13 November 2011


“Saat ini, yang paling tepat jadi Presiden adalah Pak Prabowo Subianto”. inilah kalimat yang kerap diungkap Pak Lani, seorang Bos Warung Tegal (Warteg) sekaligus distributor aneka minuman mineral depan kos-an saya di bilangan Kalipasir, Cikini-Jakarta Pusat. Entah apa yang melatarbelakangi pikiran Pak Lani, hingga beliau berkata seperti itu. Saya hanya bertanya-tanya dalam hati, apakah karena obrolan setiap malam di warungnya berbicara tentang sosok Pak Prabowo, sehingga Pak Lani terbawa arus? 
Mungkin jawabannya Iya, tetapi bisa juga tidak. Sebab Pak Lani tiap harinya sibuk dengan urusan bisnisnya dan tak suka berpolitik. Saya hanya menduga, Pak Lani belajar dari pengalaman perjalanan ‘kepemimpinan nasional’ yang dirasakannya dari masa ke masa, ketika ia memulai hidup sebagai ‘penjual gendongan’ di seputaran Taman Ismail Marzuki (TIM) belasan tahun silam. Saya juga menduga, jika sebenarnya sosok seperti Pak Lani inilah yang bisa disebut pelaku ‘ekonomi kerakyatan’, yang diimpikan Pak Prabowo melalui visi besarnya membangun negeri ini ketika ia dipercaya Rakyat Indonesia sebagai Presiden.

Mengapa saya sebut sebagai sosok pelaku ekonomi kerakyatan? Jawabannya sederhana. Meski Pak Lani terbilang sukses, tetapi nilai-nilai sosial kemasyarakatannya tetap terjaga. Meski ia sibuk, tetapi ada saja waktu untuk bersilaturrahim dengan tetangganya. Sesuatu yang berbeda dengan sebagian besar konglomerat Jakarta yang lebih sibuk dengan ‘ketidakpeduliannya’ pada lingkungan sekitarnya. Pak Lani, masih bisa mengajak kami berempat ke Gelora Bung Karno-Senayan secara gratis untuk menyaksikan pertandingan Timnas versus Thailand, tadi malam.

Di mobilnya, diam-diam saya berdoa, semoga Pak Lani tidak berubah sikap di tengah kesuksesannya. Semoga Pak Lani tetaplah Pak Lani yang sekarang, yang sosial, yang merakyat, yang ‘pusing’ karena keinginannya agar anak-anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya, dan yang terpenting, peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tapi maaf! Jangan Anda datang ke Pak Lani menawarkan Partai politik, sebab sama sekali ia tak suka berpolitik. Datanglah padanya berbicara tentang kedamaian, atau berbicara tentang sosok. Pemimpin yang bisa memberi keamanan dan kenyamanan. Maka Pak Lani akan menjawab; “Pak Prabowo!”

Sebagai pengagum Pak Prabowo, saya terkadang berfikir panjang bahwa belakangan ini Pak Prabowo telah ‘membumi’, bukan hanya dikalangan elit bangsa ini. Tetapi juga kalangan masyarakat lapis bawah. Dari pengojek, pengusaha warteg, sopir taxi, hingga kawan-kawan kampus saya yang kerap membahas fenomena politik Pak Prabowo. Tentu dalam kajian-kajian ilmiah. Bahkan seorang dosen saya, yang mengajarkan studi ‘Pemasaran Politik’ dengan lantang berkata “Elektabilitas Pak Prabowo akan terus bergerak naik, sepanjang ia mampu memaksimalkan pencitraannya melalui iklan above the line dan below the line. Ketika seorang mahasiswa menanyakan tentang posisi Pak Prabowo yang masih terus ‘membujang’, dosen saya bilang “ Soal itu mah gampang. Andai saja Pak Prabowo pasang iklan mencari istri, maka jutaan wanita akan datang padanya, saya pikir ini bukan masalah pada tokoh sekelas Pak Prabowo, bahkan bisa jadi ini juga strategi politik beliau,” katanya menduga.

Gardu Prabowo, dan Imaginer 08
Sebelum di ajak nonton oleh Pak Lani, siangnya saya bertandang ke kantor ‘Gardu Prabowo” yang terletak di Jalan Kendal No. 5 Menteng, Jakarta Pusat setelah dijemput rekan Joe Wiston Rumangit, pemuda asal Manado, yang juga aktivis Gardu Prabowo. Kedatangan saya ke sana memenuhi ‘undangan’ Bang Andy Ahmad Yusuf, Sekjen Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gerakan Rakyat Pendukung Prabowo Subianto atau disingkat ‘Gardu Prabowo”. Awalnya saya menulis ‘Gardu’ itu singkatan dari ‘Garuda Muda’ padahal bukan. Saya sedikit malu, karena ke sok tahuan saya.

Undangan Bang Andy, menjadi ‘litsus’ bagi saya yang menulis blog ‘Pena untuk Jenderal’. Bang Andy ingin mengetahui siapa dan bagaimana latar belakang saya. Maklum, ternyata saya (alhamdulillah) dijadikan sebagai salah satu pemateri di HUT Gardu Prabowo 30 November 2011 mendatang. Tentu ini menjadi kehormatan besar bagi saya yang sebenarnya lebih cocok disebut ‘penulis kampung’ atau bahkan ‘kampungan’, jika disandingkan dengan pemateri ilmiah lainnya yang diundang, yakni Bapak Hashim Djoyohadikusumo (adik Pak Prabowo), Bapak Prof. Dr. Ir. Suhardi, M.Sc (Ketua Umum DPP Partai Gerindra), Bapak Prof. Dr. Koeswara (Dosen LEMHANAS), apalagi menjadi pemateri di tengah kehadiran ‘Sang Presiden 2014’ bersama ratusan kader Partai Gerindra dari berbagai penjuru di Indonesia.

Selama hampir 4 jam lamanya di kantor Gardu Prabowo, saya banyak mencermati sikap orang-orang dekat Pak Prabowo itu, begitu fanatiknya, begitu cintanya pada sosok Prabowo Subianto, dan yang lebih penting dari semua itu, bahwa kader-kader Pak Prabowo, nasionalisme-nya di mata saya luar biasa. Mereka tidak sekedar mencintai Pak Prabowo, tetapi mereka ‘hidup mati’ demi Indonesia Raya. Setiap bertemu, salam ‘merah putih’ menggema di setiap ruangan.

Satu hal yang saya cermati bahwa sebutan ‘08’ adalah bahasa keseharian mereka ketika mereka menyebut nama Pak Prabowo. Saya tak bertanya lagi dengan imaginer 08 ini, sebab Bang Andy telah membisiki saya bahwa sebutan ‘08’ adalah ‘nama sandi radio’ Pak Prabowo ketika aktif menjadi Kopassus, dan nama itu begitu melekat pada mereka, karena banyak pengurus dari Gardu Prabowo adalah purnawirawan TNI, bahkan beberapa diantara mereka lebih memilih ‘pensiun dini’ dari pekerjaannya untuk mengabdikan pemikirannya semata untuk sosok Prabowo Subianto. Saya berkata dalam hati “betapa hebat kepemimpinan Pak Prabowo, sehingga ada yang rela mencurahkan hidupnya untuk selalu bersama Pak Prabowo, di manapunn dan kapanpun”.

“Bapak (baca : Prabowo Subianto) itu orangnya sangat disiplin, pembersih, dan amat peduli dengan kesehatan orang banyak. Jangan sekali-kali merokok jika bersama beliau. Bahkan kantor juga harus bersih dari rokok. Bapak bilang, mending uang kamu itu di sumbangkan ke Panti Asuhan, ketimbang harus dibakar sia-sia” tegas Bang Andy juga Joe dan kawan-kawan lainnya.

Dari cerita kader-kader unggulan Pak Prabowo inilah, saya menangkap imaginasi kehidupan seorang Jenderal Prabowo Subianto, bila ia begitu meng-impikan rakyat Indonesia yang punya kedisiplinan hidup, yang terjamin kesehatan jiwa dan raganya. Mungkin inilah, mengapa kemudian Pak Prabowo menggaungkan revolusi putih, sebuah gerakan dan ajakan ‘minum susu’ bagi anak-anak Indonesia. Sebuah pikiran sederhana tapi sangat tepat untuk mewujudkan manusia Indonesia yang tangguh. Sekaligus sindiran bagi penikmat rokok agar mengubah kehidupannya dari ‘merokok’ menjadi ‘peminum susu’. (kalau kalimat ini, hanya imaginasi saya belaka).

Banyak hal yang saya ingin ceritakan dari pengalaman hari ini. Namun saya kesulitan merangkainya menjadi sebait kata-kata, karena kekaguman yang berlebihan dan tak bisa lagi saya ungkapkan. Saya seolah dipaksa oleh otak saya untuk ‘membuat satu keputusan’ untuk terus menulis dan menulis. Tapi saya teringat pesan dari Pak Amirul Tamim, Walikota Baubau, Sulawesi Tenggara. “Janganlah membuat keputusan di saat Anda terlalu merasa senang, dan jangan pula membuat keputusan di saat Anda bersedih, sebab hasilnya tidak akan pernah maksimal”. Saya pun cukup menulis sampai di sini dulu, sampai emosional saya kembali ‘normal’.

Selamat Pagi Indonesia Raya!

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX