Selamat datang d Blog pribadi Hamzah Palalloi.....Silahkan memberi komentar di bacaan Anda..






Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Kampung Makasar Jakarta, Magnet Sejarah Yang Sunyi



Di Jakarta Timur terdapat wilayah bahkan kini nama sebuh kecamatan, namanya Kampung Makasar. Bisa ditebak jika wilayah ini mungkin dulunya dihuni orang-orang Makassar. Seperti nama wilayah lainnya di ibukota ini seperti Kampung Melayu, Kampung Ambon, Manggarai dan sebagainya.  Menjadi pertanyaan besar, bagaimana orang Makassar bisa berafiliasi dengan orang Betawi sehingga bisa dapat ‘jatuh kampung’ di Batavia ini? Apakah dulunya ada ‘bedol desa’ antara Gowa dan Batavia sehingga nama  Makassar bisa eksis di Jakarta?

Menyusuri jejak Makassar di Kampung Makassar Jakarta Timur sepertinya menggantang asap, sebab tak ada pemukiman khusus orang Makassar yang menjadi penanda mengapa wilayah ini bernama seperti itu. Tak ada pula ‘dialeg khusus’ yang menjadi ciri khas orang makassar seperti akhiran kata ‘ji’, ‘mi’, ‘tonji’ atau kelebihan atau kekurangan huruf ‘g’ dalam percakapan orang-orang Sulawesi Selatan yang biasanya para remaja mengistilahkannya dengan sebutan ‘okkot’.

Sebagai seorang bersuku ‘Bugis-Makassar’, istilah penamaan wilayah ‘Kampung  Makassar’ di Jakarta ini sebuah jejak sejarah yang sunyi, sebab minimnya informasi tentang itu. Satu-satunya penanda yang dikira-kira bisa menjadi awal mula nama wilayah ini adalah keberadaan makam tua di Kramat Jati, wilayah yang dulunya pemekaran dari Kecamatan Kampung Makasar. Makam itu konon pesohor asal Makassar-Sulawesi Selatan, namanya Dato’ Tonggara. Siapa beliau? Amat sulit menjelaskannya.

Cerita orang-orang di Kampung Makassar dan Kramat Jati, Dato Tonggara dulunya seorang ulama asal Makassar yang banyak memberi peran di Batavia dan punya kedekatan khusus Pangeran Jayakarta, penguasa Batavia. Tetapi menjadi aneh jika mencari letaratur sejarah Bugis-Makassar, sebab tak satupun nama tokoh Dato Tonggara, yang ada semisal ‘Karaeng Segeri Tomatinrowe Ri Batavia’ atau jejak-jejak sejarah Arung Palakka di kawasan Sunda Kelapa.

Meruntut sebutan ‘Dato’ pada nama Dato’ Tonggara, lebih cenderung kemelayu-melayuan.  Sebab bisa ditebak nama Dato dekat dengan sebutan ‘Datuk’, gelar terhormat di tanah Melayu. Tetapi soal Melayu di Sulawesi Selatan bukan barang baru, di Pangkep misalnya, terdapat afiliasi antara Melayu dengan suku Bugis-Makassar di sana, itulah mengapa ada sebutan nama ‘Ince’ pada beberapa nama di kampung halaman saya itu. Keluarga besar saya sendiri memanggil nama kakek dari garis Ibu dengan panggilan Dato’. Halnya dengan Ince yang banyak mengasumsikan sebagai samaran dari sebutan ‘Encik’, panggilan pada bangsawan-bangsawan Melayu.

Kembali ke soal nama Dato Tonggara, beberapa penduduk di Kramat Jati dan Kampung Makasar mengaku jika mereka adalah turunan Dato Tonggara asal Makassar itu, namun mereka telah ‘mati obor’, istilah penduduk di sana untuk mengungkapkan jika mereka tak mengetahui silsilah mereka, kehilangan sejarah dan lain-lain, sebab telah lama menjadi warga Jakarta, dan bahkan telah merasa menjadi suku Betawi asli, penduduk asli Jakarta.

Yang menjadi cerita sedih bagi ‘Dato Tonggara’ ini adalah, meski ia penyambung ‘garis keturunan’ orang-orang Makassar di Batavia, tetapi makamnya yang dikeramatkan penduduk itu jutru tak amat jarang dikunjungi oleh-oleh orang Bugis-Makassar itu sendiri. Dato Tonggara sepertinya hanya terbaring dalam kesediriannya, tak ada sejarah di Sulawesi Selatan yang pernah menuliskan kisahnya, tak ada perlakuan khusus orang-orang dari sukunya sendiri. Boleh jadi, jika saja Jakarta semakin padat, maka makam Dato Tonggara yang dikeramatkan itu bisa saja bernasib sama dengan makam-makam tua lainnya di Ibukota, digusur dan semakin kehilangan jejak.

Satu-satunya penghormatan pada Dato Tonggara di ibukota, yakni namanya telah diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Kramat Jati. Jalan Raya Dato Tonggara, kemudian dipecah-pecah lagi menjadi beberapa bagian, jalan Dato Tonggara I, II dan seterusnya. Jalan ini juga mnejadi perujuk menuju makam beliau. Semoga saja beliau tetap menjadi aulia di sisi-Nya. Amin.

                                                                             **
Publikasi Media
Dato Tonggara asal Makassar, Penyebar Islam di Betawi
Makamnya tak Pernah Diziarahi Orang Makassar

Jiwa tualang orang Bugis - Makassar sangatlah besar. Sejarah mencatat, salah satu penyebar Islam di Betawi merupakan orang Makassar. Dato Tonggara.

Sejarah masa lalu tak mendetail menceritakan tentang sosok Dato Tonggara. Bahkan, cerita di masyarakat-pun yang didapati hanya sepenggalan kisah yang mereka dapat turun temurun dari keluarganya.

Di Kelurahan Kramat Jati, salah satu tokoh masyarakat, Muhammad Saman menuturkan kalau Dato Tonggara merupakan pejuang Islam yang bertualang melawan penjajah sambil berdakwah. Dikatakannya, kalau Dato Tonggara sebelum menetap di Tana Betawi sudah melakukan perjalanan yang cukup panjang dari Timur Indonesia.

Tidak diketahui tepatnya, tahun berapa Dato Tonggara meninggalkan Makassar, Sulawesi Selatan untuk berdakwah bersama dengan pasukannya. Namun, menurut tokoh masyarakat di Kramat Jati, kalau Dato Tonggara meninggalkan seorang istri dan dua orang anak di tanah kelahirannya.

Siapa istri dan anak-anaknya, juga tidak diketahui. Lebih jauh, Samad menceritakan wialayah yang pertama di singgahi oleh Dato Tonggara dalam pengembaraannya adalah Flores. Dari situ, dia bersama dengan pasukannya kemudian bergerak ke Nusa Tenggara Timur (NTT) lalu menyeberang ke Pulau Jawa.

Di Pulau Jawa, Dato Tonggara kemudian memperdalam ilmu agamanya dengan berguru kepada Pangeran Jayakarta. Kemudian, dengan beberapa dato-dato lainnya yang sudah berada di Betawi menyebarkan Agama Islam.

Dalam catatan sejarah masyarakat Betawi, tokoh penyebar Islam di Betawi pada 1418 - 1527 M sangat gencar melakukan dakwah. Sehingga, pada masa itu, penyebaran Islam di Betawi mendapatkan perwlawanan keras dari penganut agama lokal.

Akibatnya, terjadi peperangan antara pihak Islam dengan penganut agama lokal dibawa pimpinan Prabu Surawisesa. Tercatat, pada masa penyebaran Islam di Betawi terjadi 15 kali peperangan.

Selain pasukan Dato Tonggara, juga yang terlibat dalam peperangan itu yakni Dato Tanjung Kait, Kumpo Datuk Depok, Dato Ibrahim Condet, dan Dato Biru Rawabangke. Pada peperangan itulah, pasukan Dato Tonggara banyak yang wafat. Sampai satu waktu, Dato Tonggara kehabisan pasukan.

Setelah pasukannya tiada, Dato Tonggara pergi ke hutan jati (sekarang Kramat Jati, red) yang jauh dari pusat kota. Kesendiriannya cukup lama, hingga dia menguasai kawasan tersebut mulai dari Kampung Makassar, Halim, Kramat Jati hingga Pondok Gede.

Wilayah kekuasaannya itu tak berpenghuni kecuali dirinya. Setiap ada orang yang hendak masuk ke wilayahnya, mendapat teguran dari dia. Karena, setiap malam hari dia beraptroli seorang diri di wilayah itu.

Tak lama kemudian, setelah lama menyendiri, Dato Tonggara mulai mempersilahkan orang menempati daerah kekuasaannya, hingga menjadi sebuah perkampungan. Sepenggal cerita itulah yang hingga saat ini diketahui masyarakat sekitar makam Dato Tonggara yang letaknya di Kelurahan Kramat Jati. Tidak diketahui secara pasti kapan Dato Tonggara wafat, karena tidak ada tanda-tanda yang menandakan itu.

Makam Dato Tonggara sendiri saat ini dipugar beberbentuk sebuah rumah dengan satu pintu. Disamping makam itu, Ibu Cucun (63) yang bertindak sebagai kunjen/juru kunci tinggal dengan sebuah gubuk berdindingkan atap-atap bekas.

Cucun yang juga juru kunci, tak tahu banyak tentang cerita Dato Tonggara. Dia hanya mengatakan kalau yang tahu banyak tentang cerita Dato Tonggara sudah meninggal dunia, H Damad. Dia menjadi kunjen makam itu hanya karena sebelumnya yang menjadi kunjen adalah ibunya, Raizah.

Dia tak bercerita banyak ketika penulis berkunjung ke makam. Dia hanya membuka makam, kemudian duduk sejenak lalu kembali masuk ke rumahnya. Setelah melihat-lihat di makam itu, penulis kembali menemui Cucun yang duduk di depan rumahnya. Katanya, yang kerap datang mengunjungi makam itu hanya warga Kramat Jati saja, dan beberapa kali warga dari Cirebon.

"Saya belum pernah mendapati orang Makassar yang datang berziarah di makam ini. Hanya orang-orang disini saja yang datang, saya tidak tahu apakah mereka tahu dan tidak datang atau memang mereka tidak tahu tentang keberadaan Dato Tonggara. Padahal, Dato Tonggara kami yakini sebagai seorang yang memiliki ilmu agama yang cukup dalam, sampai-sampai ada yang menyebutnya waliyullah (wali)," tuturnya. (sms/fmc)


Aru Pattojoe jadi Petojo di Jakarta

Jakarta di mata orang-orang Bugis bukanlah negeri baru, sejak dulu memang, ketika Aru Palakka ke Betawi..cerita sepert inilah ke,udian banyak nama-nama Bugis di Jakarta yang telah berubah menjadi nama dalam 'lidah' betawi. salah satunya, Petojo, sebuah kawasan tak jauh dari Monas..

awalnya tanah Pertojo Ilir ini milik seorang bangsawan Boegis bernama Aroe Patoedjoe. Letaknya sekitar kali Krukut, sebelah timur benteng Angke, Sejak 1663 Kompeni memang menempatkan orang Bugis di kawasan itu. Angke sendiri juga serapan bahasa Bugis yang berarti 'berharga'. makanya di Sulsel, ada yang disebut 'to angke' dan lain sebagainya.

Sejarah balik tanah itu memang memiliki cerita cukup panjang. Bermula dari perseteruan antara kerajaan Bone dengan Kerajaan Gowa/Tallo, sehingga Gubernemen Belanda perlu menurunkan “tangan malaikatnya, mendamaikan pihak yang bertikai agar tidak terjadi pertumpahan darah,” cuma di luar komando, diam-diam mereka menyediakan senjata kepada Aru Palaka sebagai tindakan represif terhadap Raja Gowa.

Dengan bantuan persenjataan yang nggegirisi, maka dalam waktu singkat 1667 kerajaan Gowa/Tallo sudah bisa ditekuk lututnya. Dan ini udang dibalik Komisi Perdamaian sebab dengan jatuhnya kerajaan Gowa berarti keuntungan bagi Kompeni sebab selama ini politik monopoli dagang mereka selalu dihalang-halangi oleh Raja Gowa/Tallo.

Setelah Aru Palaka meninggal dunia, sebagian anak buahnya ikut menjadi “repatriasi” ke Betawi. Mereka menjadi mesin perang di pelbagai peperangan seperti di Jampang, Siam (Thailand), Ceylon, Persia, Ternate, Ujung Timur Jawa dan Jawa Tengah.

Salah satu panglima terkenalnya adalah Aru Patojoe, yang kemudian diberi tanah dan dipetakan dalam peta Betawi buatan abad ke-19 sebagai “Patojoe Land,”

Sesuai dengan lidah Betawi maka lambat laun nama kawasan Patojoe berubah menjadi menjadi Petojo.

Idrus Qaimuddin, Pemimpin Sejati Yang Terabaikan Sejarah

Idrus Qaimuddin, tidak setenar dengan sejumlah nama besar yang tercatat namanya dalam belantika sejarah nasional. Benar, beliau tak setenar Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, serta sederet nama pahlawan yang pernah ada di Nusantara ini. Bahkan bila menyebut nama sejumlah ulama besar di negeri ini, Idrus Qaimuddin juga sangat tenggelam. Tenggelam dalam irama waktu, tetapi bernafas dalam detak jiwa pengikutnya. Kadang setiap orang yang mengenalnya bertanya; apakah sejarah mengabaikannya? Ataukah negara ini kurang pandai menggali siapa sosok-sosok terbaik di negeri ini, yang layak menjadi panutan setiap generasi.

Idrus Qaimuddin bernama lengkap Sultan Muh. Aydrus Qaimuddin, Khalifatul Khamis. Seorang Sultan Buton yang ke-29 menjadi memerintah Kesultanan Buton dari tahun 1821 hingga tahun 1851. Beliau bukan Pahlawan Nasional, atau apalah namanya. Tetapi kesederhanaannya dan apa yang ia lakoni, patut dan layak menjadi inspirasi dari setiap pemimpin bangsa ini, dan tentunya bagi anak bangsa dimanapun ia berada. Saking sederhananya dokumentasi foto maupun lukisan ilustrasi tentang beliau sangat sulit ditemukan. Namun bagi orang Buton, Idrus adalah sosok pemimpin, yang tak pernah lekang dalam ingatan.

Lalu apa keistimewaan dari Sultan ini? Bila berpijak dari posisinya sebagai Sultan, tentu ia adalah ‘orang nomor satu’ yang pernah bertahta di Buton dengan wilayah territorial meliputi Sulawesi Tenggara dan sebagaian wilayah Sulawesi Tengah masa kini. Gelar ‘Khalifatul Khamis’ yang melekat pada namanya tentu terkait erat dengan ke-khilafaan Islam yang pernah terbangun di dunia. Dalam beberapa literature menyebutkan konsep ‘Khalifatul Khamis’ adalah konsep kepemimpinan Islam yang pernah di kembangkan di kawasan Timur Tengah, dimana Sultan-sultan Buton mendapat kepercayaan sebagai pengatur pemerintahan Islam di kawasan timur Nusantara. Hal ini terkait, dengan  setiap pengangkatan sultan di Buton, maka mendapatkan pengakuan dari Sultan Rum di Turki, dan disiarkan oleh khatib Jumat di Mekkah pada zamannya.

Tapi bukan konsep territorial itu yang menjadi keistimewaan seorang Sultan Idrus Qaimuddin. Beliau pada masa pemerintahannya tak hanya berposisi sebagai ‘presiden atau raja’ tetapi menjadikan dirinya sebagai rakyat biasa sederajat dengan warga yang dipimpinnya. (Tentu sesuatu hal yang sangat sulit ditemukan di era sekarang, terkecuali bila ada seremoni politik yang akan dihadapi). Bagi Orang Buton, Idrus dikenal sebagai sastrawan yang banyak menuliskan kebatinannya dengan Sang Pencipta melalui syair-syairnya, yang di tanah Wolio (Pulau Buton) dikenal dengan istilah Kabanti yang ditulis dengan menggunakan aksara ‘buri wolio’, aksara Buton yang mengadopsi aksara Arab.

Kabanti pada sejumlah literature seperti Tasawwuf Dalam Undang-Undang Buton yang ditulis La Niampe dalam Yusran Darmawan pada buku Naskah Buton, Naskah Dunia adalah kumpulan syair-syair yang berisi petuah-petuah, kisah peristiwa, hingga ajaran tasawwuf dan sangat syarat dengan makna kehidupan. Salah satu kumpulan syair kabanti karya Idrus yang paling mendarah-daging dalam benak orang Buton adalah ‘Ajonga Yinda Malusa’ (ditulis oleh Haji Abdul Ganiyu atau Kenepulu Bula, pejabat kesultanan masa Idrus memimpin)…kira-kira dalam bahasa Indonesia berarti ‘Pakaian Yang Tak Pernah Usang’.

Dalam syair ini, Idrus banyak mengisahkan dirinya sebagai hamba biasa, yang tak punya perbedaan dengan manusia pada umumnya. Beliau juga menanamkan spirit ‘sederajat’ bagi semua hamba Tuhan, dari manapun ia berasal, tanpa mengenal ras, agama dan antar golongan. Mengingat ajaran beliau, mengingatkan kita pada alam ke-sufi-an para tokoh-tokoh besar Islam di dunia. Atau di era modern pernah ada  sosok Mahatma Gandi yang terkenal dengan ajaran ‘Ahimsa’-nya. Sungguh sebuah kemulyaan, bila pemimpin bangsa ini bisa menggali apa yang pernah diajarkan Muh. Idrus Qaimuddin.

Idrus bukan hanya pemimpin yang sufi, beliau juga sosok cerdas bahkan bisa disebut sebagai teknokrat. Pada zaman kepemimpinannya, beliau mampu menterjemahkan alam pikiran masa depan dalam membangun sebuah kota. Siapa sangka bila dua abad yang lalu, Idrus telah menancapkan bahwa pusat wilayah kepemimpinannya, kini berkembang menjadi kota yang cukup dinamis dan layak menjadi ibukota provinsi seperti Kota Baubau di Pulau Buton sana.

Sulit untuk menuliskan kedalaman makna dari seorang Idrus Qaimuddin. Meski terabaikan sejarah, tetapi saatnya anak bangsa meluangkan waktu untuk belajar dengan tokoh sekaliber beliau. Semoga mendapat berkah-Nya.

Cikini-Jakarta, penghujung malam 9 Mei 2011.




5 Juta Gulden, Dendam dan Kesunyian Isu Korupsi

Pelan-pelan mulai ada kenyamanan menyoal Monarki Jogja versus Demokrasi Pak Beye. Setelah diinfokan oleh beberapa media, bila sebentar malam ada pertemuan khusus antara Pak Beye selaku Presiden, dan Sri Sultan HB-X selaku Gubernur, dan tentunya Raja Jogja. Apalagi pihak Istana mengabarkan bila pada Hari Guru nanti, Sri Sultan selaku Gubernur memperoleh Bintang Penghargaan di bidang pendidikan langsung dari Presiden. Ini kemajuan besar, untuk kembali ’merekatkan’ dan menghilangkan prasangka buruk publik pada kedua tokoh ini.

Namun Saya kembali tergelitik untuk merangkai banyak cerita di tengah panasnya ’Bola Api’ Monarki Jogja dan Demokrasi Pak Beye. Paling tidak kembali menelisik bagaimana peran Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat di awal republik ini terbentuk.. Sebab, sejak empat hari bergulir, yang banyak terpublish ke media, adalah pernyataan Sri Sultan HB-IX dan Paku Alam VIII yang rela bergabung dengan Republik Indonesia.

Lebih dari itu, sejarawan LIPI, Asvi Adam Warman mengungkap bahwa selain pernyataan berharga Raja Mataram tersebut, ternyata ketika Ibukota RI dipindahkan ke Jogjakarta, Sri Sultan HB-IX juga rela menghibahkan dana besar senilai 5 Juta Gulden kepada pemerintah RI saat itu, untuk membiayai tiga bulan pertama aparat pemerintah RI. Sungguh sebuah sumbangan besar Keraton Jogja yang patut dihargai hingga saat ini.

Tentu dana 5 juta Gulden itu bukan angka kecil. Bisa jadi nilainya trilyunan rupiah bila di konversi dengan waktu, bunga, dan kepedulian Keraton Ngayogyakarto. ”Boleh dikata, RI pada masa kelahirannya ibarat bidan yang merawat bayi RI, makanya kalau mau mencopot keistimewaan Yogyakarta, kembalikan dulu 5 juta gulden termasuk bunga-bunganya. Zaman dulu uang segitu banyak banget," papar Asvi  detik.com. hari ini.

Menyoal dana 5 juta Gulden ini sungguh sangat menarik. Sebab dalam beberapa literatur menyebutkan bila Gulden (bahasa Belanda: gulden, bahasa Inggris: guilder) adalah mata uang Belanda selama beberapa abad, sebelum digantikan oleh euro pada 1 Januari 2002. Kata gulden berasal dari bahasa Belanda Kuno yang berarti 'emas'.

Nama ini mulanya digunakan untuk menyebut uang yang berbentuk kepingan emas, namun kemudian menjadi nama umum untuk kepingan perak atau logam dasar lainnya. Nama lain untuk gulden adalah florin. Satu setengah gulden juga disebut daalder (lihat thaler); sedangkan dua setengah gulden disebut rijksdaalder. Kata daalder atau thaler ini adalah asal mula dari kata dollar. Jadi bayangkan saja kalau 5 juta gepok dari kepingan emas, disumbangkan pada awal republik ini.

Berapa Kekayaan Sultan?
Ketika menyebut 5 juta Gulden, yang disumbangkan tanpa ’tedeng aling-aling’ kepada RI, dan memikirkan pembiayaan Keraton Jogja dan Abdi dalemnya, hingga petugas-petugas sekelas ’Mbah Marijan’ yang disebut-sebut sebagai ’Kuncen’ Merapi, bisa dibayangkan berapa banyak harta seorang Sri Sultan HB-IX, atau berapa besar aset Keraton.

Saya bgitu ingin jauh menelisik bagaimana kekayaan Sultan dan Keratonnya. Sykurlah, ternyata saya mendapat informasi penting yang menyebutkan Sultan HB IX tidak hanya meninggalkan nama harum, juga dua keraton -- satu di Yogyakarta dan satu di Bogor -- serta sejumlah aset dan perusahaan. Kalau dijumlah, semuanya bisa mencapai nilai beberapa milyar rupiah.

Bahkan, menurut sebuah sumber di Bank Dagang Nasional Indonesia, Sri Sultan termasuk salah satu dari 200 -- orang terkaya di negeri ini. Aset total bank itu pada tahun 1987 Rp 506 milyar lebih, dengan keuntungan Rp 1,8 milyar lebih. Sulit memang untuk menaksir berapa kekayaan Sri Sultan. Soalnya, menurut Christianto Wibisono, Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia, jarang kelihatan nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX pribadi di atas akta perusahaan.

Setelah meneliti, Christianto cuma menemukan sekitar selusin perusahaan, dan di situ Sultan tidak muncul langsung secara mencolok. Namun, patut dicatat, sebagian akta itu belum keluar. Kesulitan lain adalah memisahkan kekayaan pribadi dan kekayaan keraton. "Ini tidak kelihatan secara yuridis," kata Christianto. Ia memperkirakan, kalau ditelusuri langsung, dengan melibatkan seluruh aset Keraton Yogyakarta, Almarhum Sultan Hamengku Buwono mungkin bisa masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia. Pertanyaannya, bagaimana  kekayaan Sr Sultan HB-X saat ini? Saya hanya meyakini, kalau kekayaan Sultan dan aset Keraton ini bisa membiayai Jogja seandainya Jogja kembali memisahkan diri dari republik. (Jangan ya?)

Dendam lama? Jangan Di Percaya.
Cerita-cerita seputar Monarki Jogja dan Demokrasi Pak Beye yang sudah merembet jauh di ubun-ubun orang Indonesia, khususnya warga Jogjakarta, ternyata konon Sri Sultan dan Pak Beye punya interest pribadi, yang terjadi bukan hanya ketika Sultan HB-X sudah menjadi Gubernur DIY, dan Pak Beye menjadi Presiden.

Katanya, ketika Pak Beye menjadi Dandim di Jogja, dan pada saat itu Sri Sultan HB-X belum menjadi Gubernur, sempat terjadi kless diantara keduanya. Konon saat itu, Pak Beye mengumpulkan beberapa pemuda di halaman rumah HB-X tanpa izin. Karena tanpa izin, HB-X akhirnya membubarkan kumpulan itu. Konon disanalah bermula dendam antara Pak Beye dan Sri Sultan HB-X. Itu cerita rekan Saya, seorang warga Jogja, kelahiran tahun 1962, berpendidikan, punya pengalaman, dan kini bermukim di Jakarta. Saya bilang pada rekan saya itu. ”Jangan Percaya cerita itu, meski Anda Orang Jogja...hahahaha” kataku tergelak pada kawanku itu.

Sunyinya Isu Korupsi
Ketika  Monarki Jogja dan Demokrasi Pak Beye menjadi masalah hangat di negara ini, ternyata isu-isu besar seputar korupsi perlahan mengikis dan terasa sangat sunyi. Saya mencoba membahasnya, ketika Rabu siang ini (2/12) Saya menyempatkan diri berkunjung ke Kantor Kejaksaan Agung RI. Didepan gedung itu terdapat patung R. Suprapto, yang dikenal sebagai Bapak Kejaksaan Agung RI. (sayang saya tidak membawa kamera, sehingga tak bisa mengabadikannya).

Memandang Patung lusuh itu, saya tergerak melihat identitasnya, yang menyebutkan R. Suprapto wafat tanggal 2 Desember. Pas Hari ini. Saya pun membatin, patung R. Suprapto ini sama dengan Saya, seolah bergumam, kok isu korupsi belakangan ini begitu sunyi. ”Apakah masalah Monarki ini pengalihan isu, seperti ’trend’ yang banyak terjadi belakangan ini?” begitu Saya membatin.

Maklum, kasus seorang Gayus begitu sunyi, apalagi meembahas isu Kerakatau Stell, yang dijual murah dan melibatkan banyak pihak didalamnya. Sampai-sampai ada kalangan jurnalis diduga terlibat. Saya curiga dan bermegatif thinking, bahwa selain Gayus, masalah Krakatau Stell adalah masalah besar yang seharusnya diselesaikan, namun dibiarkan lenyap begitu saja. Ada apa?

Kata teman Saya begini, ”Kok Krakatau Stell itu hilang juga?  Gayus jadi sunyi, dan yang luar biasa, kebocoran pipa Exxon yang 500 meter di bawah laut kok bisa selesai, sementara Porong ya di daratan tidak pernah selesai. Ada apa ya? Temanku bercanda, menjawab sendiri. ”Soalnya, Michelle Obama kak punya saham di Exxon, jadi Barrack bisa tegas buat perintahin si Exxon ngeberesin... trus juga kasus Gayus, kudunya kemarin tu ada gelar perkara kan? kenapa juga bisa dilewatin?

Wallahu Alam Bissawab....Hanya Tuhan Yang Tahu....

Jakarta Sore Hari, 2 Desember 2010

Surat Raja-Raja Buton Banyak Tersimpan di Luar Negeri

Dosen dari Universitas Leiden, Belanda, Surjadi mengatakan, surat Raja-Raja Buton banyak tersimpan di luar
negeri, diantaranya Perpustakaan Universitas Bibliotheekcub, Leiden, Belanda."Di Universitas itu tersimpan delapan surat Raja-Raja Buton, diantaranya dari Sultan Buton ke-26 Yakni Sultan Mahyuddin Abdul Gafur," katanya baru-baru ini.
            
Ia mengatakan, dari semua surat tersebut, yang tertua adalah surat tahun 1788 dan termuda 1802, tidak tertutup kemungkinan masih ada surat Raja-raja Buton lainnya yang tersimpan di sana, namun perlu waktu untuk melacaknya.

            Berdasarkan identifikasi kadikologis, kata Surjadi, dapat diketahui bahwa lima dari kedelapan surat di
Perpustakaan UB, Leiden tersebut adalah dari Sultan Buton ke-26, Sultan Muhyuddin Abdul Gafur yang memerintah di Buton tahun 1791-1799.

            Menurutnya, kelima surat itu berbahasa Melayu dan ditulis dengan aksara Arab-Melayu (Jawi). Seluruh surat itu termasuk koleksi "Rijks Instelling", Salinan surat-surat tersebut sudah ada di Indonesia termasuk di Buton.

            Kelima surat dari Sultan Muhyuddin Abdul Gafur itu, kata Surjadi, tanpa iluminasi. Bagian-bagian tertentu di dalam surat dicetak tebal oleh juru tulis istana yang menulisnya Kepala surat berasosiasi dengan bentuk kapal layar, seperti ditemukan pada surat dari beberapa daerah lainnya di Nusantara.

            Dijelaskan kelima surat tersebut memiliki stempel dengan menggunakan tinta hitam. Stempel di capkan pada bagian kanan surat surat, stempel surat tersebut menunjukkan besarnya pengaruh Islam dalam inskripsi stempel-stempel dari Kesultanan Buton.

            Dari transliterasi kelima surat Sultan Buton itu, dapat diketahui bahwa selama pemerintahannya, menghadapi berbagai masalah, diantaranya pemberontakan di salah satu daerah Kesultanan Buton yakni Kulisusu, yang menelan korban dan menghabiskan cadangan senjata, katanya.

            Selain itu, kata Surjadi, juga menceritakan terjadinya kebakaran hebat di Kesultanan Buton yang menghabiskan kompleks Istana Wolio dan rumah-rumah pejabat serta gudang mesiu dalam surat itu, musibah terjadi tahun 1792. (zah)