28 July 2013

ENTAH apa yang ada dalam pikiran putraku Moch. Refa, si sulung 11 tahun yang selalu mengingatkan tentang salat dan kematian. Yang pasti setiap kali ada ingatan tentang itu, rasanya merinding dan dingin hingga di relung hati. Maklum saja, si kakak demikian kami memanggilnya, memang terbilang berbeda dengan dua orang adiknya, Refi dan Noval. Sebab ia baru saja pandai dan lancar dalam berkomunikasi justru di saat ia kini telah menginjakkan kaki di kelas V SD. Selama ini hanya bahasa cadel dan kurang respon jika diberi sejumlah pertanyaan.

Satu lagi, hingga usianya ke sebelas tahun, Refa belum bisa merasakan nikmatnya buliran Nasi. Sejak bayi hingga sekarang ia hanya mengkonsumsi mie, roti, keju dan susu. Tetapi ada kesyukuran, ia kini telah bisa menikmati air tajian tanakan nasi. Tentu dengan doa, semoga kedepan Refa sudah bisa makan nasi seperti kebanyakan orang di negeri ini. soal ini, Refa sendiri berjanji pada saya dan ibunya; “Nanti SMP kakak makan nasi.” Katanya.

Soal salat dan kematian, entah dari mana ia mendapatkan info ini; apakah dari penceramah-penceramah ramadhan yang setiap malam di dengarnya di mesjid? Saya tak paham, tak pernah bertanya padanya soal ini. Yang pasti, Refa hingga saat ini terbilang sempurna ibadah puasanya, belum sekalipun bolong meski kini ia menyelesaikan puasa di hari ke-20-nya, meski Refa belum wajib atasnya untuk berpuasa, karena memang belum aqil balik.

“Saya tidak boleh meninggal dunia, etta dan bunda dan adik-adik tidak boleh meninggal dunia, tetapi saya mau masuk surga, saya takut neraka, makanya harus salat” katanya dengan sejumlah pertanyaan.

Ketika diberi penjelasan, bahwa semua yang bernyawa termasuk manusia pasti mati, Refa lagi-lagi mengelak dan sepertinya timbul rasa takut yang berlebihan. Refa hanya bisa berkata; “kan salat membuat kita berumur panjang, benar kan Bunda?” tanyanya lagi.


Tetapi dibalik kegusaran jiwa putraku ini, terbetik rasa keyukuran semoga saja ingatan ini terus ada dalam pikirannya tentang pentingnya ibadah salat. Bahkan ketika saya dan ibunya salat berjamaah, dan ia terlambat salat karena banyak bermain, maka ia kemudian berlari mengambil air wudhu dan memerintahkan adik-adiknya ikut salat. Refa sendiri menjadi imam bagi adik-adinya.

Ada rasa geli sekaligus bangga, ketika menyaksikan Refa jadi Imam salat adik-adiknya, sebab ia benar-benar tampil sebagaimana layaknya imam salat, fasih dalam bacaan-bacaan salatnya dan mengerti rukun-rukun salat itu sendiri. Yang terasa lucu, ketika usai salat, ia juga memimpin adik-adiknya zikir dan berdoa layaknya orang dewasa.

Hmm...rasanya ada sebulir air mata ketika menyaksikan ketiga buah hatiku ini bersimpuh dihadapannya. Pantas saja selama saya di Jakarta, ia selalu memesan kita Alquran dan tasbih untuk dipakainya setiap hari. Bahkan ia sendiri mulai bertanya, apa itu sekolah pesantren? Dimana pesantren itu?.

Yang pasti sejak kelahirannya, saya dan istri mendambakan mereka menjadi seorang hafidz Alquran. Karenanya ia pernah bertanya, kenapa Etta sekolah Doktor di Jakarta dan saya harus jadi penghafal alquran?. Saya belum berani menjelaskannya dalam usia Refa yang masih sangat kanak-kanakan.
**


Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX