Selamat datang d Blog pribadi Hamzah Palalloi.....Silahkan memberi komentar di bacaan Anda..






Era Perkotaan Humanisme

BARU sadar pada sebuah pertanyaaan, mengapa Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil- Walikota Bandung begitu fenomenal, begitu diagungkan, bahkan sempat ‘dipaksa-paksa’ menjadi calon Gubernur DKI Jakarta? tentu banyak jawaban pembeda yang bisa disematkan padanya. Jawaban yang berkisar pada siapa dirinya, dan apa saja yang dibuatnya di kota berjuluk ‘Paris van Java’ itu. 

Paling tidak persaksian mata di kota ini, mematahkan asumsi yang selalu meng-agung-kan kepala daerah yang getol membangun serupa dengan Kang Emil. Padahal tidak. Kang Emil tetaplah berbeda, pembangunan Kota Bandung jauh lebih memanusiakan warganya. Itu kenapa saya sebut ‘tidak serupa, berbeda’, bahkan sekalipun dengan keberhasilan Pak Ahok di Jakarta, juga kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Bicara fisik, Bandung mungkin tak seheboh daerah-daerah lainnya, bukan dengan bangunan megah, atau jalan beraspal puluhan kilometer. Sebab kota ini secara infrastrutur telah terbangun sejak era penjajahan silam, yang juga mewariskan heritage-heritage mengagumkan. Paling tidak kita bisa berkata Bandung terwariskan infrastruktur Eropa yang mengagumkan. Itu modal awal kota jelita ini.

Bandung memang kota macet, tetapi warganya selalu menebar senyuman, sebab di kemacetan mata selalu termanjakan dengan taman-taman jalan, pot-pot kembang yang sengaja digantung di pepohonan, plus wanita-wanita cantik yang ada di mana-mana. Toh jika berpapasan dengan preman sangar, tampangnya pun tak sesangar dengan preman-preman perkotaan yang berotot, berperangai kasar, dan kerap menyertakan umpatan. Teringat sinetron ‘preman insaf’ yang berlatar Kota Bandung itu. Ada kelucuan di sana, bahkan kebahagiaan. Bahagia menyusur setiap lekuk-lekuk Kota Bandung.

Kata ‘bahagia’ ini, memang menjadi indikator keberhasilan Kang Emil dalam memimpin. Sebutannya indeks kebahagian warga kota, yang ia ukur dari seberapa banyak warga keluar rumah di malam hari. Bukan apa-apa, tetapi menikmati keromantisan kotanya. Analoginya sederhana, warga yang berdiam dalam rumah di malam hari karena merasa tidak aman dan tak nyaman. 

Sepertinya konsep pembangunan Kang Emil seolah mendeskripsikan Kota Bandung sebagai adalah rumah besar yang aman, nyaman, menyenangkan, dan menyediakan apa saja bagi warganya, juga bagi mereka yang berkunjung. Pokoknya siang dan malam, situasinya sama saja. Sama-sama menyenangkan. 

Karenanya, tak mengherankan jika spot-spot kota ini selalu diselimuti pedestrian (trotoar) yang nyaman bagi pejalan kaki. Jika lelah, ada saja tempat nongkrong berupa kursi panjang yang disediakan di setiap jengkal radius meter pedestrian itu, plus spot-spot wifi internet yang tersebar di mana-mana, dengan taburan pot-pot bunga serta bola-bola beton yang menjadi hiasan sekaligus berfungsi sebagai pembatas jalur kendaraan, yang biasanya menggunakan trotoar sebagai areal parkir. Singkatnya, kehidupan Kota Bandung benar-benar memanusiakan warganya. Ini yang bisa disebut sebagai kota humanis, yang patut menjadi contoh bagi kota lainnya dalam menderukan pembangunan fisik perkotaan. 

Tak berlebihan jika tulisan ini menyematkan Kang Emil sebagai sosok pemimpin pembangunan perkotaan humanis. Sematan yang dilatarbelakangi oleh inovasi Kang Emil yang memanfaatkan kehidupan sejarah, dinamika warga, dan masa depan kota ini yang selalu menawarkan romantisme. Ia seakan sadar, bahwa sejarah telah menuliskan jika kota ini memang menyenangkan. Sebagaimana pesan seorang filsuf Belanda WA. Bouhower seabad siilam dengan mengatakan, “Bumi Parahyangan (Bandung) terlahir saat Tuhan sedang tersenyum”. Kalimat filosofis yang begitu bermakna.

Soal figur kepemimpinan, nama Kang Emil di mata warganya jauh lebih populer dibanding nama sebenarnya, Ridwan Kamil; dua penyebutan yang teramat berbeda, juga derajat berbeda. Kang Emil lebih merakyat, lebih merasuk ke relung-relung hati warganya. Makanya wajar jika sopir-sopir angkot dan akang-akang becak di sana, lebih suka menyebut nama ini ketimbang Ridwan Kamil. Mungkin ini ‘terapi’ yang dibuat Kang Emil agar ia mudah mempengaruh pikiran orang Bandung dalam mensukseskan apa saja yang ada di benaknya.

Tak ada salahnya kita belajar pada sosok ini!

Monianse Effect

Tulisan ini tak hendak menggiring opini untuk berpetakonflik pada salah satu kandidat wakil walikota di Bumi Wolio ini, khususnya pada pribadi La Ode Ahmad Monianse, tokoh muda, penggiat sosial enterprneurship, mantan anggota dewan, Dirut PDAM, hingga ketua umum di partai penguasa tataran lokal Kota Baubau. Ia juga sosok yang tak banyak mengumbar bicara.

Toh, jika Monianse adalah menjadi pilihan atau tidak, itu hak masing-masing orang. Semua harus dihormati tanpa perlu debat yang menohok urat syaraf. Sebagai pembelajar komunikasi politik, fenomena Ahmad Monianse baik menjadi kajian khusus di tingkat akademik, khususnya hubungan dan polarisasi “kekuatan orang” dengan “kekuatan organisasi politik” berbentuk partai.  Stressingnya di situ – pada pro kontra yang menggiringnya. Bukan dipilih atau tidak dipilih, agar tetap dalam koridor objektivisme politik.

Tatkala disandingkan dengan petahana, AS. Tamrin, dibanyak sisi Monianse diwacanakan lemah dukungan, dengan berkaca pada hasil Pemilu legislatif 2014 silam yang membenam namanya, padahal ia seorang ketua partai. Bahkan pragmatisme politik jelang Pilwali 2018 juga mengurung sosok aktivis sosial ini yang diwacanakan secara subjektif sebagai politisi yang ‘pas-pasan’ secara materil. 

Siapapun Monianse, ia teramat seksi dalam politik sekelas Pilwali, sekali lagi ini Pilwali,  bukan pemilu legislatif.  Ia memiliki kekuatan politik mumpuni secara struktural, terkecuali ia ‘dikudeta’ mendadak dalam posisinya sebagai ketua PDI-P jelang
Pilwali. Sebab bagaimanapun partai besutan Megawati Soekarno Putri ini amat ditakuti lawan-lawannya karena jejaring kekuasaan yang begitu mengakar secara nasional.

Di sudut ini, Monianse tentu tak bisa dipandang remeh, apalagi Baubau adalah “kota” yang tentu menjadi salah satu teropong  politik Senayan sepaket dengan Pilgub Sultra, di mana PDIP secara nasional memiliki ambisi merebut kuasa dari dominasi Partai Amanat Nasional (PAN) di Bumi Anoa ini di Pemilu 2019, sebab secara politik Sultra menjadi salah satu “aib politik” Moncong Putih. Singkatnya, hasil Pilkada di Sultra dan Baubau akan berbanding lurus dengan Pemilu 2019 nanti.

Andai saja, Monianse paten sebagai pasangan AS.Tamrin, dan paten sebagai ketua PDI-P Baubau,  maka segala “kekurangan” Monianse hanya terlihat hingga AS Tamrin mengakhiri masa jabatannya sebagai walikota  di bulan Pebruari 2018 nanti. Sebab, kekurangan itu muncul akibat dominasi AS Tamrin sebagai walikota yang dinilai memiliki basis pemilih tradisonal di beberapa kalangan.

Cara melihatnya secara objektif, yakni meletakkan AS. Tamrin sebagai kandidat walikota saja, sebagai ketua partai saja, bukan sebagai petahana, maka terlihat posisi AS.Tamrin dan Monianse, menjadi sejajar, tetapi secara struktural di politik nasional, Monianse tentu akan membaik, apalagi jika struktur-struktur itu akan bekerja maksimal. Di situ seksinya politik Monianse, ia bisa melahirkan banyak effek, bila saja terabaikan. 

Sekali lagi, catatan kecil ini tak hendak menggiring pilihan pada paket AS. Tamrin-Monianse, sebab kandidat pasangan lainnya tentu menawarkan visi-misi yang menjanjikan. Memilih adalah hak Anda yang dihormati regulasi. Sama dihormatinya, ketika AS. Tamrin memilih atau tidak Monianse sebagai pasangan politiknya d Pilwali.

Ini sekedar catatan kecil yang berharap menuai makna, bahwa menghitung-hitung politik, bukan menghitung angka-angka paten, semua dipertimbangkan secara matang. Politik pun tidak selalu membuai rupiah sebagai jalan utama, tetapi menawarkan orang sebagai alat uji coba. Apalagi, PDI-P memiliki kebiasaan ‘bermain’ di akhir-akhir pertandingan.

Kita tunggu saja, siapa pasangan paten Pak Tamrin yang didaftar di KPU, semua berpulang pada pilihan politiknya. Tuah dan resiko itulah seni dalam berpolitik, sebab kandidat lainnya pun telah menunggu dan bersorak untuk berkompetisi. Siapapun terpilih, berharap Baubau bisa lebih baik. Selamat malam.**

Kekaburan Ethos, Pathos, Logos

ZAMAN Soeharto berkuasa, elite-elite semacam Susi Pudjiastuti – menteri kelautan dan perikanan, juga Pak Ahok – Gubernur DKI Jakarta; (mungkin) tak selintas pun terdengar namanya dalam rekruitmen kepemimpinan bangsa ini; bukan soal kemapanan atau kemampuan personal; tetapi dua tokoh seperangai Susi dan Ahok, bisa jadi terpalang ‘azas’ bibit – bobot –bebet. Susi bertato, Ahok tempramental. Artinya ada sisi tak sempurna untuk menjadi seorang publik figur. Boleh jadi memenuhi unsur bibit dan bobot, tetapi bebetnya tidak, demikian pula bolak-baliknya. Begitu ketatnya.

Memang zaman berbeda, masalah berbeda, perangai elite berbeda, segmen-segmen kerusakan moral juga berbeda, dan Pak Harto terlupakan zaman. Tetapi meracik kepemimpinan, tak perlu malu belajar pada pengalaman, sebab jika khawatir tersesat di persimpangan jalan, maka jalan bijak yang di tempuh adalah kembali ke mula jalan, lalu bersiasat lagi.

Bibit – bobot – bebet yang ter-branding sebagai pola-pola Orde Baru, pada hakikat bukan produk zaman itu. Ia abstraksi filosofis 2500 tahun silam, ketika Socrates (469 SM - 399 SM) memaparkan konsep ‘aktor’ yang piawai berkomunikasi, yang disebutnya ethos, phatos, dan  logos. Berkomunikasi dalam konteks ini (bisa) dimaknai sebagai –bernegara-, atau cara melahirkan orang-orang hebat dalam bernegara.

Ethos bertalian dengan track record, catatan perilaku, suri tauladan – atau kredibilitas. Phatos bertalian dengan pergerakan-pergerakan emosi seseorang dari dalam jiwanya. Sementara logos bertalian dengan pengetahuan (logika). Sederhananya, kegaduhan berbhinneka yang belakangan terjadi dalam kehidupan berbangsa, karena bangsa ini kehilangan ethos – pathos – dan logos-nya. Sesuatu yang seharusnya tak terjadi jika ada kesadaran kembali ke mula jalan itu.

Mula jalan tak berarti kembali ke zaman Socrates, atau berpijak pada residu status quo kehebatan Orde Baru. Kita hanya belajar pada nilai filosofis keduanya. Mula jalan (bisa) berarti memijak pola rekruitmen aktor pada proses sebagaimana mestinya, sebab negara memiliki regulasi dan sistem yang baik untuk itu. Proses yang baik tak pernah melahirkan figur instan – yang bintang dua menjadi bintang empat – yang borjuis jadi gubernur.

Jika proses tak pernah membohongi hasil, maka tiliklah ethos, pathos, logos – sebab ia seperangkat proses dalam kitab-kitab moralitas aktor yang terpakai di belahan manapun di dunia ini, meski dengan nama dan ucapan yang berbeda. Tak perlu melontar sanggahan jika ketiga diksi itu hanyalah seperangkat teori yang dipergunakan dosen menjejaki otak-otak mahasiswanya.

Tahukah kita? tak mempercayai pemanfaatan teori pada hakikatnya menghilangkan nilai ketuhanan dalam segala aktivitas. Etimologi ‘teori’ berasal adalah kata theo yang berarti ketuhanan, dan ria - orios yang berarti perenungan. Paling tidak, mereka yang menolak argumen-argumen teori, dapatlah disebut sebagai penista nalar akademis.

Nalar  akademis adalah mula jalan bangsa ini terbangun, tatkala 66 orang tokoh bangsa yang tergabung dalam BPUPKI dengan semua label kebhinnekaannya merumuskan terbangunnya negara yang bernama Indonesia. semua berikhwal dari kekuatan ethos, phatos, dan logos, yang telah mengabur itu. ** (Hamzah Palalloi)

Bertarung Gagasan

Saya pastikan tak ingin terjebak pada tataran dukung mendukung di kontestasi politik daerah ini, baik di level pilwali maupun pilgub. Bukan apa-apa, bukan tidak suka, ataupun membenci. Di kepala saya tak ada rumus seperti itu, sebab sadar jika hak berpolitik bila digiring pada soal suka atau tidak suka, benci membenci, jangan harap kualitas politik daerah akan membaik.

Ini juga perlu diketahui oleh para kandidat, pun tak boleh membangun institusi politik berlandaskan managemen konflik, sebab hasilnya akan menggelisahkan diri sendiri. Sama juga untuk para suksesor, sekali-kali jangan membangun politik elitis, dipastikan anda dijauhi konstituen. Begitulah kondisi kekinian, pemilih telah memiliki kesadaran terhadap hak politik yang dimilikinya. ia ingin hak itu menjadi sesuatu yang mahal dan istimewa.

Mahal, istimewa tak berarti harus dirupiahkan, tetapi mendapat tempat yang selayaknya diposisikan pada ruang yang merasa terhargai. Karenanya politik kadang membutakan apa aktivitas yang dilakukan kandidat, terkecuali value sosial yang melekat padanya.

Suksesor sebagai perwakilan diri kandidat sejatinya bisa membangun gagasan-gagasan strategis ketimbang membangun data-data berdasarkan situasi subjektivitas yang mengenakkan telinga kandidatnya. membangun gagasan tak sekadar berwacana, atau lebih dari itu... metawacana. tetapi juga masuk di area pertarungan gagasan.

Bertarung di konsepsi ini bukan diartikan menekan, memaksakan ataupun menebar agitasi. sebab kita tidak lagi pada laku politik seperti di zaman hitler, mussolini, ataupun jenderal zasdzli di mesir. kita sedang berada di dunia 'softpolitics', eranya ridwan kamil, ibu risma, ataupun nurdin abdullah, yang menebar cinta dan kasih sayang lewat ide-ide kreatif, yang menyentuh kalbu para pemilih. Namanya politik humanis, saya yakin anda bisa melakukannya.

Sengaja mengungkap ini, sebab menyadari jika masih banyak kandidat-kandidat kepala daerah, dari bakal calon gubernur, walikota dan bupati, memiliki watak-watak hitler, mussollni, maupun zasdli, yang amat buas dan ditakuti, angin topan pun lewat.....hehehe, bahkan pura-pura hidup sederhana, padahal uang tersimpan dalam bankir di lapis-lapis tanah.. bahkan membungkus diri dengan citra ala aliando, algazali, mungkin juga justin beiber.. sori kalau salah tulis, sebab hakikinya saya menggemari artis-artis pinggir ala Pantura..

Hendak bilang pada anda, bertarung gagasan mungkin sebuah kompetisi konsepsi dan cenderung teoritik, tetapi itu jangan dipandang remeh. sebab dari sana bukan hanya isi otak yang diketahui, tetapi publik bisa menilai laku dan karakter anda sebenarnya. di sana ketahuan kebaikan dan kebusukan yang lahir dari cermin sosial verbal anda. berani?? saya pastikan anda mengatakan berani, meski belum tahu seperti apa anda di sana...

Pemirsa... kini kita berada di alam demokrasi yang terbuka, bebas sesuai hati nurani.. tetapi saya jadi teringat seorang ilmuwan yahudi, yang berkata bahwa demokrasi adalah puncak dari ateisme.... duh....

Selamat Pagi...

Era Politik Humanis

TIDAK sedang mengargumentasi siap pemenang Pilwakot Kendari bulan depan; melainkan merindukan jika yang terpilih nanti adalah sosok humanis, yang kepimpinannya menjadi idola banyak orang. Paling tidak,  kepemimpinan Kendari menjadi ‘cerita baru’ masyarakat Indonesia – bukan sekedar pemimpin pekerja – pembangun  - atau istilah lain yang terasa jadi residu cerita-cerita Orde Baru, seperti pada banyak ‘visi’ yang terpajang di baliho – baliho yang terkesan kurang kreatif, bahkan berakhir menjadi sampah demokrasi di sudut-sudut perkotaan.

Tak perlu tersinggung dengan diksi kalimat ‘sampah demokrasi di sudut perkotaan’, sebab begitulah realitas berpolitik banyak tim sukses menampilkan panggung depan dramaturgi kandidatnya. Mau calon ini, atau  calon itu, ujung-ujungnya menjual tampang, jualan tagline, dengan warna-warna khas partai pengusung. Bahkan ada yang mirip-mirip jualan produk jamu, atau tagline copy-paste kandidat kampung sebelah. Boleh jadi kampanye ala Trumph – Presiden AS terpilih bakal booming lagi di negeri ini.. Heheheh..Kita memang begitu!

Intinya, sekadar mau bilang, ini eranya politik humanis; politik dimana pemimpin terpilih benar-benar bisa dicintai warganya. Apalagi paradigma mendapatkan kekuasaan di Indonesia juga telah bergeser jauh dari poros semestinya. Dari ‘kekuasaan mencari orang’ menjadi ‘orang mencari kekuasaan’(Arifin:2009).

Di zaman Orba hingga awal-awal reformasi; paradigmanya ‘kekuasaan mencari orang’ – artinya partai politiklah yang sibuk mencari kandidat-kandidat terbaik; yang cerdas; berpengalaman. Soal duit, urusan belakang. Setelah reformasi hingga sekarang, paradigma politik berubah menjadi ‘orang mencari kekuasaan’. Karenanya siapa yang punya uang dan popularitas, menjadi buruan pemangku kepentingan. Pengalaman, kapasitas menjadi terabaikan, parpol menjadi buruan, loyalitas berpartai juga meredup. Karena itu jangan lagi persoalkan istilah ‘politik kutu loncat’. Itu sudah biasa. Berdoa-lah agar era ini segera berakhir, entah kapan.

Apakah politik humanis menjadi oase kerinduan di tengah getir dan mahalnya ongkos politik memilih pemimpin? Bisa jadi begitu, namun format politik humanis itu belum baku dan terbukukan hingga sekarang. Paling standar, humanis itu selalu terbahasakan dengan merakyat, beretika, dan isu-isu lain yang menyangkut kemanusiaan. Kontesknya mulai terbaca di politik Jakarta saat ini, dengan tagline ‘Jakarta bersahabat’, ‘Jakarta memanusiakan’ dan lain sebagainya. Ini memang isu perkotaan, tidak terkecuali  Kota Kendari ke depan.

Deru pembangunan boleh laju, tetapi manusia di dalamnya tak boleh terinjak pembangunan itu. Sebaliknya manusianya bergembira, menikmati, dengan penuh keromantisan. Jadi teringat obsesi Barrack Obama, ia berkata begini; “Kebesaran Amerika bukan ditentukan oleh ketinggian pencakar langit atau besarnya kekuatan militer dan keberhasilan ekonomi. Kebesaran bangsa ini ditentukan oleh keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sejajar”.

Mungkin ujaran ini yang sedikit dekat dengan tafsir politik humanis itu, dan mungkin itu juga yang membuat Kang Emil memimpin Kota Bandung begitu dicintai warganya, padahal dia bukanlah sosok ‘bapak pembangunan’ Bandung. Ia hanya selalu berusaha membuat warganya menjadi lebih bahagia, tertawa, bahkan bercanda melalui jejaring sosialnya. Saya justru melihat Kang Emil tak lebih dari seorang ‘pembuat taman’ yang kreatif dan humanis. Pembuat taman yang diimpikan banyak orang di negeri ini, yang membuatnya ikut ‘dipaksa-paksa’ terlibat dalam pusaran politik Jakarta setahun lalu, mungkin juga akan dipaksa-paksa menjadi pesaing Presiden Jokowi ke depan. Mungkin!

Yang pasti ini era politik humanis, silahkan menafsir, pemimpin apa yang Anda inginkan untuk Kota Kendari bulan depan. Anda penentunya.
-----------------------------------------


Easy to Relation, bukan Easy to Lazy

BELASAN tahun lamanya kehidupan kemanusiaan telah menyatu dengan kehidupan jejaring sosial yang digerakkan teknologi bernama internet; international networking. Wajah kemanusiaan manusia tak lagi berbatas dinding-dinding kamar; tak berbatas kata tabik; dan tak berbatas sekat-sekat apapun. Hubungan menyatu dalam satu genggaman dan gerak-gerak tuts komputerisasi yang bernyawa.

Kebebasan akhirnya menyeruak ke mana-mana, semua jadi abai dan tersapih oleh kemajuan yang diciptakan sendiri. Tersadar dan cemas tatkala kodrati kemanusiaan tercampakkan oleh produknya sendiri; ketika pikiran teknologi mengalahkan humanistik. Sadar tetapi menikmati, hingga menjadi selaput tipis yang tak berbeda dengan ketidaksadaran itu sendiri. Pusing menghadapinya, tetapi lebih pusing jika tak menikmatinya. Begitulah rajam teknologi. Consciousness mind!

Kata Sigmund Feud (1856-1939), kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Seibarat gunung es di bawah permukaan laut, bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan. Itu definisi dan analogi Consciousness mind! Banyak yang tahu ini.

Kesadaran inilah yang mencemaskan wajah bangsa 250 jutaan orang ini; hoax dilawan hoax, twit  dilawan twit, rakyat berteknologi ria–pemerintah pun (seolah) repsesif, karena tak mampu membendung derasnya jejaring networking rakyatnya yang terus berbicara apa saja, semaunya - hingga tiba di titik kesan pada hasrat meruntuhkan wibawa dan simbol bernegara, menjadi alat makar.

Itu tak keliru, memang perlu kewaspadaan, sebab kemajuan teknologi komunikasi bisa menjelma menjadi pisau tajam yang bisa merobek segalanya, jika tak mengembalikan posisinya sebagai tools yang memudahkan pekerjaan. Bukan menjadikan teknologi yang memaksa manusia mengubah diri menjadi robotik yang di atur produknya sendiri.

Ini kecemasan yang sebenarnya telah diramal ilmiah Herbert Marcuse (1898-1979) di tahun 60-an, pemikir kritis dari Mazhab Frankfurt yang dikenal dengan pandangan masyarakat ‘one dimensional man’-nya. Marcuse berpendapat bahwa manusia menciptakan, memanipulasi dan memeralat benda-benda, alam serta mesin-mesin, untuk memudahkan hidupnya. Di saat yang sama, hal itu juga berlangsung di wilayah politik dan kultural. Di sinilah manusia dan masyarakat tak terkecuali berada dalam penguasaan dan manipulasi teknologi. Ramalan teoritik yang sebenar-benarnya telah terjadi di era kekinian.

Marcuse (seolah) ingin mengingatkan bahwa manusia akan hidup nikmat jika dialah yang memengaruhi teknologi, memengaruhi modernitas, bukan sebaliknya. teknologi itu easy to relation bukan easy to lazy. Dibuat untuk memudahkan berhubungan satu dengan lainnya. Negara punya banyak cara bijak mengaturnya, tanpa perlu menjadi Korea Utara yang membatasi internet dan jejaring networking seperti hantu gentayangan yang meruntuhkan kewibawaan pemimpin dan simbol-simbol negara.

Negara bisa bijak tanpa perlu huru-hara mencari biang berklaim makar, karena ketidak mampuan mencari formula tepat. Sebab negara tahu, bahwa memuliakan sisi-sisi kemanusiaan rakyatnya, adalah cara tepat mengalahkan angkuhnya teknologi.

Berbicara langsung, menepuk pundak rakyat, menyediakan ruang-ruang berkumpul yang nyaman, membangun taman-taman kota, tak memaksakan desa menjadi kota, tak memaksakan yang instan, adalah sedikit dari banyak cara memuliakan manusia. Tak salah jika belajar pada kalimat bermakna Goenawan Mohammad, sastrawan bangsa ini; “Kita tak jadi bijaksana, bersih hati dan bahagia karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan "How to"...Kita harus terjun kadang hanyut, kadang berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam perbuatan, dalam merenung dan merasakan dalam laku. Ujian dan hasil ditentukan di sana.”

**

Kenapa Kelelawar Selalu Tidur Terbalik?

Inafeed.com – Salah satu hewan nocturnal yang memiliki banyak keunikan yakni kelelawar. Binatang yang tidur di siang hari dan berkeliaran di malam hari ini dianggap punya cara tidur yang unik yakni dengan posisi badan terbalik dimana kaki bergantung di atas dan kepala di bawah.

Dan tahukah kamu , kenapa kelelawar tidur dengan cara terbalik ?
Ada beberapa alasan kelelawar memilih tidur dengan posisi terbalik atau menggantung. Cara tidur seperti ini menjadi keunikan tersendiri yang ada pada hewan bersayap unik ini.

Seperti yang dilansir dari viva.co.id, inilah dia beberapa alasan kenapa kelelawar tidur selalu terbalik.

Pertama, kelelawar tidur terbalik karena mereka menghindari predator. Seperti diketahui, kelelawar aktif di malam hari sehingga mereka tertidur di siang hari. Tidur di tempat yang tinggi membuat mereka tetap aman dari jangkauan predator hingga malam tiba.
Kedua, kelelawar menggantung saat tidur untuk memudahkan mereka memulai penerbangan. Posisi yang menggantung di tempat tinggi memungkinkan mereka lepas landas dengan lebih mudah.
Ketiga, kelelawar menghemat energi ketika mereka tidur terbalik. Mereka hanya perlu terbang ke posisi bertengger yang diinginkan, kemudian membuka cakarnya dan menemukan permukaan yang dapat digenggam.

Dan salah satu faktor utama kenapa kelelawar tidur dengan cara terbalik ini juga dipengaruhi oleh berat tubuh bagian atas yNG akan menarik tendon yang terhubung dengan cakar ke bawah, dan menyebabkan cakar mengepal serta menggenggam tempatnya bertengger. Dengan cara itu, kelelawar tak perlu melakukan usaha apa pun untuk tergantung terbalik.

Sementara itu , cakar yang terus tertutup itu akan tetap membuat sang kelelawar tetap bertengger bahkan ketika ia mati.

Unik ya….