25 June 2013

ENTAH telah larut dalam diorama iklim Jakarta sebagai mahasiswa, sehingga sekembali di kampung halaman sendiri sepertinya menjadi asing.  Asing karena tak banyak berjumpa dengan kawan lama yang sibuk dengan aktifitasnya sendiri, dan lebih asing lagi, karena peluang-peluang untuk mendapatkan fulus juga seolah ikut berkurang. Apakah ini gejala jika di kampung ini memang mengalami kemerosotan ekonomi? Ataukah keterampilan yang saya miliki tak cocok lagi dengan iklim di daerah ini? Saya hanya bisa menjawab; “bingung!”

Saya hanya membayang, andai saja saya bukan seorang PNS maka harapan hidup untuk bertahan di kampung sendiri rasa-rasanya berkurang. Bisa-bisa saya membanting stir sebagai tukang ojek atau tukang parkir seperti kebanyakan anak-anak muda lainnya. Atau boleh jadi saya banting stir sebagai seorang politisi yang menjadikan Pemilu dan Gedung Dewan sebagai alternatif lapangan kerja. Asumsi ini lahir setelah menyaksikan banyak pepohonan dan tiang-tiang listrik menjadi sasaran atribut kampanye banyak orang yang mengincar kursi DPRD. 
**




Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX