat akan buku ini akan menjadi lembar-lembar bernilai ketika kita mencoba menemukan apa yang disebut sebagai sebuah kebenaran berpikir.

Kalimat ini terangkai untuk menjawab sebuah pertanyaan, apa value (nilai) yang bisa dipetik dari sebuah tulisan anda pada tokoh yang belum menyelesaikan masa kepemimpinannya? Mungkin asumsi ini bisa dibenarkan sebab kebanyakan buku-buku bergenre monografi atau biografi tertulis ketika seseorang berhenti dari aktifitas kehidupannya. Bagi saya ini tantangan pribadi sekaligus tantangan kinerja dari tokoh yang dituliskan, sebab setidaknya tulisan-tulisan yang terangkai dalam buku ini bisa dimanfaatkan oleh publik pembacanya sebagai kontrak pemikiran atas gagasan-gagasan tokoh dimaksud dalam perjalanan kepemimpinannya kedepan. Seperti sosok Pak Umar yang baru memulai perjalanan hidupnya sebagai seorang Bupati di wilayah  yang bernama Kabupaten Buton.

Tetapi kemudian saya membatin dalam pertanyaan sendiri, apakah harus berhenti menulis seorang Umar Samiun hanya dengan alasan di atas? Tentu tidak, sebab sejumlah alasan juga menyertai pikiran saya selaku penulis, yakni minimnya literatur-literatur tentang tokoh-tokoh Buton, khususnya dalam perjalanan daerah ini sebagai daerah otonom di Indonesia sejak kelahirannya tahun 1964 silam, ketika Buton pertama kali ditetapkan sebagai daerah tingkat dua di Indonesia. Bahkan boleh jadi, buku ini terbilang yang pertama yang menulis tentang sosok Bupati Buton, justru di kepemimpinan Buton yang kedelapan.

Oleh karena itu, tulisan-tulisan ini saya bingkai dalam satu judul sederhana ‘Jejak-jejak Berpikir Umar Samiun’,  yang mencoba mengetahui cara berpikir, cara bertindak dan nilai-nilai moral yang melatar-belakangi dari sosok Bupati bernama Umar Samiun. Sosok tokoh yang bisa disebut sebagai pemuda yang sukses dalam meniti karir politiknya, dari pengusaha, ke lembaga legislatif hingga merengkuh jabatan sebagai Bupati. Bahkan jika menyimak almanak kelahirannya yang bertahun 1966 masih memungkinkan jika Pak Umar masih memiliki karir politik yang panjang.

Tentu tulisan-tulisan yang termaktub dalam buku ini tak bisa menghindar dari hal-hal subjektif, sebab meramu hal-hal yang menjadi sisi-sisi positif dari ketokohan Pak Umar dalam posisinya sebagai kepala daerah. Apalagi kepemimpinannya selaku Bupati, baru terbilang setahun. Karenanya menjadi wajar jika asumsi dan aroma pengkultusan figur juga mengemuka dalam buku ini, meski niat penulis tidak seperti itu. Niatnya sederhana, mencoba merangkum gagasan, ide, cara berpikir dan cara bertindak tentang apa yang akan dilakukan Pak Umar dalam kapasitasnya selaku Bupati Buton. Penulis juga ingin mengemukakan satu pendapat tentang pentingnya berpikir positif; bahwa ketika seseorang mengedepankan sisi positif dalam pemikirannya, maka energi positif juga senantiasa mengitari perjalanan kehidupannya. Seperti kata Pak Umar ketika saya pertama kali mewawancarainya. “Jika Anda keluar rumah hendak bertemu saya dan mengatakan sulit untuk bertemu, maka besar kemungkinan Anda tidak bisa bertemu saya kala itu, sebab sejak awal Anda berpikir negatif tentang saya,” ujarnya.

Jejak-jejak Berpikir Umar Samiun. Lagi-lagi saya menegaskan tema penting yang menjadi judul utama buku sederhana ini, sebuah judul yang akan membingkai pikiran-pikiran pak Umar dalam memulai perjalanan kepemimpinannya sebagai seorang Bupati.  Tetapi kemudian saya belum berani mengklaim, jika isi buku ini separipurna dan selengkap dari apa yang ada dalam benak Pak Umar, karena gerak hidup seorang manusia selalu berdinamika. Adakalanya serius, tegang, sedih, gembira bahkan penuh gelak tawa yang tak mungkin semuanya belum bisa terekam dengan mudah.

Apalagi posisinya sebagai seorang bupati yang waktunya banyak tersita dengan berbagai kesibukan, dan juga sebagai kepala keluarga dimana ruang-ruang waktu Pak Umar juga ia sediakan untuk hal-hal yang bersifat privacy yang perlu dihargai dan dihormati keberadaannya. Karenanya saya mahfum ketika beberapa staf Pak Umar menyebutkan jika hari Sabtu dan Minggu, beliau maksimalkan waktunya untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarganya. Manusiawi!

Oleh karena itu ketika merekam jejak berpikir Pak Umar, selaku penulis saya memaksimalkan waktu-waktu yang tersedia untuk wawancara singkat, baik dikediamannya, di lapangan atau mengikuti rapat-rapatnya. Selebihnya, mencoba merduksi pernyataan-pernyataan Pak Umar yang pernah termuat di media massa, baik cetak maupun online, atau mencoba mengambil cerita-cerita lepas dari jajaran Pemkab Buton, baik yang berposisi sebagai pejabat eselon hingga teman-teman yang berlevel staf seperti kawan-kawan yang selalu menerima saya dengan baik di Rujab Bupati. Karenanya, penulis berharap agar pembaca mahfum jika cerita-cerita dalam buku ini kerap tidak berjalan seperti alur sebuah buku biografi dari banyak pesohor di Tanah Air.

Ide awal penulisan buku ini bermula ketika saya bertemu Pak Maeta, Kadis Perhubungan Kabupaten Buton di Hotel Acasia Jakarta, saat itu beliau mengikuti diklat dan bercerita panjang tentang gagasan Pak Umar melejitkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Buton dari semula Rp 20 Milyar menjadi Rp. 250 Milyar dalam kurun waktu setahun kepemimpinannya.  Saya terkesima dan membatin dalam satu pertanyaan, apa benar Pak Umar bisa membuktikan gagasannya itu? Logikanya dari mana? Sebab kenaikan PAD seperti itu sangat fantastis, sebab melewati angka kenaikan seribu persen. Saya pikir tuturan Pak Maeta tidak lebih sebagai upaya untuk memperkenalkan sepak terjang bupati barunya itu. Tetapi alasan-alasan sederhana Pak Maeta membuat saya mudah memahami alur berpikir Bupati Umar Samiun.

Pertanyaan-pertanyaan ini juga sempat mengemuka dalam diskusi-diskusi hangat di media jejaring sosial sekelas facebook, ada yang optimis dan tentu banyak pula yang pesimis, sebab boleh jadi dianggap sebagai bualan politik belaka. Saya kemudian ‘merewind’ ingatan ke beberapa tahun silam tentang Pak Umar yang menurut saya sosok yang selalu penuh dengan ide-ide strategis, dan umumnya ia mampu membuktikan ide-idenya, termasuk ingatan saya tentang pernyataan Pak Umar ketika baru berkenalan di tahun 2002 silam, sepulang perantauannya di Jakarta dan mengatakan; “Hari ini kita masih tak punya arti apa-apa, tetapi hari ini adalah langkah menuju masa depan, jika hari ini kita berbicara tentang masa depan”

Jelang Ramadhan saat liburan kuliah tiba saya pulang ke Baubau. Hanya selang dua hari saya bertemu Pak Umar di Lapangan Merdeka yang tengah menyaksikan latihan tarian massal yang dipersiapkannya menyambut penyelenggaraan Sail Indonesia 2013. Saat bertemu saya menyempatkan bertanya tentang obsesinya soal kenaikan PAD Rp. 250 Milyar itu.  Pak Umar hanya tersenyum, dan mengajak saya berdiskusi kecil di pelataran Rujab Bupati. Saya tersanjung dengan ajakan itu, sebab saya hanya staf biasa yang tentu jarak sosialnya dengan seorang bupati terlalu jauh. Gaya berkomunikasi ini yang membuat saya makin ingin menelisik lebih jauh tentang sosok ini.

Mendengar banyak penjelasan dari Pak Umar inilah membuat saya menawarkan diri untuk merangkum ide-ide dalam bentuk buku sederhana. Ia tak langsung mengiyakan dan hanya meminta nomor ponsel saya, sebab kesibukannya menerima banyak tamu, dari sejumlah penari, pejabat, anggota DPRD hingga sejumlah tokoh masyarakat. Di benak saya hanya satu kalimat, “Pak Umar benar-benar magnet bagi banyak orang”

Dua hari kemudian, saya kembali bertemu Pak Umar dan diskusinya lebih serius. Dari persoalan PAD, tambang aspal, hingga gagasan-gagasan lain untuk membangun Buton lebih baik di masa depan. Usai diskusi,  Pak Umar justru menantang saya, “Kapan saudara mulai menulis?”. Saya hanya berkata singkat “Siap”, tanpa bertanya banyak lagi, sebab saya memahami komitmen tokoh ini, dan ia juga banyak tahu rekam jejak saya sebagai seorang mahasiswa yang masih menimba ilmu di Jakarta.

Karenanya, jika ada yang berasumsi tentang buku ini sengaja disusun dan dipublis adalah ‘pesanan khusus’ dari Pak Umar selaku subjek penulisan yang ujung-ujungnya bernuansa politis seperti kebanyakan penulisan buku bergenre sejenis yang pernah terbit. Saya tegas menjawabnya ‘tidak!’, sebab ide awal penulisan buku ini murni masukan penulis, draftnya disusun penulis, dan gaya penulisan serta cara pengemasan diserahkan kepada penulis, termasuk penerbit dan percetakannya juga diserahkan sepenuhnya kepada penulis. Tetapi untuk terkait privaci dan subjek penulisan tentu sepengetahuan tokoh dimaksud.

Namun begitu, tidak berarti buku ini lepas dari koridor yang bersifat akademis dan ditulis apa adanya tanpa pertimbangan dan nilai-nilai akademik tersebut. Karenanya penulis semaksimal mungkin menyajikannya sesederhana mungkin dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip menulis yang baik. Demikian pula kemasannya diupayakan dalam koridor seperti penulisan buku bergenre monografi dan biografi pada umumnya, meski dalam perjalanannya ada saja kekeliruan, baik alur, maupun gaya penulisannya. Karenanya tentu saran dan masukan yang membangun juga kami harapkan, sehingga kedepan buku-buku yang diterbitkan sejenis dapat lebih baik. Tetapi yang pasti nilai akhir dari buku ini diharapkan menjadi pembanding pemikiran dari pikiran-pikiran dari tokoh yang menjadi subjek penulisannya. 
**

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX