30 December 2011


Saya baru saja membaca sebuah tulisan dari sebuah situs online nasional, yang menyatakan seorang Capres sebuah partai tua dan sarat pengalaman telah menggandeng sejumlah purnawirawan Jenderal untuk direkrut sebagai tim sukses pemenangan menghadapi Pilpres 2014 mendatang (maaf tak perlu menyebutkan nama Capres dan partainya). Tentu beragam opini lahir dari tulisan itu. Karenanya seorang rekan bertanya, bagaimana dan siapa saja ‘tim sukses’ Pak Prabowo Subianto? Saya jawab singkat; “TimSukses Pak Prabowo itu Rakyat!”

Saya tak terlalu banyak mengetahui, mengapa para pensiunan Jenderal itu direkrut ‘rame-rame’. Tetapi persepsi saya sederhana. Itu hanya bentuk interaksi simbolik yang dihadirkan Capres tertentu untuk mengabarkan pada khalayak, jika dirinya juga mampu memimpin para jenderal, mampu berkarakter tegas, seperti yang diinginkan khalayak Indonesia saat ini.

Pesan lainnya, Capres tersebut menginginkan dipersepsikan sebagai tokoh sekelas Jenderal, yang selalu mampu mengambil keputusan di saat genting, atau bahkan mungkin ingin menyamai popularitas  seorang Prabowo Subianto yang memang ‘Jenderal Murni’. Lalu mengapa harus rakyat yang menjadi Tim Sukses Pak Prabowo? Ini juga bentuk interaksi simbolik, selebihnya menjadi pesan pada publik jika Pak Prabowo telah menjadi miliki jutaan rakyat di Indonesia.  Banyak survey telah membuktikan hal tersebut, dan respon public begitu positif.

Perekrutan pensiunan Jenderal menjadi tim sukses dari seorang Capres Sipil, bukanlah hal yang tabu. Sesuatu yang amat biasa dalam sebuah dinamika politik. Siapapun boleh. Hari ini, Bangsa Indonesia tidak lagi melihat siapa ‘tim sukses’ seorang Capres? Yang mereka lihat, siap figure yang mampu menenangkan bangsa Indonesia dari berbagai ‘kekacauan negara’ sebagai symbol dari lemahnya system kepimpinan nasional saat ini. Kita tidak bisa membutakan mata sejenak dengan kasus Mesuji, Kasus Bima, Ambon dan Papua. Atau mungkin nasib ratusn ribu warga Lapindo yang masih hidup sengsara karena ‘human error’ tetapi di klaim sebagai bencana alam?

Dalam kacamata yang lain. Proses rekrtuitmen dan pendekatan stigma militer pada upaya pensuksesan seorang figure Capres hanyalah bahasa ‘komunikasi politik’ untuk terus mengangkat popularitas di tengah keberhikan rakyat pada Pak Prabowo. Maka sejogjanya siapapun yang menginginkan Pak Prabowo sebagai Presiden RI di 2014, maka langkah terbaik yang harus dilakukan adalah, berbicara 4 sampai 5 kata tentang Pak Prabowo setiap harinya. Sedehana bukan? Mungkin ada yang bertanya mengapa seperti itu?

Jawabnya sederhana pula. Pak Prabowo jangan sampai ‘sepi dari isu’, tetapi jangan pula Pak Prabowo masuk dalam ‘teori lingkar kebisuan (the spiral silence) artinya; jika ada persepsi negative, jangan diam, jawablah dengan sebenarnya. Biarkan kahalayak yang memberi penilaian. Jika ada persepsi positif tentang Pak Prabowo, itu juga sesuatu yang lumrah. Sebab semuanya adalah hukum causalitas (sebab akibat) dari seorang pemimpin.

Weits!! Seorang kawan saya menegur “Bang, jangan keluarkan semua peluru politik Pak Prabowo” saya jawab juga dengan sederhana. “Jangan pernah risau dengan Pak Prabowo, sebab rakyat telah bersamanya, rakyat punya cara untuk menjadikan beliau seorang Presiden. Yang terpenting beliau sekarang, adalah fokus mengkaji isu-isu strategis tentang apa yang diinginkan oleh rakyat. Dan lebih penting dari itu, Pak Prabowo tetap menjaga kesehatan, hingga masa memimpin negeri itu tiba saatnya.!!” Semoga.

Selamat Sore Indonesia Raya!

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX