31 July 2012


Sebagai pengagum Pak Prabowo, saya amat bangga bisa berhubungan dengan orang-orang yang pernah dekat dengan beliau, mulai dari beberapa ajudan, hingga mereka yang pernah menjadi bagian hidup Pak Prabowo semasa aktif di militer. Lebih bangga lagi, setelah pernah bertemu beliau dalam beberapa kegiatan. Banyak hal yang saya petik dari cerita-cerita Pak Prabowo, mulai kisah masa kecilnya hingga impiannya menuju Presiden Republik Indonesia di masa datang.

 Senin kemarin (31/7) saya bertemu kawan se kampus. Kawan ini menyodok saya dengan satu pertanyaan. “Apa modal Pak Prabowo maju sebagai Calon Presiden? Apakah karena beliau memiliki dana? Mantan tentara? Keyakinan yang kuat? Atau karena ia berasal dari kelompok Cendana? Ataukah hanya karakter  tegas yang dimilikinya, sehingga Pak Prabowo mampu memikat hati jutaan rakyat Indonesia?”

Saya jawab “semua itu benar, apa yang ada dalam pertanyaan Saudara, dimiliki Pak Prabowo”, tetapi ada satu hal yang Pak Prabowo miliki belum diketahui orang banyak. Yakni kecerdasan!,  beliau memiliki kecerdasan intelektual, dan Pak Prabowo mampu mengaktualisasikan kecerdasannya itu” begitu jawaban sederhana saya.

Asumsi sederhana saya dalam memandang kecerdasan Pak Prabowo terekam dalam ingatan ketika saya dan kawan-kawan di undang di kediaman beliau di Hambalang Bogor beberapa waktu lalu. Meski yang melekat di performa Pak Prabowo adalah seorang jenderal, tetapi lebih dari itu, Pak Prabowo cerdas dalam menyikapi Indonesia sebagai negara maritim dan agraris. Beliau memiliki konsep-konsep sederhana dan aplikatif dalam mensejahterakan rakyat Indonesia dengan sumber-sumber kekayaan alam itu. Pak Prabowo juga amat cerdas dalam ‘menerawang’ masa depan Indonesia sebagai ‘the sleeping giant’  yang ketika digerakkan pada posisi yang tepat, maka Indonesia akan bangkit seketika dalam tidur panjangnya. itu kesimpulan saya saat itu, tetapi teramat sulit membahasakannya, sebab saya terbuai dengan kecerdasan intelektual beliau.


Tetapi korelasi kecerdasan dengan aktifitas keseharian Pak Prabowo amat selaras. Saya baru saja membaca status  facebook beliau, yang kemarin terbang ke Singapura untuk membawa kuliah umum di sebuah Universitas ternama di negeri singa itu. Saya bergumam, hal inilah yang belum banyak diketahui publik di Indonesia tentang sosok Pak Prabowo. Saya hanya menghubung-hubungan korelasi itu dengan kesaksian saya ketika ke kediaman beliau di Hambalang, dimana saya menyaksikan ribuan judul buku dalam perpustakaan pribadi beliau. Menariknya, Pak Prabowo hafal satu persatu dimana buku-buku itu tersimpan, judul dan sari isi dari buku itu.

Saya bergumam “ The great!, ternyata Pak Prabowo seorang akademisi juga”. Beliau sosok ‘kutu buku’, yang jika ada waktu yang lowong dihabiskan untuk membaca buku-buku itu. Mungkin ini asumsi subjektif, tetapi saya memahaminya dari penuturan beliau, ketika saya mengambil satu buku, dan Pak Prabowo menceritakan sari pati buku tersebut. Saya terbengong-bengong sendiri, sebab buku yang saya pegang berbahasa Inggeris dan baru saja saya ingin ‘mengejanya’ (maklum saya lemah di bahasa Inggeris) inti buku itu, tetapi beliau langsung menjelaskannya. Begitu juga beberapa pengalaman beberapa kawan  yang mencermati satu persatu buku yang dipegangnya, dan diceritakan pula isi buku itu “Luar biasa”, kataku dalam hati.

Pak Prabowo seolah menyadari, jika prilaku kutu bukunya itu tak banyak yang mengetahuinya. Beliau lalu berkata pelan-pelan. “Saudara-saudara, merugilah kita jika waktu kita yang lowong tak dihabiskan dengan belajar dan membaca, Agama juga mengajarkan kita seperti itu, makanya saya harus banyak membaca agar bisa memberi solusi-solusi terbaik buat bangsa tercinta ini, tentu dengan menghubungkan realitas sosial yang dialami bangsa ini,” kata Pak Prabowo singkat.

Pada saat itu pula, Pak Prabowo mengajak perguruan tinggi di Indonesia untuk dapat ‘mengaudit’ dirinya, tentang visi-misinya buat masa depan Bangsa Indonesia. “Saya juga bersedia di undang ceramah, kuliah umum di perguruan tinggi di negeri ini, silahkan saja, atur jadwalnya,” ajak Pak Prabowo pada beberapa kawan doktor yang sempat hadir.

Kekuatan Pak Prabowo dan kecintaannya pada dunia membaca, menurut beberapa mantan ajudannya adalah kebiasaannya sejak masih muda. Asaldin Gea misalnya, ajudan Pak Prabowo sejak tahun 1991-1999 mengatakan, bila Pak Prabowo punya kebiasaan membaca dan menelaah sebuah permasalahan setelah melaksanakan tugas-tugasnya di kantor maupun dilapangan. “Itu kebiasaan lama beliau, tak ada waktu tanpa membaca buku. Di mobil, kantor maupun di rumah, buku harus selalu kami siapkan, sebab beliau selalu mempertanyakan tentang buku-buku bacaannya. Bahkan kami juga harus pandai membuat ‘slide’, sebab beliau selalu membuat pemetaan terhadap ilmu yang diperolehnya,” kata Asaldin Gea pada saya. Hal senada diungkap Mas Eko, juga mantan ajudan beliau. “beliau memang kutu buku. Pokoknya selalu ada waktu untuk membaca,” ungkapnya.

Realitas yang saya saksikan, dan penuturan beberapa kerabat dekat Pak Prabowo, telah menjawab asumsi saya selama ini, bahwa Pak Prabowo seorang pribadi yang cerdas, cendekiawan, selain posisinya sebagai jenderal yang bersinar pada zamannya. “Kecerdasan beliau tak perlu diragukan, sudah bibitnya begitu, anak Profesor begawan ekonomi negeri ini,” timpal Petrus Sunyoto, mantan pasukan Pak Prabowo saat operasi di Timor-Timur yang kini memimpin ormas DPN Gardu Prabowo.
Karena itu secara subjektif, saya juga ikut berkata; “Pak Prabowo memiliki semua modal untuk menjadi pemimpin di Republik ini, Semoga!”

**



Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX