23 January 2012

Tentu kita semua belum bisa memberi penilaian pasti, apakah memang kepemimpinan Presiden SBY di negeri ini kini tak lagi mendapat legitimasi rakyatnya? Fakta membuktikan, Pak Beye tetaplah Presiden, memimpin kabinet dan memimpin republik. Namun dimana-mana orang berbicara tentang kelemahan dan keinginan kuat agar SBY mundur di tengah perjalanan. Bahkan, beberapa hari ini saya menyaksikan Istana Negara kedatangan sejumlah demonstran dari kalangan aparat desa dan kelurahan, yang notabene ujung tombak Presiden menjalankan pemerintahannya di tingkat terbawah. Saya gamang melihat pemandangan itu. Gamang dalam menatap masa depan republik ini. Sejauh mana ia bisa bertahan sebagai sebuah negara?

Belakangan ini pula saya jarang menyaksikan siaran-siaran televisi atau membaca koran-koran nasional, malas rasanya. Saya malah menangkap beberapa fungsi media massa telah mengalami banyak pergeseran, tidak sekedar fungsi informasi, fungsi hiburan dan fungsi edukasi. Tetapi telah bergerak dan fokus ke ranah ‘agenda setting’ untuk mengungkap segala kebobobrokan system kepemimpinan nasional kita. Ujung-ujungnya, kredibilitas kepemimpinan kita menjadi merosot, dan kemudian melahirkan tokoh-tokoh instant yang selalu berbicara sisi-sisi negative kepemimpinan Pak Beye.

Jujur, saya bukan pengagum Pak Beye, tetapi dari rangkaian peristiwa yang ditayangkan atau dipublikasi media massa, sadarlah saya bahwa media kini telah beralih fungsi sebagai ‘senjata’ utama untuk menjatuhkan sang Presiden. Saya tidak menutup mata dengan sejumlah kasus korupsi yang membelit bangsa ini yang menjadi penanda utama kegagalan Presiden SBY, tetapi tanyangan sejumlah TV nasional yang mulai ‘jor-joran’ membombardir Pak Beye menguatan ingatan saya, bahwa media telah berupaya keras menjatuhkannya, namun media juga seperti lupa menciptakan figure yang kuat, jika saja agenda setting meruntuhkan kepemimpinan nasional itu terjadi..

Memang media massa bukanlah MPR yang memberi mandat kepada seseorang untuk kemudian tampil sebagai kepala negara. Tetapi ada baiknya media massa meng-agenda setting-kan, tokoh-tokoh nasional yang layak menjadi pemimpin di republik ini. Disinilah kemudian saya sadar, mengapa para elit politik negeri ini ramai-ramai mendirikan media massa, tentu karena ‘media’ ingin dijadikan ‘peluru’ dan bukan sekedar sebagai alat bisinis maupun wahana untuk menyampaikan informasi kepada khalayak.

Di sini pula saya sadar, mengapa para pebisnis media kemudian ‘ikut-ikutan’ banting stir menjadi politisi. Jawabannya sederhana. Media merupakan peluru tajam, sekaligus kendaraan besar yang nyaman untuk mengantarkan seseorang pada level puncak, yakni sebagai seorang elit di ranah kepemimpinan nasional. Tak perlu menyebut nama, siapa saja tokoh-tokoh yang memanfaatkan media sebagai kendaraan nyaman itu sebab public pasti mengetahuinya. Realitas sosial inilah yang kemudian membuat saya mengasumsikan jika suatu saat nanti media massa akan menjelma menjadi ‘boneka’ orang-orang tertentu, dan media akan jauh dari fungsi utamanya yakni sebagai ‘agent of change’ sekaligus ‘agent of control’. Dengan demikian, asumsi ini akan terus berkembang, jika media massa akan ditinggalkan publiknya jika sampai pada titik jenuh, dan mereka akan beralih dan mem-paten-kan media sosial, seperti facebook, twitter, blogging sebagai media yang bisa memenuhi kebutuhan informasi dan hiburan mereka, dan gejala ini makin lama makin menguat..

----------------------------------
Selain media massa, saya belakangan ini banyak bertemu dengan purnawirawan-purnawirawan dari pangkat perwira menengah hingga jenderal yang begitu gerah dengan kepemimpinan Pak SBY sebagai presiden. Hampir semua yang saya temui banyak bercerita tentang keinginannya agar SBY segera mundur, sebab tidak memberikan sesuatu yang terbaik bagi rakyat Indonesia. Pendapat mereka sederhana, dimana-mana yang terpublikasi di media hanya kerusuhan, korupsi dan mega skandal yang mencitrakan nama buruk Pak SBY yang juga seorang jenderal penuh.

Para purnawirawan ini tidak sekedar bercerita tentang kepemimpinan Pak SBY, tetapi juga mereka telah ramai-ramai ‘berkoalisi’ dengan sejumlah elit partai politik, bahkan menjadi tim sukses. Psikologinya, mereka tak suka gaya kepemimpinan Pak SBY yang seharusnya menggunakan ‘pola kepemimpinan dan pengalaman sebagai militer’ untuk diterapkan pada system kepemimpinan nasional Pak SBY. Mereka sangat meyakini, bahwa system pendidikan kepemimpinan di militer masih menjadi yang terbaik digunakan pada bangsa yang multikultur ini.

Entahlah. Saya hanya menangkap secara dangkal dan terkesan subjektif bahwa fenomena-fenomena yang dibicarakan media massa maupun oleh para purbawirawan telah membentuk satu persepsi baru bagi saya, yang saya sebut sebagai ‘kudeta setengah hati’. Kenapa? Karena mereka punya keinginan kuat untuk menjatuhkan Pak SBY tetapi kadang juga ada ketakutan dengan kondisi bangsa yang terus menerus tidak akan membaik, jika seringnya pemimpin berhenti di tengah jalan. Pemikiran itu muncul, karena kalangan militer selalu punya satu tekad ‘ NKRI harga mati’. Ini berarti apapun yang terjadi di negeri ini, Negara harus tetap utuh dan kuat.

Sulit untuk memberi solusi, bagaimana baiknya system kepemimpinan nasional saat ini. Sebab membiarkan kepemimpinan Pak SBY berjalan normal, diasumsikan sama dengan membiarkan kebobrokan, bahkan akan bisa mewariskan dinasti baru yang akan mempertahankan kebobrokan itu sendiri. Tetapi menjatuhkan SBY di tengah jalan juga dinilai tidak akan menyelesaikan masalah, sebab jika saja MPR tak kuat menerima beban jika SBY berhenti, maka yang muncul adalah lahirnya fiksi-fiksi yang secara nasional akan terus berkembang hingga ke daerah. Saya hanya takut jika membayang bangsa ini akan bernasib seperti Uni Sovyet, runtuh dan kemudian lahir negara-negara baru. Itu juga berarti semangat persatuan dan kesatuan se Nusantara sebagaimana telah dibangun founding father kita hilang begitu saja.

Komite Penyelamat Negara
Saya hanya bisa berasumsi, jika seandainya elit-elit nasional yang kontra SBY berkumpul dan bersepakat untuk membentu satu perkumpulan yang disebut Komite Penyelamat Negara, yang mempersiapkan secara matang bagaimana kondisi bangsa ini ke depan, jika asumsi terburuk SBY jatuh di tengah jalan. Tentu ini tak mudah, tetapi mempersiapkannya dari awal, jauh lebih baik jika kita terus meronrong tanpa harus menyiapkan solusinya.

Saya hanya miris menyaksikan orang berkumpul dimana-mana, dengan kelompok masing-masing, lalu kemudian mengkritik SBY. Mereka telah jengah dengan apa yang disaksikannya hari ini, tapi mereka seolah lupa bahwa mereka hanya berkelompok tanpa bersatu. Saya menyebutnya ‘kudeta setengah hati. Semoga bangsa ini tetap damai. **

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX