27 October 2011


Semalam saya bertemu dengan sejumlah kader Partai Gerindra Kecamatan Menteng Jakarta Pusat. Mereka rapat ‘kecil-kecilan’ di sebuah warteg dekat kosan saya di Kali Pasir Cikini. Dipimpin ketuanya Pak Sanusi (Bang Uci), mereka asyik membahas rekruitmen kader, termasuk membahas ekspektasi besar rakyat Indonesia hasil survey dari sejumlah lembaga independen yang menempatkan Pak Prabowo sebagai kandidat terkuat Presiden RI 2014. Dari meja sebelah, saya mengamati dan mengambil kesimpulan sederhana bila kader-kader Partai Gerindra lagi bergembira dengan hasil survey itu. Tentu sesuatu yang wajar, jika kerja keras mereka selama ini membuahkan hasil.

Saya tak ingin mengganggu aktivitas ‘rapat kecil’ itu meski Bang Uci meminta saya untuk bergabung sembari memberi saran apa yang terbaik  untuk mereka lakukan. Saya jawab, “Silahkan aja Bang, baiknya abang mengajak para pedagang kaki lima itu untuk bergabung dan bercanda dengan kawan-kawan Gerindra, cukup saya di sini aja (meja sebelah),” kataku setengah berbisik. Bang Uci hanya terseyum dan melanjutkan diskusinya.

Dalam pertemuan itu, saya banyak mendengar ‘wejangan’ Bang Uci, bagaimana seorang Pak Prabowo Subianto yang punya cita-cita sederhana yakni, jika beliau jadi Presiden, maka rakyat Indonesia ‘cukup makan 3 kali sehari, cukup sandang, punya perumahan yang layak, terciptanya rasa aman dan nyaman’. Bahkan Bang Uci juga menyebut, Pak Prabowo tidak menyukai kader-kader yang berwatak pragmatis.

Meski tidak terlibat langsung dalam diskusi itu, diam-diam saya menelaah dan meneropong, mengapa Pak Prabowo begitu dekat dihati publiknya. Inilah yang banyak disebut orang sebagai ‘pendukung fanatik’. Saya pun membayang dan menerawang jauh ke masa silam dengan pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana masa-masa ketika Pak Prabowo dilahirkan di muka bumi ini oleh ibunya?. Apakah ada tanda-tanda ‘kemukjizatan’ yang sejak awal terlihat? Bagaimana masa muda Pak Prabowo? Bagaimana ia bisa menikahi putri Pak Harto yang saat itu begitu kuat dan berkuasa?

Mencermati fenemona yang menyelimuti diri Pak Prabowo, saya lalu menyimpulkan bila, “seorang pemimpin itu ternyata dilahirkan, tidak diciptakan,” pikirku. Alasannya sederhana, belakangan ini banyak figure-figur public ketika menginginkan ‘sesuatu’, maka yang dilakukannya adalah ‘menggenjot’ pencitraan agar bisa diterima khalayak. Termasuk menggelontorkan milyaran rupiah hanya untuk merebut sebuah ‘daya terima’ public.

Makanya tak heran, media-media TV nasional begitu banyak menerima orderan ‘pariwiara’ dari  tokoh hanya untuk menaikkan popularitasnya. Boleh jadi, ini juga yang menyebabkan, mengapa Pak Prabowo belakangan ini jarang tampil di media. Mungkin, beliau ingin mengukur daya terimanya di public, tanpa melakukan sosialisasi yang ‘jor-joran’. Bahkan mungkin boleh jadi, Pak Prabowo berpikir bahwa menggelontorkan dana yang tak sedikit melalui ‘pariwara media’ adalah cara-cara yang kerap dipakai kaum kapitalis. Tentu jika ini alasannya, maka Pak Prabowo cenderung memakai caranya sendiri, yakni lebih baik dana itu dijadikan ambulance lalu dibagikan ke daerah-daerah. Lebih baik dana itu untuk diberikan bantuan bagi pedagang atau kaum petani. Ya, sebuah konsistensi akan mencapaian visi ekonomi kerakyatannya.

Bagi saya, kerja-kerja politik ala Pak Prabowo, adalah tipe kerja politik dari seseorang yang ‘dilahirkan’ untuk menjadi pemimpin. Sementara tipe kerja politik dari sesorang yang ‘diciptakan’ biasanya cenderung menggunakan cara-cara ‘instan’. Mungkin keduanya punya sisi keunggulan dalam merebut simpati rakyat, namun magnet dan ekspektasi daya terima rakyat amat berbeda. Orang yang dilahirkan sebagai pemimpin, bisanya memiliki daya kharismatik tinggi, tidak dipertanyakan dari mana ia berasal, jabatan apa yang pernah ia sandang dan lain sebagainya.

Dalam kajian fenomenologi, sesorang yang lahir sebagai pemimimpin, ketika tampil di depan public, maka aura kepemimpinannya begitu memancar, sehingga apapun yang ia gunakan saat itu menjadi perbincangan. Sebut saja ketika Pak Prabowo menggunakan Peci, kemeja batik, dan tersenyum kepada publiknya, maka yang ada di benak publik, bahwa Pak Prabowo adalah sosok yang Indonesianis, sederhana, berbudaya, dan kharismatik. Dukungan dan empati begitu mudah diraihnya. Menariknya, public akan melakukan respon atas apa yang dinilainya menjadi kekurangan seorang Prabowo Subianto. seperti, siapa yang akan menjadi ‘ibu negara’ Pak Prabowo pasca berpisah dengan Ibu Titik Soeharto. Mengapa Pak Prabowo sering menggunakan kemeja khas ala Soekarno, apakah bajunya yang dimilikinya hanya itu?   Benarkah Pak Prabowo seorang pelanggar HAM, dan lain sebagainya. Ini semua terjadi, karena public menginginkan tokoh yang perfect (sempurna) di tengah ‘suasana’ dan ‘aroma’ kemunduran yang dirasakan Bangsa Indonesia saat ini.

Saya yang berdarah  Bugis-Makassar, tentu tak banyak tahu apa makna dibalik pengistilahan dan sinkritisme Jawa yakni ‘Satria Piningit’. Tapi saya seolah mengartikannya, bahwa Satria Piningit itu adalah ‘telah dilahirkannya seorang pemimpin’. Bukan diciptakan oleh hasil survey, hasil pengiklanan dan kampanye media massa. Lalu akankah Satria Piningit itu adalah Jenderal Prabowo Subianto??

Selamat Siang Jenderal! 

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX