21 June 2011

Pemimpin Australia Protes Karena Sapinya
Pemimpin Indonesia hanya berkelit Saat Ruyati di Pancung 
-------------------------------------------
Rasanya semakin tidak arif pemimpin bangsa ini, hanya mampu berapologi ketika warganya terhukum pancung di Saudi sana. Hanya mampu beretorika tentang kemanusian, tentang perjuangan buruh, namun ketika kenyataan itu datang, pemimpin bangsa ini seolah menjelma sebagai pengurus jenazah.

Jenderal SBY
Jasad Ruyati adalah sebuah fakta dan perenungan yang tak bisa kita tutupi, jika memang pemimpin kita tak punya nyali di mata dunia. Bangsa ini seolah hanya menjadi bulan-bulanan pasar dunia yang dinina-bobokkan dengan kata-kata demokrasi, reformis, dan bangsa yang maju dalam berfikir. Lalu apakah itu yang membuat rasa kemanusiaan pada rakyat sendiri menjadi pupus? Australia telah memberi pelajaran penting bagaimana mereka sangat peduli dengan nyawa mahluk hidup. Jangankan nyawa manusia, sapi-sapi mereka sekalipun tak ingin dipancung.

ahmadinejad, presiden iran
Soal pemimpin, Pak Beye dan jajaran yang terkait dengan ini perlu belajar dari kisah Basri Masse, pria Sulsel yang terkena hukuman gantung di Malaysia belasan tahun silam, tapi Presiden Soeharto dan kabinetnya kala itu tidak diam, mencari detail bagaimana kasus itu terjadi, dan bagaimana hukum bisa diberikan pada Basri Masse,  padahal media pemberitaan kala itu tdak seramai sekarang. TVRI kerap memberirakan bagaimana negosiasi Pak Harto dengan PM Malaysia kala itu.

Lainnya, Gus Dur 12 tahun silam, dengan segala keterbatasan fisiknya pernah melalukan high diplomacy dengan Raja Saudi yang kemudian menganulir hukuman pancung seorang TKI bernama Siti Zaenab waktu itu. Ini berarti, bila pemimpin bangsa ini serius mengurus nasib warganya di manapun ia berada, tentu nasib Ruyati tidaklah sekejam itu. Nyawa memang urusan Tuhan, tapi jika pancung manusia berbicara, siapa yang salah?

Saatnya Keberanian itu
Apapun dalih tentang pemimpin bangsa saat ini, tampaknya faktor keberanianlah yang dibutuhkan. Negara ini tak cukup dengan pemimpin retorika, yang tampil di TV setelah disepuh bedak pemanis, atau menunggu kapan wartawan tiba semua di Istana lalu bicara. Bangsa ini butuh pemimpin yang punya keberanian. Keberanian untuk membela hak-hak hukum warganya di luar negeri, keberanian untuk menyatakan melawan atas kezaliman bangsa lain. Bangsa ini butuh pemimpin ala Ahmadinejad, yang berani melawan Amerika demi martabat bangsa Iran.

Mandela, pemimpin Afrika Selatan
Memang Ruyati Bin Sapudi hanya seorang Pembantu Rumah Tangga di Saudi sana, tetapi nyawanya sangat berarti sebagai simbol martabat sebuah bangsa, simbol keberanian seorang pemimpin, dan simbol kepdulian pemimpin terhadap warganya. Memang naif jika menyatakan harus SBY mundur hanya karena nyawa seorang pembantu, tetapi lebih naif jika akan muncul lagi Ruyati-ruyati lain yang akan mengalami nasib sama. Jika benar pemimpin bangsa ini adalah pemimpin pemberani, maka buktikan keberanian itu dimata pemimpin bangsa lain di dunia. Buktikan keberanian itu pada koruptor-koruptor, kepada para teroris, kepada mafia anggaran di DPR, bukan berani pada anak bangsa sendiri yang memperjuangkan sebuah kebenaran.

Saran Buat Pak SBY
Sebagai seorang Presiden di negeri ini, memang bukan pekerjaan mudah mengurus negara yang multikultur, dan amat luas ini. Tetapi bukan berarti, seorang Presiden merasa berat dengan semua itu. Resiko sebagai pemimpin yang ditangan Bapak bergantung nasib 270 juta orang Indonesia. Dari nasib seorang Wakil Presiden hingga tukang sapu dan pembantu ala Ruyati.

Seorang Presiden tak perlu hidup mewah, yang setiap pergerakannya menimbulkan anggaran yang banyak karena pengawal yang banyak pula. Negeri ini bisa kaya, kalau petinggi-petinggi negara ini mampu hidup seperti layaknya kesederhanaan Ahmadinejad, sehingga rakyat kita tak perlu jauh-jauh ke luar negeri mencari sesuap nasi?

Seorang Presiden ketika berkunjung ke sebuah daerah tak perlu ribut-ribut, yang membuat daerah melakukan penyambutan besar-besaran, sehingga daerah juga mengeluarkan anggaran jor-joran? Tapi kesederhanaan itu bukan berarti bersikap sederhana terhadap harkat martabat di mata bangsa lain. Seorang Nelson Mandela, menjalani penderitaan belasan tahun di penjara, tetapi begitu keluar, ia tampil sederhana dan tidak dendam dengan apa yang pernah di alaminya. Beliaupun tampil sebagai pemimpin bangsa yang tak hanya di kenal bangsanya sendiri tapi juga dunia memandangnya sebagai tokoh yang besar.

Lalu apakah Pak SBY juga bisa seperti itu? Sederhana dan berani?. Kami masih berharap. Tetapi jika tidak, sampaikan pada  rakyat Indonesia, bahwa kita memang butuh pemimpin yang berani. (**)

Cikini di sore hari, 21 Juni 2011

Tulisan terkait baca : Kawallah Saya Melawan Pak Beye


2 comments:

  1. Negara yg memprihatinkan..
    dinegara ini cukup banyak orang pintar, tetapi hanya digunakan untuk dirinya sendiri, bahkan seorang presiden pun berpikirnya hanya sebatas partai. Ruyati dijadikan tameng politik bagi para elit politik dinegeri ini. media disibukkan dengan Ruyati dan Nasaruddin dilupakan, sekali lagi terulang pengalihan isu bagi rakyat indonesia. rakyat hanya akan menjadi boneka dikepemimpinan ini. pertanyaan yg simpel adalah Apa yg sudah didapatkan rakyat dengan terpilihnya SBY sebagai presiden? yg ada hanyalah kekacauan. kita cukup melihat satu langkah kebelakang dimasa orde baru, dimasa kepemimpinan Soeharto cukup kelihatan bahwa belum meledak bom, pelakunya sudah ketangkap tetapi dimasa kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono pelaku peledakan bom dicari setelah bomnya meledak. ada apa ini? keduanya memiliki latar belakang yg sama dari Militer. inilah cerminan kepemimpinan kita saat ini.

    ReplyDelete
  2. Indonesia SUDAH punya pemimpin yang ber-Ani...

    ReplyDelete

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX