18 August 2013

Tiba-tiba saja mata terasa berair memandang secarik foto lusuh yang kutemukan dari facebook adikku di Papua sana. Tak tahu di mana ia mendapatkannya, sebab kedua orang tuaku teramat sedikit memiliki dokumen masa lalu berbentuk foto. Tetapi saya percaya jika foto itu tentu berasal dari sebuah keluarga yang cukup mapan di zamannya, sebab usia foto ini ditaksir sekitar 60 tahun lebih, dan berfoto kala itu tentu sebuah barang istimewa. Taksiran 60 tahun sesuatu yang wajar sebab usiaku saja telah berada di level kepala empat saat ini.

Itu tidak penting! Saya justru begitu dalam memaknai cerita dibalik foto jadul ini, termasuk tiga wanita dewasa yang tampak anggun dan cantik di belakang ibuku. Mungkin mereka itu adalah saudara nenekku. Terus nenek kandungku yang mana? Saya terdiam dan merenung pada cerita masa silam ibuku, jika sejak kecil telah ditinggal kedua orang tuanya dalam sebuah tragedi berdarah. Meninggal terbunuh!

Benar! Konon nenekku terbunuh oleh kakekku sendiri karena sakit jiwa yang dideritanya, sementara kakekku terbunuh di hari yang sama karena dendam kesumat saudara-saudara nenekku. Itu juga menjawab sebuah pertanyaan yang kerap kulontar pada familiku, mengapa jika kakek nenekku meninggal di hari yang sama tetapi terkubur di tempat berbeda? Ternyata ceritanya panjang, dan seolah mengantarkan ingatanku pada lorong waktu tentang tragedi Ken Dedes dan Ken Arok dalam babad Jawi. Malas membahasnya, sebab meruntun ingatan ini, seolah menghadirkan kesumat yang tak berkesudahan.

Memandang foto ibuku mengisyaratkan kehidupan masa lalunya yang begitu berat, menyandang status yatim piatu tatkala belum bisa berbuat apa-apa. Amat berbeda dengan roman ketiga wanita di belakangnya yang tampak ceria dan cantik. Tetapi saya patut berterima kasih pada ketiga wanita itu, sebab saya tak bisa menerka, bagaimana nasib ibuku dan saudara-saudaranya jika mereka tak ada. Boleh jadi ibuku pasti jauh menderita tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya. Terbayang kesedihan mendalam, apalagi mengingat nasib gelandangan pengemis yang setiap hari mewarnai pandangan mataku di Kota Jakarta ini.

Tapi saya bangga memiliki sosok perempuan kecil itu. Karena lika-liku hidup yang penuh beban memberinya banyak pelajaran dan menempa ibuku sosok tangguh membesarkan diriku dan adik-adikku, hingga aku bisa menatap cerahnya matahari Jakarta hari ini. Begitu juga adik-adikku, yang setidaknya mereka hidup dalam suasana berkecukupan dalam kemandiriannya, meski kami belum bisa memberi lebih keduanya, terkecuali doa dan penghambaan tulus pada-Nya, agar keduanya tetap diberi ke lapangan kehidupan dunia dan kelak di akhirat nanti. Amin Ya Rabbal Alamin..

Memandang foto ini, menggiring salat subuhku terasa begitu nikmat di hari ini.
                                                              **

1 comment:

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX