11 August 2013

Beberapa tahun lalu Kota Baubau terasa indah bagi saya, bahkan ketika pulang ke rumah orang tua di Kolaka atau menjenguk sanak family di Sulawesi Selatan selalu saja lahir cerita-cerita menonjolkan kota ini. Rasa-rasanya sejuta rasa ada didalamnya, kota yang cantik, panoramanya mengagumkan hingga penduduknya yang ramah. Benar-benar saya merasa berada di zona yang nyaman. Apalagi, hampir setiap malam waktu saya habis bersama kawan-kawan, sekedar bercanda, main domino hingga membahas segala hal yang belum tentu penting bagi orang lain.

Rasanya berkumpul bersama kawan-kawan menjadi meditasi kehidupan saya, sebab selalu lahir gelak tawa yang membuat semua hidup ini menjadi nyaman. Namun seiring perjalananan waktu dan usia yang makin bertambah, terasa jika suasana itu mengabur. Saya kesulitan menemui banyak kawan, toh jika bertemu hanya sekedar tegur sapa, berkumpul pun tak lagi menghadirkan gelak tawa, sebab tersetting pada ruang tertentu dengan tema-tema diskusi yang selalu mengarah ke politik yang nyaris tak punya garis finish. Menjemukan dan membuat kepala tambah pening.

Saya bertanya pada diri sendiri, apakah benar saya telah kehilangan banyak kawan di kota ini karena kesibukan masing-masing? Ataukah saya terlalu pongah dihadapan kawan-kawan sehingga terasa sulit menghadirkan canda-tawa itu? Ataukah memang kota ini telah membentuk watak kawan-kawan saya sebagai seorang yang terpolarisasi virus-virus politik lokal? Atau justru karena pengaruh teknologi, dimana kawan-kawan lebih sering menyendiri karena asyik berfacebook ria?

Sungguh sulit menjawabnya, sebab saya ingin menemukan mereka dalam ruang yang lebih rileks, bermain di alam terbuka, minum kopi, main gaple hingga larut dengan tema-tema diskusi yang lebih ringan dan penuh keriangan. Bagi saya, ini stimulasi sosial yang hilang yang tak membuat derajat berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya.

Kini, ingatan saya selalu melayang ke Jakarta, tempat saya menimba ilmu saat ini.Secara fasilitas Jakarta tentu jauh lebih baik dari Baubau. Tetapi ikatan kekerabatan dan pergaulan sosial, saya berani mematikan jika Baubau pasti lebih dari ibukota Negara ini, sebab individualistik, mental konsumensarisme dan kemacetan menjadi warna-warni dan menu sehari-hari Jakarta. Tapi lagi-lagi kini saya merasakan jika Kota Baubau dan Jakarta tak lagi berbeda dalam kekerabatan dan pergaulan sosial, semua ada rongga yang membuat jarak antara satu dengan yang lainnya.

Apakah benar saya telah kehilangan banyak kawan di Baubau ini? Ataukah sebaliknya kawan yang merasakan kehilangan saya? Sulit menjawabnya. Seperti mencari obat maka menulis inilah yang menjadi penawar pertanyaan-pertanyaan itu.
**





Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX