» » » Membaranya ‘Api Soemardi’ Pada Pak Prabowo

Membaranya ‘Api Soemardi’ Pada Pak Prabowo

Penulis By on 28 January 2012 |

saya dan Pak Soemardi
Hampir tiga pekan setelah menulis cerita Pak Soemardi yang berkisah tentang kerendahan hati ‘adik juniornya’ Prabowo Subianto selama di militer, saya menjadi vakum dalam menulis kisah-kisah serupa. Jujur, saya memasuki fase tahap kejenuhan untuk menemukan ‘titik-titik baru’ yang menjadi nilai-nilai humanistik seorang Prabowo Subianto dalam diorama kehidupannya menggapai kepemimpinan nasional di tahun 2014 mendatang.

Hanya satu hal yang membuat saya ‘betah’ untuk tetap menulis Pak Prabowo adalah pengaruh Prabowo kerap membuat siapa yang berkisah tentang dirinya akan menjadi lebih bersemangat kembali. Seolah menemukan kembali ‘masa hero’ yang pernah dilakoninya bersama. Saya lalu bertanya dalam hati, ada apa yang dimiliki seorang Prabowo Subianto, sehingga orang bisa seperti itu?

Saya menangkap fenomena ini, pada sosok Soemardi, seorang purnawiran perwira militer yang sepekan ini terus mengungkapkan ‘semangat hidupnya’ dan terus mencari jalan untuk memenangkan Pak Prabowo di Pilpres mendatang, meski Pak Prabowo sendiri tidak mengetahui ‘niat baik’ seorang Pak Soemardi. “Dik Hamzah, ayo terus kita yakinkan rakyat Indonesia, bahwa Pak Prabowo itu adalah pemimpin masa depan kita. Jangan pernah kita berhenti mengabarkan pada publik bahwa kita masih punya pemimpin yang hidupnya akan sepenuhnya diberikan pada rakyatnya. Itulah Prabowo Subianto,” ungkap Pak Soemardi berkali-kali melalui saluran teleponnya.

Saya menangkap sugesti Pak Soemardi seperti api yang tengah membara ditengah usianya yang tak lagi energik. Pengusaha yang merupakan kerabat dekat keluarga Ibu Mien Soegandi ini tampaknya menjadi penebar semangat anak-anak muda Indonesia yang mengimpikan lahirnya pemimpin nasional yang berkarakter ‘khas Indonesia’. “Anda anak-anak muda Indonesia, jangan ragukan kemampuan Pak Prabowo, saya yang sudah sepuh saja masih berharap Indonesia menemukan pemimpin ala Prabowo Subianto,” tegasnya.

Ketika saya bertanya ‘terbuka’ pada diri Pak Soemardi, mengapa dirinya begitu bersemangat dalam memandang sosok Prabowo Subianto? Apakah Pak Soemardi memiliki kepentingan pragmatis pada sosok adik juniornya itu? “Jangan nilai saya seperti itu Dik!” nada Pak Soemardi mulai meninggi. Meski hanya menyimak Pak Soemardi melalui saluran telepon, tetapi saya seolah memandang langsung wajahnya, seolah ada nada ketidak-sukaan atas pertanyaan saya tersebut.

“Dik Hamzah, saya dan Dik Prabowo selama ini jarang bertemu. Saya juga sibuk dengan aktivitas di Central Park. Saya belakangan ini saya sowan pada ibu Mien Sugandi, lagi pula sepekan ini saya ada di Bandung. Niat saya ke Pak Prabowo amat sederhana, beliau kita harapkan menjadi pemimpin republik dan mampu mensejahterakan rakyat Indonesia. Tidak lebih dari itu,” tandasnya.

Mendengar kata ‘Central Park’ dan nama Ibu Mien Soegandi, saya terdiam sejenak dan melayangkan pikiran jauh ke depan. Tentu karena Central Park adalah sebuah kawasann elit di Jakarta. Apalagi kalau menyatakan tinggal di kawasan itu. Tentu Pak Soemardi bukanlah sosok biasa dari segi financial. Saya tahu, orang-orang yang tinggal di kawasan itu tentu orang yang hidupnya lebih dari kata cukup. Makanya wajar kemudian, jika ada pertanyaan yang bermakna ‘pragmatis’, Pak Soemardi langsung membantahnya. Apalagi, jika dikait-kaitkan dengan nama besar Ibu Mien Soegandi yang merupakan kerabat dekat Pak Soemardi sebagai sosok menteri yang pernah berjaya di zaman pemerintahan Pak Harto.

Membaranya api ‘semangat’ Pak Soemardi tidak hanya melalui pesan-pesan komunikasi verbal. Pak Soemardi sepekan lalu menemui saya dan rekan-rekan pengurus Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gerakan Rakyat Dukung (Gardu) Prabowo, di sana Pak Soemardi memaparkan satu ‘buku kecil’ yang ia buat sendiri, memperlihatkan dua alternatif cara bertindak dalam system kepemimpinan nasional. Beliau punya solusi, belaiu punya cara berfikir taktis dan tidak pragmatis. “Ini harus kita ramu sedemikian rupa, dan bisa memberi jalan buat Pak Prabowo. Ini tugas kita bersama” ajaknya.

Ketika bertutur, saya melihat sebuah tetesan keringat semangat Pak Soemardi, seperti seorang semangat satria yang gigih memperjuangkan cita-citanya. Inilah nafas kesetiaan seorang Pak Soemardi pada sosok Prabowo Subianto, yang sebenarnya ia dedikasikan pada negaranya.

Sore ini Pak Soemardi kembali menelpon saya. Ia mengajak saya bertemu Ibu Mien Soegandi. Sepertinya beliau ingin meyakinkan saya, bahwa Pak Prabowo tidak sendiri, banyak tokoh yang mengetahui sepak terjangnya. “Dik, Hari Minggu besok, saya undang Dik Hamzah ke Central Park, di sana Dik Hamzah bisa berdiskusi dengan Ibu Mien Soegandi, sebab beliau besok jenguk cucu,” pinta beliau.

Sayangnya, malam ini saya harus ‘terbang’ ke Makassar selanjutnya ke Kota Baubau di Pulau Buton sana menemui anak istri. Tentu tak bisa memenuhi ajakan Pak Soemardi . namun saya begitu menghargai apresiasi beliau, menghargai semangat Pak Soemardi akan sosok Prabowo Subianto. Saya mengakui jika saya megagumi Pak Prabowo, tetapi semangat dan api yang membara dalam jiwa Pak Soemardi tentang Pak Prabowo jauh lebih besar, seolah membentang di cakrawala angkasa raya.
Saya hanya berkata dalam hati kecil, “Tak sia-sia saya menjadi seorang pengagum Prabowo Subianto”. (**).
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya
comments