16 February 2012

“Jangan pernah menyakiti hati wanita yang kamu cintai, sebab dirimu akan merasakan sakit jika ada pria lain yang akan datang mengusap air matanya. Dan, janganlah seorang wanita menganggap pria berlebihan jika memberikan perhatiannya, sebab sebab dirimu akan sakit, jika ada wanita lain yang datang meminta perhatiannya, hidup ini  adalah proses saling menatap dengan hati, seperti tetesan embun pagi di dedaunan, dingin dan berkilau diterpa mentari, serta menyejukkan tanah tempatnya menitik” begitu cara saya memandang harmoni antara wanita dan pria yang kini hidup dalam posisi setara, meski dalam konsep ilahiyah wanita dan pria dibedakan dalam kodrat.

Tetapi, wanita kini bukan lagi mahluk yang terpenjara dalam kodratnya. Ia kini bebas memilih mengapresiasi apa yang menjadi optimismenya. Makanya menjadi sesuatu yang lumrah, jika kini wanita telah merasuk di semua arena kehidupan. Dari masalah seks hingga masalah  politik. Dari urusan pesolek hingga mainan korupsi. Dari urusan membina keluarga hingga merusak rumah tangga lainnya.

Wanita benar-benar telah membuat proses kesetaraannya, yang sebenarnya tak lain adalah ambisi dan optimismenya dalam mengarungi sebuah titian yang bernama kehidupan. Maka tak mengherankan jika wanita tak ingin lagi dipermak oleh kaum pria sebagai kelompok manusia lemah, ditindas oleh zaman, atau hanya larut dalam stigma, kasur-sumur dan dapur. Wanita telah menjelmakan diri sebagai ‘balqis-balqis’ yang bisa menyilaukan kehidupan dengan keelokan yang dimilikinya. Yang bisa membutakan mata kaum pria lalu membunuhnya hanya dengan sunggingan senyuman.

Kekuatan seorang wanita, bukan baru terlahir di masa kini. Wanita secara politik telah lama menstigmakan dirinya sebagai penakluk, seperti takluknya Adam atas Hawa karena keinginannya menikmati Buah Khuldi. Dan pula, wanita juga telah lama menstigmakan dirinya sebagai penyeimbang keberadaan kaum lelaki, seperti Khadijah atas diri Muhammad, yang selalu setia memberikan yang terbaik dalam kehidupan bagi Sang Rasul yang amat dicintainya.

Begitu banyaknya kemisterian tentang wanita, sehingga saya sulit merangkum sejumlah kata tentang mahluk ciptaaan Tuhan ini. Karenanya saya selalu menuliskan, jika sebenarnya wanita itu, adalah mahluk tanpa judul..seperti malam ini saya memandang banyak wanita di pelataran Pantai Losari Makkassar..mereka begitu bebas mengapresiasikan dirinya....heheheheh….(**)

Catatan Dinihari , di MGH Makassar, 16 Pebruari 2012

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX