27 September 2016

MASIH seputar ‘Siapa setelah JK’, tulisan sederhana yang terposting sebelumnya di blog ini. Bagi banyak orang, khususnya manusia Sulawesi Selatan tentu mendamba hadirnya zoon politicon – makluk politik - etnis Bugis-Makassar penerus kepiawaian Pak Jusuf Kalla (JK) di pusaran kuasa nasional, kendati mungkin itu hanya mimpi-mimpi indah. Sebab JK sosok Bugis-Makassar yang punya segalanya dalam konstruksi politik manusia Indonesia. Ia seorang hartawan, cendekiawan, organisatoris, piawai, saleh, berjejaring, dan terkesan Jawanisme dalam bertindak, tunduk tapi bisa menanduk.

Soal Jawanisme ini tak perlu tersinggung, sebab Indonesia sadar jika Jawa dalam perspektif orang Jawa adalah budaya adiluhung; unggul, besar, dan (sepertinya) patut di ikuti oleh siapa saja yang ingin bertahta di negeri ini. Seperti adigium zaman Orba, jika ingin berkuasa - jadilah seperti orang Jawa. Dalam perspektif teori normatif, menjadi orang Jawa dapat didefinisikan sebagai sosok yang ramah, santun, tidak meledak-ledak, bahkan kerap beraksen Jawa. Tak heran, mengapa di negeri ini kita mudah menemukan sosok non Jawa tetapi berlanggam Jawa. Itu afiliasi kehidupan, wajar terjadi, dan bukan persoalan penting untuk diperdebatkan.

Namun begitu, JK tentu bukan Jawanisme murni, ia berlanggam layaknya manusia Bugis-Makassar pada umumnya, ia tampil ala-nya sendiri - tidak meniru-niru, bahkan kalimat-kalimatnya ber-ideologi bangsa Bugis; ceplas-ceplos tetapi terukur, sedikit keras tetapi kadang lembut. JK paham, di mana   posisinya sebagai atasan dan sebagai bawahan. Yang kadang ter-bully  oleh khalayak, adalah sikapnya yang dinilai kurang konsisten dalam menyikapi persoalan politik.  Seperti ketika ia mempersoalkan profil Jokowi yang dianggapnya belum layak sebagai presiden, namun belakangan ia menjadi pasangan ideal. Tak sedikit orang menganggapnya sebagai Brutus politik, kendati penulis membantah adigium ini, sebab demikianlah sebenar-benar filosofi ‘zoon politicon’ itu, menganut filsafat pragmatisme.

William James (1842-1990) meluruskan makna pragmatisme dengan filsafatnya yang mengatakan  pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai yang benar, dengan perantaraan yang akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu asal saja membawa akibat praktis, misalnya pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistik, semuanya bisa diterima sebagai kebenaran, dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat.

Jadi soal pragmatisme ‘zoon politicon’ JK, tentu tidak semata berkonotasi negatif dengan menggiring  pikiran, jika sesuatu itu haruslah selalu menguntungkan secara materi. Sebab pragmatisme juga memiliki kekuatan-kekuatan, salah satunya telah berhasil mendorong berfikir yag liberal, bebas dan selalu menyangsikan segala yang ada. Pragmatisme telah mampu mendorong dan memberi semangat pada seseorang untuk berlomba-lomba membuktikan suatu konsep lewat penelitian-penelitian, pembuktian-pembuktian dan eksperimen-eksperimen sehingga munculllah temuan-temuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan. Ini yang di pakai bangsa Amerika sejak awal abad 19. Tetapi maaf, tak hendak menggiring pikiran bahwa JK seorang Amerikanis, apalagi pragmatis.

Sebaliknya, hendak mengatakan jika JK adalah manusia Bugis-Makassar yang memiliki kadar ‘zoon politicon’ yang tinggi dan terbilang jenius. Sosoknya seolah menawarkan apa yang disebut sebagai ‘panopticon’ dalam konsep pendisiplinan tubuh yang pernah diutarakan Jeremy Bentham (1785) dan Michel Foucault (1975).

Panopticon pada awalnya adalah konsep bangunan penjara yang memungkinkan seorang pengawas untuk mengawasi (-opticon) semua (pan-) tahanan, tanpa tahanan itu bisa mengetahui apakah mereka sedang diamati. Karena itu, konsep Panopticon ini menyampaikan apa yang oleh seorang arsitek disebut ”sentimen kemahatahuan yang tidak terlihat”. Panopticon awalnya desain arsitektur, lalu kemudian dalam perkembangannya menjadi metafora bagi masyarakat “disiplin” modern dan kecenderungannya yang menyebar, untuk mengawasi dan menormalisasi. Atau bahasa sederhananya, panopticon adalah desain yang menjadi patron bagiamana seharusnya membangun  manusia yang disiplin. Karena konsepnya manusia politik, maka yang diharapkan adalah lahirnya manusia yang benar-benar disiplin dalam politik.

JK Panopticon, apa itu?

Konsepsi berpikir, bertindak, dan berpolitik yang diperankan sosok JK – sadar atau tidak, mengakui atau tidak, JK telah menawarkan bagi etnisnya, penerusnya, seperangkat cara untuk eksis di dunia politik nasional, khas Bugis-Makassar tentunya. Ini yang saya sebut sebagai ‘JK panopticonik’, atau desain pendisiplinan tubuh politik melalui tindak tanduk politik ala JK.

Serapan sementara yang bisa dipetik, bahwa melanggenggkan eksistensi politisi Bugis-Makassar di pentas-pentas kuasa nasional, telah dipertontonkan dalam kepiawaian JK. Ia seolah menyerap konsep kuasa ala Arung Palakka-Raja Bugis pesohor abad 16, yang selalu pandai berdiplomasi, pandai berdiaspora, dan berani tampil menghunus badik di biduk Phinisi melawan siapa saja yang akan menjajah negeri Bone di zamannya. JK juga seolah menyerap   sikap tanpa tedeng aling-aling ala Jenderal M.Jusuf, tampil apa adanya, dan selalu menarik orang-orang terbaik dari etnis apapun ia. Plus, menarik cara berpikir BJ. Habibie sebagai politis – cendekiawan, tapi JK dalam persoalan ekonomi makro dan mikro. Mungkin pembaca bisa meramunya dalam hal yang sederhana lagi.

Lalu siapa bisa memiliki , setidaknya mendekati ‘JK Panopticonik’ ini di zoon politicon Bugis-Makassar? Nurdin Halid-kah? Idrus Marham-kah? Jawabannya pasti beragam-setidaknya ada yang menjawab, masih jauh…!!.

Sahrul Yasin Limpo-kah (SYL)? Nurdin Abdullah-kah? Bisa jadi! Tapi penting untuk bertarung di arena-arena yang lebih menggelobal, jangan sampai ter-cap sebagai jago kandang. Sementara JK sudah mewanti-wanti, jika yang ‘naik kelas’ itu, adalah mereka yang punya cara menaklukkan pentas nasional selayaknya menaklukkan kampung halaman. Itu juga panopticonik-nya.

Banyak pihak menaruh harapan pada pemuda Erwin Aksa, putra pengusaha nasional Aksa Mahmud, juga ponakan JK. Tapi banyak candaan, jika Erwin masih lebih soft ketimbang SYL. Ada pula yang menaruh harapan pada Abraham Samad, mantan ketua KPK, tetapi belakangan meengabur entah ke mana. Sebenarnya Aksa Mahmud-lah, senior politik yang bisa sebagai pembanding politik JK – tapi waktunya se zaman, tak mungkin ada dua matahari dalam satu kubu politik. Apalagi adigium politik Bugis-Makassar seperti permainan sepak raga, bola bisa dilepas ketika hendak terlepas dari badan. Sepertinya masih harus menunggu waktu berbilang periode untuk mencari JK Panopticon itu. Setidaknya di Pilpres nanti, berharap benih terlahir seketika!
-------------------------------
Membasuh muka di Cikini dini hari, 27 September 2016




Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX