30 March 2012

Apakah layak menurunkan Presiden SBY saat ini? Saya menjawabnya lantang. “sangat layak!” Saya sepakat pernyataan Adnan Buyung Nasution, jika menurunkan SBY dari kekuasaannya kini adalah konstitusional. Sah dan sangat wajar. Alasannya sederhana, Pak Beye tidak common sense lagi dengan anak bangsanya sendiri. Dugaan akan kecenderungan tergantung dengan negara asing begitu tampak. Pak Beye seolah kehilangan akal, seolah negara ini hancur lebur jika BBM tidak dinaikkan. Seolah bangsa ini menghilang dan lenyap ditelan masa jika harga bensin itu tetap pada ‘angkanya’ sekarang.

Bagi saya, sikap penolakan PDIP, Gerindra, Hanura dan serta pernyataan beberapa elit terkait kenaikan harga BBM, adalah penggambaran jika mereka memiliki solusi keterpurukan ekonomi negara selain menaikkan harga BBM. Mengapa ‘mereka’ tidak di ajak mencari jalan keluar? ‘mereka’ pasti punya pemikir yang bisa menemukan jalan keluar untuk masalah ini. Pak Beye pasti paham bahwa dirinya seorang Presiden yang merupakan kulminasi dari kepemimpinan nasional. Ia bisa mengajak elemen-elemen anak bangsa yang ahli soal BBM, jika ia mau. Sayang, Pak Beye sebagai presiden terkesan hanya miliki kelompok tertentu saja. Lebih mengutamakan pertemuan di Luar Negeri, ketimbang harus fokus dengan urusan anak negeri yang kini telah larut dalam situasi bentrok. Khususnya mahasiswa dan polisi.

Tahukah kita? Mengapa mahasiswa di sejumlah daerah kini lebih memilih memblokade Bandar Udara (Bandara) sebagai trend ketika berunjuk rasa? Sementara mahasiswa paham jika bandara adalah sarana vital yang regulasinya berstandar Internasional, dan tidak boleh di demo? Tentu karena mereka memahami, bahwa ini satu-satunya cara untuk melemahkan ‘citra’ Pak Beye di mata asing, yang selalu diapologikan sebagai orang yang tunduk dengan kemauan kaum liberal, tunduk dengan kemauan asing, tanpa melihat realitas sosial yang terjadi pada masyarakatnya. Jika itu benar. Apakah rakyat Indonesia layak mempertahankan Pak Beye sebagai pemimpin kita? 

Saya tak merekonstruksi pemikiran kita untuk mengajak menjatuhkan Pak Beye. Tapi saya merekonstruksi pemikiran kita, bahwa bangsa ini benar-benar tak lagi berdaulat dengan kekuatannya sendiri. Saya memandangnya dari satu sisi subjektif saja, bila isu BBM adalah cara asing untuk mengadu domba bangsa ini. Saya ingin bertanya, mengapa bangsa ini dikenal sebagai prdusen minyak tetapi rakyatnya menjadi sengsara karena minyak? Sesuatu yang amat tidak logis. Sebab banyak negara di dunia ini, sama sekali tak memiliki kekayaan minyak bumi, tetapi ia tetap bisa bertahan sebagai negara yang berdaulat.

Sebagai mahasiswa, hati saya terperikan melihat adik-adik terluka dan tertembak peluru ‘ayahnya’ sendiri. Tetapi sebagai bagian dari orang yang menyandang status sebagai aparatur, hati saya gundah, apakah benar ini cara terbaik memimpin bangsa ini. Sepertinya kita telah masuk dalam perangkap politik ‘devide at impera’ gaya baru, yang di produksi oleh kaum kapitalis. Saya curiga, bangsa-bangsa lain akan tersenyum bahkan terbahak-bahak menyaksikan adegan bentrok berdarah ini. Mereka tahu, Indonesia kini begitu rapuh, ideologinya menjadi abu-abu, dan layak menjadi tontonan pagi hari di televisi dan koran-koran mereka.

Saya juga curiga, kaum kapitalis asing itu juga bertepuk tangan ketika mereka menyimak berita, jika Indonesia yang dulu dikenal ramah dan berbudaya itu, kini menjadi bangsa pemarah dan mudah di adu domba, dengan cara memindahkan satu isu ke isu yang lain. Seperti isu bentrok antara mahasiswa dan polisi yang bisa mengubur isu korupsi yang melibatkan para petinggi di negeri ini. Sebuah skenario hebat yang luput dari pengamatan para pemimpin bangsa ini. 

Saya merasa geli ketika seorang rekan berkata, ”bangsa kita kini sulit tertawa, sebab tak ada lagi pelawak yang bisa menghibur, sebab beralih profesi menjadi politisi”. Saya justru berfikir sebaliknya, ”bahwa kita tidak memiliki politisi sebab politisnya telah menjadi pelawak-pelawak bangsa asing, yang pantas jadi penghias berita di televise dan koran-koran mereka. entahlah”.

Saya menutup kalimat ini seperti judul di atas; BBM, Satu isu Asing Mengadu Bangsa Kita!

**


Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX