22 June 2013

SEPULANG dari Jakarta 19 Juni 2013 lalu, saya tak langsung menemui istri dan anak-anak di Baubau (Sultra), justru menyempatkan diri mampir beberapa hari di kampung dimana saya dibesarkan, Pangkep-Sulawesi Selatan, wilayah yang dikenal sebagai ‘kota bandeng’ karena  kota ini punya banyak tambak-tambak bandeng dan ikannya enak, gurih dan rasa bagi pencicipnya amat khas dibanding kota bandeng lainnya di Indonesia seperti Sidoarjo di Jawa Timur. Pangkep juga dikenal sebagai daerah tiga dimensi, karena penduduknya tersebar di tiga titik utama, yakni di gunung, di daratan dan di lautan lepas. Itu juga (mungkin) menjadi asumsi dasar mengapa ia diberi nama Pangkep, singkatan dari Pangkajene dan Kepulauan.

Biasanya jika mampir ke Pangkep, saya selalu menemui kawan-kawan SMP, sekedar reunian kecil atau mencoba menghadirkan canda-canda masa silam. Biasanya jika habis bertemu, rasanya urat-urat syaraf yang sempat menegang di penatnya ibukota menjadi fresh kembali. Tetapi kali ini, saya justru berkumpul dengan kerabat dekat, kebetulan adik spupu 29 Juni ini melangsungkan pesta pernikahan. Karenanya saya melibatkan diri dalam prosesi mengantar undangan adat atau bagi orang Bugis-Makassar disebut “Mappadaq”, sebab saya sendiri tak bisa (lagi) mengikuti pesta pernikahan itu. Anak-anak dan istri amat merindu setelah kurang lebih empat bulan lamanya saya tinggalkan di Ibukota menuntut ilmu. Kerabat keluarga bisa memahaminya. Alhamdulillah!

Mappadaq? Saya tak tahu defenisi resmi acara adat ini. Yang saya pahami bahwa Mappadaq sebenarnya tak lebih dari sekedar acara mengundang secara lisan yang umumnya dilakukan oleh wanita berusia dewasa,  dan yang ditemui adalah kerabat keluarga terdekat atau tokoh-tokoh masyarakat yang dihormati. Bagi masyarakat Bugis-Makassar, acara Mappadaq ini terasa sebagai sebuah kehormatan lebih dibanding undangan tertulis yang disebar. Sebab makna lain yang tersirat dari prosesi ini adalah merekatkan kembali tali silaturrahim keluarga. Sebab ketika Mappadaq dilakukan, informasi yang disampaikan tidak sekedar jadwal acara pesta pernikahan, tetapi segala tetek bengek tentang siapa yang dinikahkan diceritakan secara tuntas. Bahkan beberapa diantara keluarga ada yang bertanya tentang kesiapan acara, berapa biaya atau diistilahkan ‘uang panaik’.

Meski saya terbilang lelaki dewasa dan sekedar mengantar Tante atau sepupu perempuan saya tetapi acara Mappadaq ini membuat saya banyak tahu tentang keragaman budaya Bugis-Makassar. Kerap saya diperkenalkan kembali oleh si person Mappadaq ini, siapa saya, orang tua saya, bahkan status sosial saya hari ini. Ada kebanggaan jika keluarga memuji saya dan orang tua saya. Apalagi cukup banyak kalimat yang mempromosikan pribadi saya. “Ini anaknya si ini...ia sekarang kuliah di Jakarta, istrinya orang dari sini..sudah punya pekerjaan menetap dan lain-lain”.

Kerap saya tersenyum kecil jika pujian datangnya berlebihan, bahkan ada yang bertanya; “sudah punya istri?”. Mendengar itu saya kemudian bercanda. “istri baru satu Tante?” kataku. Mengucapkan candaan ini saya tersipu sendiri sebab ingat kalimat-kalimat candaan muda mudi Jakarta, “Maksud Loo? Atau “emang Gue Pikirin””, tetapi yang mendengar mereka tergelak tertawa sebab mereka paham jika keluarga saya dikenal ‘tukang beristri’ karena buyut memang memiliki beberapa istri dan beberapa diantaranya menurun keberapa anak-cucunya.

Saya mahfum dengan jawaban candaan saya, sebab kerapa saya mendengar kata-kata “mengapa jauh sekali beristri? Mengapa bukan keluarga? Mungkin basa-basi, tetapi bagi saya ini cara untuk merekatkan kembali hubungan kekeluargaan yang merenggang karena terpisah oleh jarak yang cukup jauh, bahkan banyak sanak keluarga tersebar di berbagai daerah di Indonesia, bahkan beberapa diantaranya menjadi warga negara lain, karena tinggal di luar negeri.

Meski hanya dua hari mengantar dalam acara Mappadaq ini, tetapi benar-benar saya merasa menapaktilasi kehidupan masa kecil. Bertemu Paman yang sejak lahir belum pernah bertemu, bertemu saudara sepupu yang hanya mengenal nama tapi lupa bagaimana raut wajahnya dan kadang bernostalgia karena mendengar cerita-cerita masa kecil saya yang tentu saya tidak ingat lagi. Seperti kalimat “ ow ini kamu too, yang dulu kecilnya gendut dan perutnya buncit, dulu saya yang sering gendong kamu” kata beberapa wanita yang mengaku saudara dekat ibu dan bapak saya.

Tetapi saya juga kerap menangis dalam hati kecil meski tetap tersenyum dihadapan keluarga, jika mereka menceritakan masa-masa sulit orang tua saya, menceritakan tentang kesahajaan hidup orang tua yang kadang dilihat sebelah mata saudara-saudaranya. Bahkan hati terasa tersayat-sayat, jika mendengar cerita-cerita minor orang tua saya. Tetapi itulah masa lalu, ingatan-ingatan yang kerap menikam jantung. Tetapi justru di acara Mappadaq ini saya terasa kembali menemukan arti hidup yang sebenarnya, bisa membedakan bagaimana warna hidup itu bisa terjadi.

Benar-benar saya menapaktilasi masa kecil, sebab saya tak hanya bergerak di seputaran Pangkep, beberapa keluarga yang tinggal jauh juga ikiut saya kunjungi, dari barru hingga Soppeng. Meski terasa lelah di fisik, tetapi saraf-saraf di otak seperti melentur sebab bisa berbangga masih bisa hidup dan bertemu dengan banyak keluarga. Satu hal yang menjadi pertanyaan di kepala saya saat ini adalah “jika seandainya saya menikah dengan kerbat keluarga saya sendiri, apakah saya masih bisa bertaruh dengan dunia pendidikan hingga sejauh ini?”

Saya hanya bisa mengagumi...sebab melihat beberapa sanak keluarga, hati kecil saya bergumam, “Duh ternyata banyak saudara-saudara saya yang cantik...hahahahha..”. “Dasar!!” kata kakak sepupuku. Saya lagi-lagi hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Terima Kasih Ya Allah..begitu banyak kegembiraan yang saya nikmati beberapa hari ini...
**







Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX