24 October 2011

Sebagai efek dari tulisan-tulisan tentang Pak Parbowo Subianto dan perjalanan politiknya, saya ikut ‘kebanjiran’ menerima email maupun sms dari pembaca blog ini. Banyak yang memberikan dukungan, namun tidak sedikit pula yang mengkritik pedas. Beberapa diantaranya menganggap saya sebagai penulis ‘karbitan’ yang sengaja ‘memblowup’ segala aktifitas dan pemikiran Pak Prabowo. Saya tak mengerti apa maksudnya, tapi saya harus akui jika saya memang masih berstatus ‘karbitan’. Tentu karena secara personal, belum pernah mengenal sosok jenderal Kopassus ini. Saya hanya menjawab bila tulisan saya sekedar bentuk apresiatif pada sosok anak negeri bernama Prabowo Subianto, seorang jenderal sekaligus politisi tanah air yang punya kapabilitas kuat memimpin negara bernama Republik Indonesia. Tetapi kemudian, saya merasa begitu terhormat dengan kritikan itu, tatkala JSI mempublikasikan jika Prabowo Subianto memiliki kepopuleran tertinggi bersama Ibu Megawati sebagai Presiden RI mendatang.

Satu hal yang cukup menyita perhatian saya, ketika sejumlah ‘pesan’ yang saya perkirakan berasal dari kalangan tertentu mempertanyakan ‘keangkeran’ Pak Prabowo ketika terpilih memimpin negeri ini. Ada kesan ketakutan yang sengaja di konstruksi dari cerita lama yang melibatkan Pak Prabowo sebagai sosok jenderal pelanggar HAM. Tentu saya tak bisa memberikan jaminan, apakah beliau memang sosok seperti itu, ataupun membela Pak Prabowo sebagai sosok yang bersih dari semua tudingan itu. Saya hanya menjawab, “Kawan, Jangan pernah takut pada Pak Prabowo, silahkan baca situs pribadi beliau di  sini  juga facebook beliau, di sana mungkin kita bisa menangkap pesan tentang sosok Pak Prabowo”.

Dari sanalah kemudian saya me-link situs Pak Prabowo di blog ini (pada kotak bertulis Untukmu Indonesiaku) dengan harapan pembaca bisa memaknai langsung apa yang dipikirkan Pak Prabowo pada bangsa ini. Padahal awalnya saya sengaja tak memasang link tersebut, untuk menghindari prasangka jika saya adalah perangkat politik resmi Pak Prabowo. Sekali lagi saya ingin menegaskan, saya bukan perangkat resmi politik Pak Prabowo. Saya hanya ingin mengasah sensitivitas melakukan kekuatan sebuah tulisan. Kalaupun saya mengagumi Pak Parbowo, itu hak pribadi politik saya, sama dengan jutaan masyarakat Indonesia lainnya, yang tentunya dilindungi oleh aturan main di negeri ini.

“Kawan, Jangan Takut pada Pak Prabowo!”. Sebenarnya ini kalimat pendek yang saya serap justru bukan dari kalangan intelektual atau secara emosional dan politik dekat dengan Pak Prabowo. Saya justru mendapatkannya dari seorang ‘pengojek’ yang setia mengantar saya kemanapun saya ingin melintasi Kota Jakarta ini. Namanya Pak Afli, saya memanggilnya ‘Babe’. Seorang lelaki seumuran 50 tahun, berkulit legam, dan tak punya pendidikan yang cukup. Tapi ia pengagum fanatik Prabowo Subianto. “Apapun rayuannya, saya akan memilih Pak Prabowo, jadi kenapa harus takut,” kata Babe.

Babe banyak tahu dan pandai merangkai cerita tentang Pak Prabowo juga partai Gerindra-nya. “Saya tak pernah percaya dengan cerita kalau Pak Prabowo itu pelanggar HAM, namanya juga tentara, pasti menjaga keamanan. Gak usah diceritain Bang, saya tahu bagaimana kisah awal reformasi ini, pokoknya Pak Prabowo dan Gerindra harus menang (di pemilu)” kata Babe tegas.

Saya lalu merefleksi sekaligus mengkaji makna cerita Babe. Bila rakyat Indonesia sekelas Babe pada dasarnya amat merindukan kejayaan masa lalu pada saat kepemimpinan Presiden Soeharto, dan kerinduan itu di representasikan pada sosok Prabowo Subianto. Ini juga yang pernah ada di benak masyarakat Indonesia tatkala Pak SBY tampil pertama kali sebagai Presiden menggantikan Ibu Megawati Soekarno Putri, bahwa Pak SBY sosok yang mampu mengatasi masalah bangsa ini, karena ia jenderal yang dianggap  banyak tahu dengan upaya mengembalikan kejayaan negeri. Meski kemudian belakangan ini dinilai tidak memuaskan dalam kepemimpinannya.

Pak Prabowo dinilai sebagai reinkarnasi pencipta keamanan dari buah sistem liberalisme yang telah melahirkan sikap individualistic dan kebebasan berpendapat tanpa batas, dimana setiap orang bebas dan semaunya berekspresi, dan terkadang melebihi batas yang bagi rakyat kecil dinilainya sebagai sesuatu yang tidak aman, berlebihan, tidak tenteram, terlalu banyak komentator, munculnya terorisme hingga keinginan melepaskan diri dari NKRI.

Bagi rakyat kecil sekelas Babe, berpangkat Jenderal, menggunakan baret merah Kopassus, kekar, cerdas, berasal dari keluarga bermartabat, peduli rakyat, lalu kemudian tampil ‘apa adanya’ adalah dambaan sekaligus pujaan sebagai sosok yang dianggap mumpuni mampu menyelesaikan permasalahan bangsa. “Tentara memang harus seperti itu, harus tegas, kalo loyo gimana bangsa ini” kata Babe.

Saya amat tertarik dengan kalimat-kalimat Babe. Tak sekalipun terpancar di wajahnya ketakutan akan sikap represif yang kerap dipraktekkan oknum aparat tertentu. Saya lalu membayang pelajaran tentang wawasan nusantara, dimana peran TNI amat kuat dalam menjaga keutuhan NKRI. Tentu kita tahu bersama, bila Indonesia adalah negara kepulauan yang amat sulit menjaga keutuhannya bila tidak dipimpin oleh seseorang yang memiliki ketegasan, kecerdasan dan sikap nasionalisme yang kuat.

Sikap yang ditunjukkan Babe, tentu ini sesuatu yang amat berbeda dengan apa yang dirasakan pencari keadilan yang berlindung dibalik tirai HAM. Memang amat sedih kehilangan orang yang dicintai, memang sesuatu yang tak kita inginkan adanya sikap represif? Tapi pertanyaannya kemudian, apakah adil jika kekesalan itu ditumpahkan pada satu sosok saja?  Kata Babe, “Jangan karena pengojek melanggar lalu lintas, lalu saya juga dianggap ikut melanggar, saya memang pengojek, tapi saya patuh karena saya juga memikirkan diri dan keluarga saya,”katanya.

Hari ini Babe telah menjadi ‘guru besar’ saya. Apologinya memberikan semangat pada saya untuk terus menulis dan menulis tentang Pak Prabowo. Pembaca yang budiman. Percayalah, meski saya menulis secara subjektif tentang Pak Prabowo, saya berupaya untuk tidak merusak reputasi orang lain, termasuk para elit-elit negeri ini. Saya masih percaya, bahwa membangun negeri harus dengan sikap positif, menghilangkan prasangka buruk, dan tetap mengedepankan sikap saling menghargai, memperkokoh kebersamaan. Kritik yang saya bangun tentu akan diikuti dengan upaya solutif, meski hanya melalui rangkaian sebuah tulisan. (**)

Jayalah Indonesiaku!

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX