25 October 2011

Saya amat meyakini kekuatan sebuah filosofi dan makna dari sebait ‘kata’, meski dalam kajian yang amat sederhana. Sama ketika saya memaknai kata ‘Gerindra’ tidak sekedar sebagai partai politik, tetapi juga sebagai sebuah gerakan. Inilah yang mungkin melatar belakangi mengapa Pak Prabowo ketika mendirikan partai ini lebih menyukai menggunakan sebutan ‘gerakan’ ketimbang kata lain, seperti banyak digunakan oleh partai politik di negeri ini, dan saya meyakini ini juga telah dipahami oleh seluruh kader-kader Partai Gerindra.

Subjektifitas saya berpendapat jika kepopuleran Pak Prabowo sebagai ‘the next president’ karena beliau mampu menterjemahkan alam pikir masyarakat Indonesia yang lebih menyukai ‘gerakan’ ketimbang slogan, lebih menyukai langkah nyata ketimbang alam maya, lebih menyukai kinerja ketimbang diskusi warung kopi. Makanya kemudian, mengapa (mungkin) Pak Prabowo terus menggaungkan jargon-jargon kemakmuran, keadilan dan kejayaan akan masa depan Bangsa Indonesia, tentu karena semua itu baru bisa diperoleh melalui sebuah ‘gerakan’ yang disebutnya Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang diharapkan melibatkan kekuatan-kekuatan semua elemen bangsa.

Pertanyaannya, apakah Gerindra sebagai partai politik benar-benar telah menjadi ‘gerakan’? Maaf, bagi saya makna sederhana dari sebuah kata ‘gerakan’ yakni ‘bergerak’. Dalam arti yang cukup luas ‘bergerak’ bisa dianalogikan sebagai ‘tindakan nyata yang secara sadar dilakukan untuk melaksanakan sesuatu, dengan cara berpindah tempat, untuk mendapatkan hasil tertentu’. Lebih sederhana, saya mengapologikannya dalam sebuah defenisi bila ‘gerakan’ pada sebuah organisasi adalah upaya nyata untuk mempengaruhi orang, organ, dan atau kelompok yang lebih besar untuk berbuat sesuatu, dan hasilnya akan kembali mempengaruhi siapa yang memulainya. Atau dengan kata lain ‘gerakan’ adalah sebuah proses sebab akibat.

Defenisi-defenisi sederhana inilah yang banyak di praktekkan oleh sejumlah partai politik di negeri ini dalam merebut simpati rakyat, meski dalam kerangka yang berbeda-beda, tergantung dari visi dan misi partai itu sendiri. Partai yang rajin bergerak inilah, yang tentunya menuai hasil yang memuaskan. Saya mencontohkan, bagaimana sebuah partai berbasis agama di awal kelahirannya ‘lebih suka’ turun ke jalan dengan aksi damai dan melibatkan ribuan orang tanpa ‘ribut-ribut’ untuk menyuarakan aksinya. Hasilnya, partai ini mampu merebut suara yang signifikan dan menempatkan diri sebagai salah satu partai besar di Indonesia. Tetapi kemudian, setelah partai ini berubah nama dan sibuk berwacana, serta telah ‘terlibat’ dalam hegemoni kekuasaan, dan seolah lupa dengan gerakan awalnya, popularitasnya semakin menurun.

Ini juga berarti, jika Partai Gerindra konsisten dengan paradigma ‘gerakannya’, maka yakinlah bahwa partai ini akan tampil sebagai salah satu partai besar di Tanah Air. Gerakan tidak sekedar diartikan sebuah langkah dan terobosan besar. Sebab ini akan ‘mengkerangkeng’ partai dalam berpikir mencari dana yang besar untuk mewujudkan terobosan besar itu. Bagi saya, Partai Gerindra bisa melakukannya dengan hal-hal sederhana dan aplikatif di masyarakat. Misalnya; ‘Gerakan Sabtu Bersih bersama Gerindra’ dimana bentuk nyatanya kader-kader Gerindra pada hari Sabtu bergerak bersama masyarakat melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan tertentu, dan lain-lain sebagainya. Ini mungkin telah dilaksanakan partai Gerindra, tetapi konsistensi waktu, konsistensi kekompakan, dan menjadi gerakan menyeluruh dari jenjang pusat hingga ranting yang perlu di evaluasi, jangan sampai masyarakat menilainya sebagai sesuatu yang temporer, dan hanya menjadi wahana promosi partai belaka. Tentu cukup banyak varian yang bisa dilakukan, dan saya yakin pemikir partai ini telah merumuskannya jauh lebih baik, lebih terorganisir, dan lebih aplikatif serta tidak sesederhana dengan apa yang sayasebutkan tadi.

Bagi saya, keperhasilan Partai Gerindra untuk menjadi pemenang pada Pemilu ke depan, sangat ditentukan oleh konsistensi partai ini pada gerakan aplikatifnya. Sebab tetes air sekalipun dapat memecahkan batu yang keras jika terus menetes tanpa henti. Fenomena inilah yang diinginkan public Indonesia saat ini. Apalagi Partai Gerindra punya magnet yang kuat di benak masyarakat Indonesia, yakni Pak Prabowo Subianto, yang seolah menjadi garansi kekuatan dan kekonsistenan partai ini. saya hanya ingin mengatakan, tanpa tokoh besar pun, Partai Gerindra mampu eksis, jika tetap konsisten memaknai ‘Gerakan’ itu sebagai sesuatu yang ‘bergerak’.

Selamat bekerja Indonesiaku!

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX