20 January 2012

Di Bukit Hambalang Bogor-Jawa Barat, saya seolah meresapi syair-syair kehidupan yang indah, saya tertegun menatap panjang bilik-bilik ruang harmoni dan ayunan dedaunan kembang merah jingga di taman. Menatap hamparan rumput hijau bersenandung akan keagungan Sang Pencipta. Di bukit ini, saya seolah hidup diantara lantunan nyanyian alam yang permai, bercanda dengan kesunyian, bercanda dengan semilir angin, dan seolah berpijak di taman surga bernama Indonesia. Karenanya, saya seolah melukis asa untuk negeriku, Indonesia.

Inilah sebait kalimat ilusi yang saya petik dari diskusi imaginer dengan Pak Prabowo Subianto, pemilik kawasan ini. Kenapa saya sebut sebagai diskusi imaginer? Sebab saya tidak terlibat diskusi langsung dengan Pak Prabowo soal kediamannya. Sesuatu yang berbeda dengan kawan-kawan sejumlah doctor muda yang sibuk mengurai muara panjang pikiran-pikiran pak Prabowo jika kelak ia memimpin republik ini. Pak Prabowo senang, karenanya diskusi tentang ‘negara’ dihabiskannya dalam waktu tak kurang dari tujuh jam. Bahkan hingga kembali ke Jakarta, Pak Prabowo tampak masih ingin bercanda.

Saya lebih sibuk menatap setiap jengkal kehidupan Pak Prabowo, kediamannya, tamannya, perpustakaannya dan dokumen-dokumen yang terpajang di setiap ruangan. Saya pikir, pekan lalu ketika diberi kesempatan berkunjung ke sana, dan diterima langsung Pak Prabowo, maka inilah awal untuk masuk dalam pikiran-pikiran Pak Parabowo. Tetapi saya justru menangkap hal lain yang perlu di kabarkan pada khalayak, bahwa Pak Prabowo adalah sosok tokoh yang tak sekedar cerdas merespon keinginan rakyat Indonesia masa kini, tetapi beliau juga seorang seniman kehidupan yang berkomitmen akan keindahan surga dunia bernama Indonesia.

Saat diskusi, saya banyak mencatat tetapi bukan mencatat angka-angka statistic, visi misi, dan cita-cita panjang Pak Prabowo, saya juga tak mencatat bagaimana ‘national wealth’ ala Prabowo Subianto. Saya lebih suka memandang sosok pribadinya. Lebih suka memandang kepolosan tubuh Pak Prabowo yang tak berhias jam tangan merek terkenal, dan jemarinya juga tak berhias cincin dengan permata mutu manikam. Saya menangkap kesederhanaan, yang tentu berbeda dengan sejumlah tokoh elit di negeri ini.

Pak Prabowo seperti lazimnya rakyat kebanyakan. Saat diskusi, Pak Prabowo hanya tampil dengan kemeja batik yang menurut saya harganya tidak seberapa. Mungkin lebih mahal batik-batik di Atrium dan mall-mall Jakarta atau bahkan Pasar Biringharjo Jogyakarta sekalipun. Setelah celana yang digunakannya pun terlihat biasa. Meski tak menyentuhnya tapi saya yakin, kain celana Pak Prabowo seperti buatan banyak konveksi di Kota Bandung. Begitu juga setelah sepatunya, hanya kulit biasa dengan model khas Indonesia.

Gaya berbusana Pak Prabowo amat serasi dengan kediamannya. Kediaman yang dibangun dengan menyesuaikan harmoni alam perbukitan. Bagi saya, seandainya semua orang Indonesia berfikir membangun kediaman ala Pak Prabowo, maka orang Indonesia tak akan ada yang terkena isomnia, sebab ia bisa terlelap kapan ia mau, tentu karena hembusan semilir angin senantiasa menjadi nyanyian malam menjelang tidur. Bahkan bisa jadi, tak banyak orang Indonesia yang menghabiskan uangnya ke Niagara, hanya untuk menikmati panorama perbukitan dan curamnya air terjun. Sebab bukit-bukit Indonesia ala bukit Hambalang bisa saja dipermak menjadi taman-taman indah jika kita mau.

Pak Prabowo seperti kebanyakan manusia Jawa lainnya. Ia bukanlah sosok jenderal yang harus ditakuti seperti banyak junta militer lainnya. Kehidupan Pak Prabowo masa kini, lebih bersahaja, ia tampak lebih bisa memahami bentangan pikiran rakyat Indonesia yang makin dipurukkan oleh kondisi negara yang bermandikan irama korupsi.

Pak Prabowo dalam kesehariannya juga menggunakan konsep jawa ‘Lengser Keprabon Mandeg Pandito’, dan memilih Bukit Hambalang sebagai tempat berdiam, bertafakur untuk memberikan yang terbaik bagi negerinya. Bukit Hambalang tidak sekedar ruang bermukim, dari sini ia melukis cakrawala Indonesia masa depan, tanpa harus larut dengan caci maki seperti banyak di praktekkan politisi bangsa ini. Di bukit ini juga, Pak Prabowo seolah mempersiapkan diri sebagai ‘resi’, yang bertitah hanya untuk kemaslahatan, dan menjamu anak negeri yang ingin bercengkrama dengannya. Jika ia tak sibuk dengan urusan bisnisnya, maka cukup mudah menemui Pak Prabowo.

Pak Prabowo memang seorang jenderal. Tapi di Bukit Hambalang ia bukanlah panglima perang yang menghunus senjata. Ia sepertinya menjelma sebagai seorang pertapa yang mencari nilai-nilai suci membangun negerinya di masa depan ketika rakyat mempercayakannya sebagai pemimpin republik ini. Stereotipe Prabowo sebagai mantan Pangkostrad dan Danjen Kopassus tak tampak di wajahnya. Ia tak sesangar bayangan orang-orang yang selalu memfitnahnya sebagai pelanggar HAM atau bahkan dianggap sebagai sosok yang dituduh pernah melakukan percobaaan kudeta pada republic. Pak Prabowo berkata, “sejak umur 19 tahun, hidup saya sepenuhnya untuk Republik Indonesia, saya telah didoktrin sumpah prajurit dan sapta marga untuk tetap setia dengan republik”

Di Bukit Hambalang, Pak Prabowo menatap masa depan Indonesia dengan gemilang. Ia ingin memberikan semilir angin kemakmuran buat rakyatnya. Ia ingin para pemimpin bangsa ini hidup tanpa balutan korupsi. Pak Prabowo ingin membangun kejujuran dalam diri setiap pemimpin, Pak Prabowo ingin negerinya menikmati kekayaannya yang kini banyak disedot keluar negeri karena kapitalisme yang merajalela. Ia punya misi ekonomi kerakyatan.

Tapi jangan salah paham, Pak Prabowo berkata jika dirinya tak membenci kapitalisme. “Siapapun boleh hidup kaya di negeri ini, tapi jangan bawa lari ke luar negeri. Rakyat harus hidup sejahtera. Saya tidak melarang orang membangun mall dan fasilitas mewah, tetapi bangun dengan uang sendiri, bukan uang rakyat. Saya sangat suka dengan kemajuan, tetapi jangan membunuh masyarakat kecil. Harus selalu ada keseimbangan, Tanah Air kita maha kaya,” katanya.

Di Bukit Hambalang, Pak Prabowo tidak sendiri. Ia hidup dengan ribuan buku-buku yang memotret panjang alur pikir orang banyak. Ia seolah menjelma sebagai pertapa cendekiawan, yang hidupnya ia ingin habiskan untuk rakyat Indonesia. Karenanya tempaan buku-buku membuat pribadi Prabowo tampak lebih sederhana, lebih santun dan lebih menghargai azasi orang banyak. Saya melihat Pak Prabowo dalam satu kutipan kalimat beliau, “Kita bisa besar dengan gaya Indonesia kita, kita bangsa besar karenanya kitalah yang memelihara dan membangunnya,” katanya.
**
Selamat Malam Indonesia Raya!

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX