23 October 2011

Mengevaluasi tulisan-tulisan yang terpublis sebelumnya, dan membaca deretan sejumlah pernyataan Pak Prabowo  saat menyapa fans via facebooknya. Saya mulai menemukan satu makna penting yang dijalani Pak Prabowo saat ini, yakni beliau tidak sekedar mempersiapkan diri menjadi ‘RI 1’, tetapi lebih dari itu, sang Jenderal telah masuk dalam pertarungan yang lebih dahsyat, yakni pertarungan ideologi. Sebuah pertarungan yang akan menyedot dua kutub raksasa dunia. Kutub liberal dan kutub sosialis. Ini juga berarti Pak Prabowo tidak sekedar berhadapan dengan elit-elit  politik di tanah air, tetapi juga elit-elit dunia, yang pertarungannya mahadahsyat, jauh melebihi perkiraan pikiran awam rakyat Indonesia.

Pendapat saya, akan ada efek besar yang akan timbul dari pertarungan ideologi itu; bila Pak Prabowo tampil sebagai Presiden RI dengan jargon penciptaan kemakmuran melalui konsep ekonomi kerakyatannya, maka secara otomatis Indonesia dipastikan ‘kembali’ masuk sebagai negara ‘penyeimbang’ antara kaum liberal dan kaum sosialis dunia. Indonesia pun akan kembali terhitung sebagai salah satu negara yang menjadi ‘kiblat’ sebagian negara-negara di dunia yang tidak memiliki ‘ketegasan’ ideologi. Utamanya negara-negara berkembang yang ada saat ini.. Ini juga mungkin menjawab sebuah pernyataan, mengapa ketika mendiskusikan tentang sosok Prabowo Subianto, maka asumsi publik mengatakan di tangan Prabowo-lah, kejayaan Indonesia sebagai bangsa besar di dunia itu akan kembali. Atau setidaknya menguatkan slogan sebagai ‘macan Asia’.

Pertanyaan selanjutnya? Konsep ekonomi kerakyatan ala Pak Prabowo itu berkiblat dimana? Apakah liberal atau sosialis? Saya tak akan menjawabnya secara gamblang di sini. Sebab saya berharap publiklah yang akan menyimpulkannya. Namun setidaknya, saya bisa melakukan pendekatan subjektif bila konsep ekonomi kerakyatan, adalah sebuah konsep ekonomi dimana Pak Prabowo akan lebih dekat pada ‘permusuhan’ kaum kapitalis. Sebab konsep kerakyatan lebih mengarah pada pemberdayaan ekonomi masyarakat (jika sukses dalam penerapannya) secara perlahan akan ‘meruntuhkan’ dominasi para pemegang modal (kapitalis) yang kini tumbuh subur di Indonesia. Itulah kemudian, mengapa saat ini, Indonesia begitu ‘disayang’ oleh Amerika Serikat.

Tetapi kemudian, apakah bisa ‘di cap’ konsep ekonomi kerakyatan Pak Prabowo lebih dekat dengan ideology sosialis? Yang lebih mengutamakan sistem komunal dan kolektivisme? Mungkin saja jawabannya adalah ‘benar’. Meski demikian, tentu Pak Prabowo punya ‘senjata’ agar konsep-konsep ekonomi kerakyatannya tidak disebut berideologi sosialis yang banyak dipakai di negara-negara Eropa Timur, Cina dan Amerika Latin, dimana belakangan ini ideologi sepertinya dalam trend ‘naik daun’.
-----------------------------
Terlepas dari pembahasan alot dan berat bagi kalangan awam seperti yang diurai di atas, hal sederhana yang bisa dicerna secara sederhana, adalah; Pak Prabowo menghadapi Pemilu 2014 mendatang akan melewati masa-masa genting, dimana Pak Prabowo akan berhadapan dengan kaum konglomerat Indonesia, yang hidupnya menggantung pada kekuatan dunia asing. Ini berarti kaum kapitalis adalah lawan nyata Pak Prabowo. Tentu tak elok, menyebut nama-nama siapa kapitalis berkulit Indonesia itu.

Ini juga berarti, Pak Prabowo tentu akan menggantungkan kekuatannya pada segenap Rakyat Indonesia yang masih hidup kekurangan di atas limpahan kekayaan alam Indonesia itu. Maka pilihan terbaiknya, jika saja rakyat Indonesia ingin ‘bertahta’ di atas negeri sendiri, maka Prabowo-lah salah satu pilihan itu. Sebab hampir semua elit yang punya keinginan besar tampil menjadi Calon Presiden RI, punya catatan kedekatan dengan ekonomi liberal yang melahirkan system kapitalistik itu.

Lalu apakah, bisa dipastikan jika Pak Prabowo menjadi Presiden RI rakyat Indonesia bisa lebih sejahtera dari sekarang? Maka jawaban yang paling tepat saat ini, adalah bagaimana mesin politik Pak Prabowo, dalam hal ini Partai Gerindra dan Pak Prabowo sendiri ekstra kerja keras untuk mensosialisasikan dan melakukan kerja nyata, seperti apa model penciptaan kesejahteraan itu. Sebab sebagian rakyat Indonesia saat ini telah dirasuki jiwa pragmatis, menyukai budaya instant, lebih percaya dengan ‘tindakan’ ketimbang proses, lebih percaya dengan politikus ‘hambur-hambur’ harta. Inilah buah dari pendidikan politik yang kurang baik yang banyak di praktekkan elit di negara ini pascareformasi. Sungguh sebuah pekerjaan berat. Sungguh sebuah realitas yang harus di jalani.

Sebelum menutup, saya ingin menyampaikan satu anekdot hasil ‘teka-teki’ saya semalam dengan teman-teman. Pertanyaannya begini?

“500 anggota DPR-RI kita melakukan perjalanan ke luar negeri menggunakan pesawat, dan mengalami kecelakaan. Siapa yang akan selamat?...

teman saya menjawab sigap. “Yang selamat, seluruh rakyat Indonesia, hahahaha…”
Satu kawan saya menjawab, “Sory bos. masih ada yang selamat karena ketinggalan pesawat, katanya dari Gerindra..hahahah”
------------------------
Teruslah Bergerak!

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX